Ukuran Sukses bukanlah sewaktu kita berada di posisi puncak...sukses itu justru diukur dari seberapa jauh kita dapat melambung setelah kita menyentuh dasar
Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Maret 2013
Senin, 25 Februari 2013
Malaysia Mengaku Sangat Butuh Jokowi
Kondisi Malaysia semakin memanas menjelang pemilihan umum April mendatang. Warga Malaysia menyoroti kondisi perpolitikan di negerinya yang semakin memburuk.
Mereka mengaku menginginkan sosok seperti Joko Widodo (Jokowi), gubernur Ibu Kota Jakarta, saat ini.
Syed Nadzri Syed Harun, seorang kolumnis Malaysia, menulis tentang kondisi negeri jiran itu menjelang pemilu dikaitkan dengan sepak terjang Jokowi. Tulisan Syed Nadzri Syed Harus dilansir koran The Malay Mail, Selasa (19/2).
Tulisan Nadzri berjudul, Wanted badly: A Malaysian Jokowi. Dalam tulisannya Nadzri mengutip kisah Jokowi dalam majalah The Economist dan surat kabar The Wall Street Journal akhir Januari lalu. Dia mengatakan, Jokowi yang baru menjabat Gubernur Jakarta akhir Oktober tahun lalu lebih menekankan kerja nyata ketimbang sibuk dengan urusan politik.
"Jokowi bahkan mau masuk ke gorong-gorong dan mengunjungi daerah kumuh serta berbicara dengan rakyat miskin tentang akses kesehatan dan pendidikan," tulis Nadzri.
Jokowi, kata dia, juga langsung turun tangan menangani banjir besar yang merendam Jakarta bulan lalu. "Dia lebih menekankan aksi nyata untuk menangani banjir," demikian tulisan Nadzri, beberapa mengutip artikel The Economist dia.
Pada 8 Januari lalu Jokowi juga terpilih sebagai Wali Kota terbaik ketiga di dunia ketika dia menjabat sebagai wali kota Solo.
Tak hanya itu, Nadzri menyoroti kondisi kemacetan parah yang selalu melanda Ibu Kota Kuala Lumpur, Johor Baru, dan Penang, hingga menyebabkan kualitas kehidupan menurun. Dia mengangkat kisah Jokowi yang akan mewujudkan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta untuk mengatasi kemacetan.
Nadzri kembali menegaskan buruknya kondisi Malaysia saat ini yang banyak dipimpin oleh orang-orang yang lebih mementingkan urusan politik ketimbang aksi nyata.
"Kita butuh Jokowi di sini. Dan seperti pernah dia katakan, dia tak ingin jadi presiden. Dia hanya menjalankan pekerjaan mulia."
Selasa, 19 Juni 2012
Maskapai terbesar Malaysia bangkrut
Pramugari MAS. (azuanzahdi.com)
Maskapai terbesar di negeri jiran,
Malaysian Airlines (MAS), bangkrut. Krisis keuangan serupa juga dialami
pabrik otomotif Proton.
Kantor berita Malaysia Bernama melaporkan, Senin (18/6), informasi ini dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Kamar Dagang dan Industri Malaysia Syed Hussein al-Habsyi. Khusus untuk kasus MAS, dia meminta direksi dan karyawan berdialog mencari jalan keluar terbaik mengatasi kebangkrutan. "Dialog terbuka antara karyawan dan manajemen harus segera dilakukan," ujar Syed Hussein.
Sumber Bernama, pengamat investasi di salah satu bank terbesar Malaysia, memberi bocoran kebangkrutan MAS dan Proton. Kedua perusahaan terkemuka itu sekarang mampu bertahan hanya karena sokongan subsidi pemerintah. "Tapi sulit melakukan swastanisasi dua perusahaan itu karena ada gengsi negara dan pelayanan publik dipertaruhkan saat ini," ujar sumber itu.
Akibat kebangkrutan, direksi MAS berupaya memindahkan kantor operasional mereka dari kompleks Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Kota Subang Jaya, Negara Bagian Selangor. Langkah ini ditentang serikat pekerja yang merasa perusahaan pelat merah ini bakal digadaikan kepada pihak asing.
Seandainya niatan direksi itu tidak ditentang, aset-aset di Subang akan disewakan ke pihak ketiga sehingga memberi tambahan biaya buat perusahaan ini.
MAS pernah hendak diakuisisi Air Asia, namun rencana itu batal karena tekanan publik, politikus, dan serikat pekerja. Sejak lima tahun terakhir, pendapatan maskapai ini terus turun. Kenaikan harga avtur dan persaingan dengan penerbangan murah membuat MAS mencatat kerugian 242 juta ringgit Maret lalu.
Nasib Proton sebelas dua belas, ketika dua tahun lalu pernah rugi hingga 61 juta ringgit. Kini pabrik mobil nasional didirikan pada 1983 ini telah diakuisisi oleh Badan Penyehatan khusus DRB Hicom Bhd.
Kantor berita Malaysia Bernama melaporkan, Senin (18/6), informasi ini dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Kamar Dagang dan Industri Malaysia Syed Hussein al-Habsyi. Khusus untuk kasus MAS, dia meminta direksi dan karyawan berdialog mencari jalan keluar terbaik mengatasi kebangkrutan. "Dialog terbuka antara karyawan dan manajemen harus segera dilakukan," ujar Syed Hussein.
Sumber Bernama, pengamat investasi di salah satu bank terbesar Malaysia, memberi bocoran kebangkrutan MAS dan Proton. Kedua perusahaan terkemuka itu sekarang mampu bertahan hanya karena sokongan subsidi pemerintah. "Tapi sulit melakukan swastanisasi dua perusahaan itu karena ada gengsi negara dan pelayanan publik dipertaruhkan saat ini," ujar sumber itu.
Akibat kebangkrutan, direksi MAS berupaya memindahkan kantor operasional mereka dari kompleks Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Kota Subang Jaya, Negara Bagian Selangor. Langkah ini ditentang serikat pekerja yang merasa perusahaan pelat merah ini bakal digadaikan kepada pihak asing.
Seandainya niatan direksi itu tidak ditentang, aset-aset di Subang akan disewakan ke pihak ketiga sehingga memberi tambahan biaya buat perusahaan ini.
MAS pernah hendak diakuisisi Air Asia, namun rencana itu batal karena tekanan publik, politikus, dan serikat pekerja. Sejak lima tahun terakhir, pendapatan maskapai ini terus turun. Kenaikan harga avtur dan persaingan dengan penerbangan murah membuat MAS mencatat kerugian 242 juta ringgit Maret lalu.
Nasib Proton sebelas dua belas, ketika dua tahun lalu pernah rugi hingga 61 juta ringgit. Kini pabrik mobil nasional didirikan pada 1983 ini telah diakuisisi oleh Badan Penyehatan khusus DRB Hicom Bhd.
Ibu tega gigit perut anak di Malaysia
Ilustrasi Ibu dan anak Malaysia. (www.dipity.com)
Kasus kekerasan dalam rumah tangga di
Malaysia kembali terulang. Kakak beradik berusia tiga dan dua tahun
disiksa ibunya dengan cara menggigit perut keduanya, seperti dilansir
dari surat kabar Sinar Harian, Sabtu (26/5).
Ibu berusia 25 tahun yang tidak disebutkan identitasnya itu tinggal di daerah Langkap, Teluk Intan, Malaysia. Dia tidak hanya mengigit kedua perut anaknya, tetapi juga lengan mereka hingga luka.
Buat menutupi luka pada bagian itu, sang ibu memakaikan anaknya kaos lengan panjang berkerah. Sang suami mulai curiga lantaran anaknya sering mengeluh kesakitan. Saat dilihat ternyata lengan mereka penuh luka.
Sontak sang suami langsung membawa kedua anak membawa kedua anaknya ke klinik terdekat. Usaha itu sempat dihalang-halangi sang istri. Setelah sampai, kedua anak itu langsung mendapat perawatan, sementara sang suami melapor ke polisi.
Wakil Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga, dan Masyarakat Datuk Heng Seai Kai meminta agar kedua anak itu dipindahkan ke Rumah Sakit Raja Permaisuri Bainun guna mendapatkan perawatan yang lebih baik. Keduanya kini mengalami phobia dan mesti dirujuk ke bagian kejiwaan.
Seai Kai mengatakan dalam tujuh tahun terakhir, ada 1.624 kasus kekerasan dalam rumah tangga, khususnya penyiksaan kepada anak-anak. 357 kasus melibatkan ayah kandung, sementara 300 lainnya dilakukan ibu kandung. Sisanya, 167 kasus penyiksaan dilakukan ayah atau ibu tiri.
Ayah dan Ibu kedua anak itu kini telah ditahan di Kepolisian Daerah Hilir Perak, Malaysia. Kepala Polisi Goh Hok Liang mengatakan pihaknya kini masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan mendalami motif kejahatannya.
Ibu berusia 25 tahun yang tidak disebutkan identitasnya itu tinggal di daerah Langkap, Teluk Intan, Malaysia. Dia tidak hanya mengigit kedua perut anaknya, tetapi juga lengan mereka hingga luka.
Buat menutupi luka pada bagian itu, sang ibu memakaikan anaknya kaos lengan panjang berkerah. Sang suami mulai curiga lantaran anaknya sering mengeluh kesakitan. Saat dilihat ternyata lengan mereka penuh luka.
Sontak sang suami langsung membawa kedua anak membawa kedua anaknya ke klinik terdekat. Usaha itu sempat dihalang-halangi sang istri. Setelah sampai, kedua anak itu langsung mendapat perawatan, sementara sang suami melapor ke polisi.
Wakil Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga, dan Masyarakat Datuk Heng Seai Kai meminta agar kedua anak itu dipindahkan ke Rumah Sakit Raja Permaisuri Bainun guna mendapatkan perawatan yang lebih baik. Keduanya kini mengalami phobia dan mesti dirujuk ke bagian kejiwaan.
Seai Kai mengatakan dalam tujuh tahun terakhir, ada 1.624 kasus kekerasan dalam rumah tangga, khususnya penyiksaan kepada anak-anak. 357 kasus melibatkan ayah kandung, sementara 300 lainnya dilakukan ibu kandung. Sisanya, 167 kasus penyiksaan dilakukan ayah atau ibu tiri.
Ayah dan Ibu kedua anak itu kini telah ditahan di Kepolisian Daerah Hilir Perak, Malaysia. Kepala Polisi Goh Hok Liang mengatakan pihaknya kini masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan mendalami motif kejahatannya.
Langganan:
Postingan (Atom)










