Rabu, 13 Juni 2012

Asal - Usul Reog Ponorogo dan Perjalanannya

Reog Ponorogo adalah ikon budaya kebanggaan Kabupaten Ponorogo. Tidak ada yang tahu pasti apa arti kata ‘reog’ itu. Ada yang bependapat bahwa ‘reog’ berasal dari kata Jawa ‘rèyog’, yang terkadang mengalami repetisi menjadi ‘rèyag-rèyog’. Dalam bahasa Jawa, ‘rèyog’ dan ‘rèyag-rèyog’, berarti sesuatu yang berayun atau bergerak menyamping bergantian ke setiap sisi.

Hubungan kata ‘rèyog’ dengan Reog Ponorogo, terletak pada gerakan baronganDhadhak Mêrak’ ketika dimainkan. ‘Dhadhak Mêrak’ berupa kepala macan di bawah seekor burung merak yang sedang mengembangkan keindahan ekornya. Wujud ‘Dhadhak Mêrak’ ketika dimainkan memang sangat atraktif, dengan gerakan yang gesit dan lincah menyambar-nyambar. Nah, dari gerakan ‘Dhadhak Mêrak’ yang meliuk dan menyambar ke sana ke mari itulah kemungkinan nama Reog Ponorogo bermula.

Selain Reog Ponorogo, ada juga kesenian Reog Tulungagung dan Reog Sunda. Reog Tulungagung adalah kesenian yang berkembang di Kabupaten Tulungagung, yang melibatkan beberapa pemain gendang berukuran kecil, yang bergerak menari bergoyang meliuk-liuk, sambil bergantian menabuh gendang. Adapun, Reog Sunda juga masih mirip dengan Reog Tulungagung, namun ditambah dengan sya’ir dan dialog berbahasa Sunda.

Asal Usul Reog Ponorogo



Sejarah awal-mula kemunculan kesenian Reog Ponorogo masih belum dapat direkonstruksi secara rinci. Namun, dari cerita rakyat yang berkembang di daerah Ponorogo, kita dapat merunut kesenian Reog Ponorogo berdasarkan legenda tokoh Bathara Katong, Ki Ageng Surya Ngalam, dan Ki Ageng Mirah.

Dahulu, pada masa Majapahit akhir, bertahtalah Sang Prabhu Kertabhumi. Sang Raja mempunyai istri cantik dari kerajaan Cina, yang biasa disebut Putri Cina. Dalam cerita rakyat, tokoh Putri Cina sering rancu dengan tokoh Putri Cempa. Dikisahkan, bahwa Raja Majapahit itu sangat sayang kepada istrinya, putri Raja Cina yang sulit disamai kecantikannya. Karena rasa sayangnya itu, hampir semua permintaan Sang Putri Cina selalu dikabulkan.

Ada ahli sastra dari pulau Bali, yang dipanggil ke Majapahit karena kehebatannya. Sastrawan yang bernama Kutu ini, diangkat menjadi Pujangga Anom di Majapahit. Dalam bahasa Jawa kuna, ‘pujangga’ sering dilafalkan dengan ‘bujangga’. Sang Bujangga Anom lalu dianugerahi tanah Pêrdikan (wilayah yang dibebaskan dari pajak) Wengker (sekarang menjadi Ponorogo) karena jasa dan kesetiaannya kepada Majapahit, bergelar Ki Gedhe Surya Bhuwana atau Ki Ageng Surya Ngalam.



Bujangga Anom Majapahit sekaligus Ki Gedhe di Pêrdikan Wengker itu, lambat laun menjadi muak melihat perilaku Putri Cina yang sangat mendominasi keputusan Raja Majapahit. Sudah seringkali Sang Raja diperingatkan akan kemungkinan kewibawaannya di mata rakyat dapat merosot bila terus menuruti Sang Putri Cina, tetapi tetap tak dihiraukannya.

Sang Bujangga Anom kemudian memutuskan untuk berdiam di Perdikan Wengker, dan tidak akan pernah menghadap rajanya di Trowulan, sampai Raja Majapahit itu bersikap tegas kepada istrinya itu. Sang Raja sangat sedih kehilangan pujangganya yang pandai, sekaligus marah besar karena merasa dikhianati oleh salah seorang pejabatnya.

Tiga tahun sudah, kejengkelan mendera Sang Bujangga Anom. Tiga tahun pula dia berusaha menyadarkan rajanya dengan pesan-pesan yang dibungkus karya seni. Ia membuat tontonan berupa tokoh yang memakai topeng macan, dengan seekor burung merak di atas kepalanya, sedang memamerkan keindahan bulu-bulu ekor. Lalu ada tokoh yang memakai topeng buruk rupa, sedang berusaha menggangu tokoh pertama. Sepanjang pertunjukan itu, selalu dikawal oleh para pendekar yang dikatakan setangguh ‘warak’ (dalam bahasa Jawa kuna berarti hewan badak).

Tokoh yang memakai topeng macan dengan burung merak di atasnya, menggambarkan Raja Majapahit yang sakti bagaikan harimau tetapi tunduk terhadap Putri Cina yang cantik seperti merak. Sedangkan, tokoh yang memakai topeng buruk rupa dan selalu mengganggu tokoh pertama, menggambarkan Sang Bujangga Anom yang berusaha memperingati Raja Majapahit namun  selalu diabaikan. Adapun, Para pengawal pertunjukkan yang merupakan orang pilihan yang sehebat binatang ‘warok’, menggambarkan barisan tentara Majapahit yang gagah perkasa.



Murka Raja Kertabhumi tak dapat dibendung lagi, setelah mengetahui pujangganya yang menjadi Ki Ageng Wengker tidak pernah menghadiri upacara di Majapahit. Sedangkan dalam tata negara Majapahit, seorang pejabat dikatakan makar bila tak menghadap dalam upacara tahunan kerajaan sebanyak tiga kali. Sang Raja bertambah marah, ketika mendengar Ki Ageng Wengker sudah berani membuat tontonan yang menyindir dirinya.

Raja Majapahit memerintahkan putranya dari selir Putri Bagelen yang bernama Raden Talijiwa, untuk menggempur Wengker yang dianggap memberontak kepada Majapahit. Pangeran Talijiwa hanya membawa pasukan kecil, karena Pêrdikan Wengker dianggap lemah, dan dilarang pulang sebelum menang. Namun setelah menghadapi pasukan Wengker, ternyata dugaan tersebut salah. Pasukan Majapahit hancur kocar-kacir oleh para ‘warak’ pertunjukan, yang ternyata adalah para pendekar sakti. Sedangkan, Sang Pangeran kalah oleh kesaktian keris pusaka andalan Ki Ageng Kutu.

Tubuh Raden Talijiwa, yang dibiarkan tergeletak karena dikira sudah mati oleh Ki Ageng Surya Ngalam, malah dirawat oleh putri Ki Ageng Kutu sendiri, yang jatuh cinta akan ketampanan dan keberanian pangeran dari Majapahit itu. Pangeran muda tersebut disadarkan dari pingsannya dan disembuhkan luka-lukanya, di sebuah pondok yang tersembuyi di pinggir hutan. Selama masa perawatan, Raden Talijiwa pun akhirnya jatuh cinta kepada anak perempuan Ki Ageng Surya Ngalam.



Setelah pulih kekuatannya, Raden Talijiwa lalu pamit kepada putri Ki Gedhe Kutu untuk bertapa di telaga Ngebel, demi mendapat petunjuk Dewata. Dalam tapa kungkumnya (berendam di air), Raden Talijiwa mendengar wangsit bahwa kelak akan ada orang yang membantunya menjadi penguasa semulia dewa (dalam bahasa Jawa Kuna yaitu: ‘bathara katong’) di tanah Wengker.

Alkisah di padepokan Kangjeng Sunan Kalijaga, seseorang telah dipersiapkan untuk membantu pangeran dari Majapahit berjuang menggapai takdirnya. Kiyai Mirah diperintahkan oleh gurunya, untuk mengajarkan Islam kepada Raden Talijiwa. Kangjeng Sunan Kalijaga berpesan kepada muridnya, bahwa kelak Pangeran Talijiwa akan berandil besar dalam mengembangkan Islam di wilayah Wengker dan sekitarnya.

Kaget Sang Pangeran Majapahit, ketika melihat ada orang yang telah menunggunya di pinggir telaga. Dalam perbincangan mereka, Kiyai Mirah menyatakan kesanggupannya untuk membantu tugas Raden Talijiwa. Selama pertemuan itu, Pangeran Talijiwa sangat tertarik dengan ajaran Islam, karena kepandaian Kiyai Mirah dalam menjelaskan ilmu kehidupan. Akhirnya pangeran Majapahit itu menyatakan diri masuk Islam.

Kiyai Mirah menyarankan Raden Talijiwa agar merayu putri Ki Gedhe Kutu untuk mengambil keris pusaka ayahnya, supaya tugas negara dari Majapahit dapat segera terpenuhi. Kemudian pangeran muda itu segera menemui kekasihnya, dan memintanya untuk mengambilkan keris ayahnya demi tercapai cita-cita mereka untuk segera bersatu.

Pangeran Talijiwa lalu mendatangi banjar Pêrdikan Wengker, beserta para prajurit Majapahit yang selamat dari pertempuran terdahulu. Lemas lunglai Ki Ageng Surya Ngalam, ketika mendapati keris pusakanya telah berpindah tangan. Akhirnya ia menyerah, dan mengikhlaskan putri satu-satunya untuk dinikahi oleh putra rajanya itu. Tiada yang tahu nasib Ki Ageng Surya Ngalam selanjutnya. Ada yang mengatakan ia bunuh diri, ada yang menyebutkan ia dibawa ke Majapahit untuk dihukum, ada pula yang berkata bahwa ia pulang menyepi ke Bali.


Raja Kertabhumi gembira menerima kemenangan putranya itu. Pêrdikan Wengker lalu dihadiahkan kepada Pangeran Talijiwa, dan dititahkan menjadi sebuah kadipaten (kerajaan kecil) di bawah Majapahit. Di Wengker, Pangeran Talijiwa dengan gelar Kangjeng Adipati Bathara Katong, membangun kadipaten baru dengan nama Ponorogo (dalam bahasa Jawa ‘panaraga berarti sadar akan kesejatian dirinya). Sedangkan banjar Pêrdikan Wengker lama, dihadiahkan kepada Kiyai Mirah, yang kemudian bergelar Ki Ageng Mirah.

Ki Ageng Mirah berinisiatif untuk tetap melestarikan kesenian ciptaan Ki Ageng Surya Ngalam, dengan sedikit perubahan. Dikaranglah cerita yang bergenre Cerita Panji, yang memang sangat populer pada zaman Majapahit. Dalam cerita itu, tersebutlah seorang putri cantik yang mau menikah bila ada pemuda yang dapat menghadirkan hewan berkepala dua. Tiada seorang pun dari para raja dan pangeran yang mampu memenuhi sayembara tersebut.
Alkisah, ada seorang raja bernama Prabhu Singabarong yang hendak mengikuti sayembara. Di tengah perjalanan, bertemu dengan serombongan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Pangeran Panji Kelana Sewandana, yang juga berniat memenangkan sayembara. Mereka berdua segera terlibat dalam sebuah pertempuran seru. Karena sama-sama sakti, Raja Singabarong lalu bertiwikrama menjadi siluman yang sakti serupa macan sekaligus luwes seperti merak.


Pangeran Panji Kelana Sewandana kemudian menggunakan cemeti pusakanya untuk meringkus siluman berkepala harimau dan merak itu. Raja Singabarong yang berperang bersama para prajuritnya dan punakawannya yang bernama Ki Bujangganong itu, takluk oleh kesaktian cemeti andalan musuhnya. Alhasil, Panji Kelana Sewandana berhasil memenangkan sayembara, ketika menghadirkan Raja Singabarong yang berwujud siluman berkepala dua.

Macan merak yang menyindir Raja Kertabhumi, diubah menjadi tokoh Raja Singabarong. Tokoh yang menggambarkan Bujangga Anom yang berusaha memperingati Raja Majapahit, diubah menjadi punakawan Ki Bujangganong. Para ‘warak’ berubah menjadi ‘warok’, yang menjadi pendekar pelindung Pêrdikan Wengker. Lalu muncul tokoh tambahan Panji Kelana Sewandana yang bersenjata cemeti, diringi oleh barisan kuda lumping yang menggambarkan pasukan berkuda. Melihat gerak yang ditampilkan para pelaku jenis kesenian khas Ponorogo, Jawa Timur, Reog Ponorogo, terlintas kesan mistis di dalamnya.

Perkembangan Reog Ponorogo

Perkembangan Reog Ponorogo



Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan. Minuman keras dan juga kendalanya. Tak lepas pula kekuatan supra natural. Barung mempertontonkan keperkasaan dalam mengangkat dadak berat seberat sekitar 40 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, aneh, eksotis sekaligus membangkitkan gairah. Tidak hanya satu versi yang diceritakan asal muasal kesenian Reog Ponorogo. Sebuah buku terbitan Pemda Kabupaten Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit.



Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Batera Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan. Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian reog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini. Biar bagaimanapun cerita yang menyebutkan asal usul Reog Ponorogo bersumber yang jelas. Kini kesenian ini tidak hanya dijumpai di daerah kelahirannya saja.

Biasanya satu group Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya. Kedasyatan Reog Ponorogo dalam mengumpulkan dan mengerakkan massa sempat membuat sertifikat sebuah organisasi sosial politik sejak tahun 1950-an untuk mendomplengnya sebagai alat. Tahun 1955 misalnya terbentuk cakra cabang kesenian reog agama milik NU, untuk memenangkan partainya pada pemilu. Kemudian Bren Barisan Reog Nasional atau BRP atau Barisan Reog Ponorogo milik Tegak. Hal ini membuat Reog Ponorogo dalam perkembangannya nyaris tiba jurang kematian.

Pada tahun 1965 sampai 1971 saat pemerintah menumpas PKI, BRP dibubarkan dan imbasnya membuat reog-reog lain ikut ujungnya. Ribuan unit reog terpaksa dibakar akibat terpaan isu kesenian ini menjadi penggalak komunis dalam mengumpulkan dan mengerakan massa. Para pelaku kesenian ini akhirnya menjadi pekan atau pencari rumput. Beruntung di akhir 1976, Reog Ponorogo kembali dihidupkan dengan pendirian INTI (Insan Tagwa Illahi Ponorogo). Belajar dari sejarah ini, banyak pelaku seni ini yang tidak ingin lagi ditunggangi. Biarlah reog menjadi milik rakyat tanpa batasan dan diklaim milik golongan tertentu. Reog Ponorogo terus berkibar hingga sekarang, bahkan sejumlah pengembangan bentuk dalam pengarapan kesenian ini banyak dilakukan. Terutama dengan menjamurnya lembaga formil untuk mengembangkan kesenian reog dalam bentuk konterporer. Ini soal kesenian yang terlanjur dicap berbau mistis ini, upaya pelestarian dan pemulihan melalui festival rutin tahunan terkadang justru mengorbankan kemurnian dan kekhasan kesenian itu sendiri. Padahal unsur mistis, justru merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

Banyak hal yang terkesan mistis dibalik kesenian Reog Ponorogo. Warok misalnya, adalah tokoh sentral dalam kesenian ini yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup kontroversial. Tidak sedikit orang yang menganggap profil warok telah menimbulkan citra kurang baik atas kesenian ini. Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog. Warok Tua, adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Kendati demikian, kehidupan warok sangat bertolak belakang dengan peran yang mereka mainkan di pentas.

Konon warok hingga saat ini dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok, seperti pendekatannya dengan minuman keras dan dunia preman. Untuk menjadi warok, perjalanan yang cukup panjang, lama, penuh liku dan sejuta goda. Paling tidak itulah yang dituturkan tokoh Warok Ponorogo, Mbah Wo Kucing. Untuk menuju kesana, harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok Tua, sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Petuah yang disitir seorang warok tua sebenarnya sudah sering didengar namun kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah bertenaga.

Dulunya warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yakni lelaki belasan tahun yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Seolah menjadi kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Apalagi ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan bahkan dengan istri sendiri, bisa menjadi pemicu lunturnya seluruh kesaktian. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan adalah ciri khas relaksi khusus antara gemblak dan waroknya.

Sebegitu jauh persepsi buruk atas warok, diakui mulai dihilangkan. Upaya mengembalikan citra kesenian ini dilakukan secara perlahan-lahan. Profil warok saat ini misalnya mulai diarahkan kepada nilai kepimpinan yang positif dan menjadi panutan masyarakat. Termasuk pula memelihara gemblak yang kini semakin luntur. Gemblak yang biasa berperan sebagai penari jatilan, kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dulu-dulunya kesenian ini tampil tanpa seorang wanita pun. Selain warok, peran pembarong atau pemanggul darak merak, dalam kesenian Reog Ponorogo, tidak bisa disepelekan. Apalagi kesenian ini nyata mengandalkan kekuatan tubuh dan atraksi akrobatiknya.

Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan dengan gigitannya beban darak merak yakni sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter yang beratnya bisa mencapai 40-an kilogram selama masa pertunjukan. Sekali lagi kekuatan gaib sering dipakai pembarong untuk menambah kekuatan ekstra ini.

Semisal, dengan cara memakai susuk, di leher pembarong. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu. Wahyu inilah yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Bila tak diberkati wahyu, tarian yang diperagakan seorang pembarong akan tampak tidak enak dan tidak pas untuk ditonton. Semula banyak orang tua di Ponorogo khawatir, akan kelangsungan kesenian khas Ponorogo ini. Pasalnya kemajuan jaman akan membuat pemuda di Ponorogo tidak akan mau lagi ikut berreog. Apalagi menjadi pembarong.

Namun kini telah banyak lahir pembarong muda, yang sedikit demi sedikit meninggalkan hal-hal yang berbau mistis. Mereka lebih rasional. Seorang pembarong, harus tahu persis teori untuk menarikan dadak merak. Bila tidak, gerakan seorang pembarong bisa terhambat dan mengakibatkan cedera. Setiap gerakan semisal mengibaskan barongan ada aturan bagaimana posisi kaki, gerakan leher serta tangannya. Biasanya seorang pembarong tampil pada usia muda dan segar. Menjelang usia 40-an tahun, biasanya kekuatan fisik seorang pembarong, mulai termakan dan perlahan dia akan meninggalkan profesinya. Saat ini, banyak pembarong yang menyangkal penggunaan kekuatan gaib dalam pementasan namun sebenarnya kekuatan gaib adalah elemen spiritual yang menjadi nafas dari kesenian ini. Sama halnya dengan warok, kini pun persepsi pembarong digeser. Lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional.

Pementasan Seni Reog



Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa acara seperti khitanan, pernikahan, dan hari besar nasional. Seni reog ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian tarian, sekitar 2 sampai 3 rangkaian tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 orang pria yang bertubuh gagah berani dengan pakaian yang serba hitam dan dengan muka yang dipoleh merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 orang gadis yang membawa kuda. Pada awalnya (pementasan reog tradisional) tarian ini dibawakan oleh pria yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tarian Jaran Kepang, yang sangat berbeda dengan tarian kuda lumping. lalu tarian pembukaan yang lainnya biasanya dibawakan oleh anak kecil yang beraktraksi salto dan membawakan adegan lucu yang menghibur.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-150 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Warok



Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan. Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik”.“Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).

Syarat menjadi Warok



Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. 


Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Gemblakan


Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.




Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.


Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.


Pembarong

Selain warok, peran pembarong atau pemanggul darak merak, dalam kesenian Reog Ponorogo, tidak bisa disepelekan. Apalagi kesenian ini nyata mengandalkan kekuatan tubuh dan atraksi akrobatiknya. Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan dengan gigitannya beban darak merak yakni sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter yang beratnya bisa mencapai 100-an kilogram selama masa pertunjukan.


Sekali lagi kekuatan gaib sering dipakai pembarong untuk menambah kekuatan ekstra ini. Semisal, dengan cara memakai susuk, di leher pembarong. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu. Wahyu inilah yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Bila tak diberkati wahyu, tarian yang diperagakan seorang pembarong akan tampak tidak enak dan tidak pas untuk ditonton.

Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog Nasional. Hingga saat ini Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya.

Bujang Ganong



Bujang Ganong juga memiliki titik sentral dalam pertunjukan Reog. Bujang Ganong berperan sebagai pengalur cerita dalam pertunjukan. Bujang Ganong juga biasanya beratraksi di dekat reog agar reog tersebut bereaksi untuk menghampiri Bujang Ganong. Bujang Ganong juga beratraksi lucu agar menarik tawa penonton. Biasanya mereka melakukan kesalahan-kesalahan agar penonton tidak bosan dan merasa monoton. Dalam alur cerita reog, tokoh bujang anom tersebut mengambarkan seseorang yang memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi melebihi warok tetapi berkarakter lucu dan selalu membuat kekonyolan saat beratraksi. Bujang Ganong merupakan gambaran dari Bujangga Anom yang berperan untuk memperingati Raja Majapahit dari pemberontakan akan tetapi gagal karena tertahan oleh pasukan raja. Karena itu dalam perannya Bujang Ganong sering meledek Warok yang menggambarkan pasukan Raja yang kuat.

Untuk memainkan peran sebagai Bujang Ganong tidak mudah. Karena peran tersebut mengharuskan pemainnya untuk pintar beratraksi salto dan berbadan atletis. Apabila tidak sesuai dengan persyaratanya akan menyebabkan kegagalan dalam atraksi reog ponorogo. Atraksi salto wajib dimainkan karena itulah seni dari peran Bujang Ganong.

Kesimpulan 

Indonesia memiliki seni budaya yang beranekaragam yang tersebar di seluruh wilayah tanah air, dimana masing-masing daerah mempunyai seni budaya tradisional yang khas, seperti Reog Ponorogo dari kabupaten Ponorogo. Dalam kehidupan masyarakat, Reog Ponorogo digunakan sebagai pengikat pergaulan sosial, perarakan pengantin pada acara perkawinan, aset pariwisata serta sarana kritik bagi penguasa.

Karena itu kita harus menjaga kelestariannya karena sekarang ini masyarakat mulai banyak yang melupakan tradisi kebudayaan Indonesia. Masyarakat lebih bangga terhadap budaya asing dibandingkan budaya sendiri. Bahkan budaya kita juga bayak yang diklaim oleh bangsa asing salah satunya Reog Ponorogo ini yang diklaim oleh Malaysia. Padahal Reog merupakan budaya asli Indonesia. Jadi siapa lagi yang harus mempertahankan budaya negeri, kalau bukan kita sebagai generasi muda yang harus tergerak hatinya untuk mempertahankan budaya tersebut.


Berikut Video Reog Ponorogo - Asli Indonesia :

2 komentar:

  1. seni budaya Indonesia memang sangat kaya. Informasi yang bagus gan. mohon mampirnya di blog sy ya di Media Budaya

    BalasHapus
  2. seni budaya nasional harus kita jaga dan lestarikan, hidup Indonesia...ditunggu kunjungannya ya gan di blog sy Media Budaya

    BalasHapus