Tampilkan postingan dengan label prasejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prasejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Kota Prasejarah Tertua di Eropa Ditemukan

Bulgaria ancient town


Di situs kota itu juga ditemukan rumah dua lantai dan tembok pelindung


Ahli arkeologi di Bulgaria mengatakan mereka telah menemukan kota prasejarah tertua di Eropa.

Situs yang dikelilingi dinding batu seperti benteng tersebut berada di kota Provadia dan diduga merupakan kota penghasil garam.

Penemuan di timur laut Bulgaria tersebut dapat menjelaskan temuan sebongkah besar emas murni 40 tahun silam.

Para ahli arkeologi yakin kota itu merupakan rumah bagi 350 jiwa dan berasal dari 4.700 hingga 4.200 sebelum Masehi atau1.500 tahun sebelum peradaban Yunani.

Warga merebus air dari mata air setempat untuk membuat bongkahan garam yang kemudian dijual sebagai pengawet daging.

Garam merupakan komoditas berharga saat itu dan menurut para ahli dapat menjelaskan keberadaan dinding batu yang mengitari kota tersebut.

Sangat menarik



Penggalian di situs itu dimulai pada 2005 dan juga menemukan sisa-sisa rumah dua lantai, serangkaian lubang yang digunakan untuk melakukan ritual, dan gerbang serta bekas-bekas pos penjagaan.

Sebuah tanah pekuburan juga ditemukan di situs itu awal tahun ini dan masih dipelajari oleh para arkeologis.

"Kami tidak berbicara mengenai kota seperti negara-kota Yunani, Romawi kuno atau situs abad pertengahan, melainkan apa yang disepakati oleh para arkeolog sebagai sebuah kota di abad kelima sebelum Masehi," kata Vasil Nikolov, seorang peneliti dari Institut Nasional Arkeologi Bulgaria pada kantor berita AFP.

Ahli Arkeologi Krum Bachvarov dari institut itu mengatakan temuan terakhir tersebut "sangat menarik."

"Dinding besar di sekitar situs yang dibangun sangat tinggi dengan batu.... juga belum pernah ditemukan di situs-situs prasejarah di Eropa timur sejauh ini," kata dia pada AFP.

Tambang-tambang garam serupa di dekat Tuzla di Bosnia dan Turda di Rumania juga membantu membuktikan keberadaan sejumlah peradaban yang juga menambang tembaga dan emas di pegunungan Carpathian dan Balkan pada periode yang sama.

Koresponden Eropa BBC Nick Thorpe mengatakan penemuan terbaru ini hampir bisa dipastikan merupakan penjelasan akan emas yang ditemukan tepat 40 tahun silam di luar kota Varna, yang berjarak 35km.

Minggu, 17 Juni 2012

Ditemukan Kuil dari Zaman Nabi Daud

Para arkeolog berhasil mengungkap satu lagi kuil sisa peradaban kuno dari masa yang tercantum dalam kitab suci Islam dan Nasrani. Kuil tersebut diperkirakan berasal dari zaman Nabi Daud.

Ekskavasi (penggalian) itu dilakukan di sisa-sisa kota Khirbet Qeiyafa yang berusia sekitar 3.000 tahun. Lokasinya berada di jarak sekira 19 mil (30 kilometer) arah tenggara Jerusalem.

Di khirbet Qeiyafa, para arkeolog mengungkap keberadaan tiga ruangan besar berfungsi sebagai kuil serta artifak-artifak, termasuk peralatan, tembikar dan benda-benda pemujaan.



Ketiga kuil itu merupakan bagian dari kompleks bangunan yagn lebih luas. Artifak tersebut juga termasuk lima batu berdiri, dua altar dari batuan basalt, dua tembikar dan dua kuil portabel. Satu kuil portabel tersebut dibuat dari tembikar, sementara satu yang lain dibuat dari batu.

Kuil tersebut mencerminkan gaya arsitektur dari zaman Nabi Daud (King David) dan menjadi bukti pertama persembahan di masa tersebut. Penelitian itu dipublikasikan dalam buku "Footsteps of King David in the Valley of Elah".

Penemuan tersebut menawarkan sebuah petunjuk mengenai Israel kuno yang meyakini satu Tuhan dan melarang penggunaan figur manusia maupun hewan. Pasalnya, kuil yang ditemukan ini tidak menyimpan figur manusia maupun binatang seperti di situs lain. Bahkan tak ada tulang babi yang ditemukan di sana.

"Penemuan ini mengindikasikan populasi Khirbet Qeiyafa menaati dua larangan injil terhadap babi atau gambar. Mereka juga mempraktikkan persembahyangan yang berbeda dengan suku Kanaan atau Philistin," papar arkeolog dari Hebrew University of Jerusalem, Yosef Garfinkel

Jumat, 25 Mei 2012

Jejak Nazi di Megamendung Bogor Jawa Barat


Deretan makam itu tampak asri dan teduh dalam rimbun pohon Kamboja. Hawa terasa sejuk dan segar karena berada di daratan setinggi 1.000 meter di atas permukaan laut Gunung Pangrango menjadi penghias latar pemandangan menjadi semakin indah.

Tugu Makam Tentara Jerman yang gugur dalam perang dunia I di sebuah pegunungan di Megamendung, Bogor, Jawa Barat.


Namun, ini bukan makam warga setempat, nama yang tertera adalah nama asing. Salib menjadi penanda batu nisan makam tersebut. Salib ini pun berbeda bentuknya, yaitu simetris dengan bentuk melebar ke arah setiap ujungnya, hampir seperti kembang empat helai. Eisernes Kreuz atau Salib Besi, itulah nama asli salib ini. Ini adalah salib lambang militer tentara Jerman.

Pemakaman seluas 300 meter persegi ini ada di dalam wilayah perkebunan PTP Nusantara VIII di Cikopo, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Hanya sekitar 70 km ke selatan Jakarta. Namun untuk menuju lokasi, jalannya memang berkelak-kelok lalu melewati dua pesantren.

Pemakaman yang berisi 10 jenazah tentara Jerman ini adalah saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia dalam Perang Dunia II. Namun, warga setempat pun tidak menyadarinya. Mereka justru menduga itu makam orang Belanda. Padahal di dekat pintu masuk pemakaman, ada prasasti dari Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta. 'Deutscher Soldatenfriedhof' atau Taman Makam Tentara Jerman.


Lurah Sukaresmi, Asep Sudayat, juga tidak bisa bercerita banyak. Menurut dia, makam ini sudah ada sejak tahun 1930-an. "Memang orang sini tidak begitu tahu persis sejarah keberadaan mereka ini, tahu-tahu sudah ada. Soalnya dulu ini sulit ditempuh, karena jalanan yang masih berbatu dan baru satu tahun lalu diaspal," jelasnya.

Namun, sejumlah dokumen ilmiah yang ditelusuri detikcom akhirnya bisa mengungkap
kisahnya lebih jelas. Adalah Herwig Zahorka, sejarawan Jerman yang pernah menerbitkan tulisan soal makam ini pada 2001 dalam sejumlah artikel. Menurut Herwig, ini adalah makam para tentara angkatan laut Jerman pada Perang Dunia II. Namun, lokasi ini sudah dimiliki orang Jerman sejak 1920-an.

Adalah kakak beradik dari Jerman, Emil dan Theodor Hellferich yang membeli tanah di Sukaresmi seluas 900 hektar dan membangun perkebunan teh, usai Perang Dunia I. Pada 1926, mereka lalu membangun tugu untuk mengenang teman-teman mereka yang gugur dalam PD I. Tugu itu bertuliskan, 'Dem Tapferen Deutsch-Ostasiatischen Geschwader 1914' atau Armada Jerman-Asia Timur yang Gagah Berani 1914. Nah, selama mereka membangun perkebunan teh, banyak orang Jerman lain yang bergabung dengan mereka. Ada dokter, insinyur, tukang kayu, seniman dan lain-lain. Helfferich bersaudara kembali ke Jerman pada tahun 1928 dan perkebunan teh diurus oleh Albert Vehring.

Akhirnya Perang Dunia II meletus pada 1939. Adolf Hitler yang disokong oleh Partai Nazi mendeklarasikan perang. Belanda ikut diinvasi Jerman. Hal itu pun berbalas di Hindia Belanda. Tentara Belanda menangkapi warga Jerman di Hindia Belanda, termasuk para pengurus perkebunan teh. Mereka dikirim ke kamp tawanan perang dan perkebunan teh mereka diambil paksa oleh Belanda.

Namun hal itu pun tidak berlangsung lama. Jepang yang merupakan sekutu Jerman, menaklukkan Belanda pada 1943. Tentara Jerman pun masuk lagi ke Jawa bersama Jepang, namun rupanya masuknya tentara Adolf Hitler ini tidak tercatat dalam sejarah. Mereka adalah Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) dari armada kapal selam (U-Boot) U-195 dan U-196. Mereka mengambil alih lagi kebun teh di Sukaresmi.

Seperti dicatat sejarah, Jerman dan Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Para tentara Jerman ini pun gugur satu persatu, dan 10 di antaranya dimakamkan di Megamendung. Mereka adalah:

1. Letnan Friederich Steinfeld, meninggal karena disentri dalam tawanan pasukan sekutu
2. Letnan Satu Laut Willi Schlummer, dan
3. Letnan Insinyur Wilhelm Jens, keduanya gugur di tangan pejuang kemerdekaan Indonesia pada 1945 karena disangka tentara Belanda
4. Letnan Laut W Martens, terbunuh dalam perjalanan kereta api Jakarta-Bogor
5. Kopral Satu Willi Petschow, meninggal karena sakit di perkebunan teh mereka
6. Letnan Kapten Herman Tangermann meninggal karena kecelakaan
7. Dr Heinz Haake
8. Eduard Onnen
9 & 10. Dua makam 'Unbekannt' atau tanpa nama.

Rabu, 23 Mei 2012

Jangka Jayabaya

Diterjermahkan oleh Bpk. Isyana Dewa


==R.Ng. Ronggowarsito==
Situs Sri Aji Joyoboyo, Raja Kediri tahun 1135-1157, di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Iki sing dadi tandane zaman kolobendu :
Ini yang menjadi pertanda masa hukuman


a. Lindu ping pitu sedino : gempa 7 x sehari
b. Lemah bengkah : Tanah terbelah (=longsor)
c. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara :Manusia pada ribut, banyak yang menderita sakit
d. Pagebluk rupo-rupo : Penyakit berat bermacam-macam
e. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati : sedikit yang sembuh, kebanyakan mati

Zaman kalabendu iku wiwit yen : Masa hukuman/terguran itu mulai, bila


a. Wis ana kreto mlaku tampo jaran : Ada kereta bergerak tanpa kuda (=mobil/KA)
b. Tanah jawa kalungan wesi : P. Jawa dikelilingi besi (=rel kereta)
c. Prau mlaku ing nduwur awang-awang : Perahu berjalan di angkasa ( =pesawat udara)
d. Kali ilang kedunge : ( Sungai2 menjadi dangkal)
e. Pasar ilang kumandange : Pasar jadi sepi (=pindah ke mall, n perdagangan virtual)
f. Wong nemoni wolak-walik ing zaman : Manusia menemui perubahan jaman
g. Jaran doyan sambel : Kuda mau sambal (=makan yg bukan makanannya)
h. Wong wadon menganggo lanang : Wanita berpakaian pria

Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya. :
Jaman hukuman itu seperti jaman kenikmatan, tapi sebenarnya jaman hancur dan rusaknya dunia


a. Mulane akeh bapak lali anak : Oleh karena itu, banyak bapak lupa pada anaknya
b. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak : Banyak anak berani melawan Orang tua
c. Sedulur pada cidro cinidro : Antar saudara saling mengkhianati/mencelakakai
d. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane : Wanita hilang malunya, pria hilang kegagahannya
e. Akeh wong lanang ora duwe bojo : Banyak pria tak punya isteri
f. Akeh wong wadon ora setia karo bojone : Banyak wanita selingkuh
g. Akeh ibu pada ngedol anake : Banyak para ibu menjual anaknya
h. Akeh wong wadon ngedol awake : Banyak wanita menjual dirinya
i. Akeh wong ijol bojo : Banyak yang beertukar suami/isteri
j. Akeh udan salah mongso : Banyak hujan salah musim (Turun saat kemarau
& sebaliknya)
k. Akeh prawan tuwo : Banyak perawan tua
l. Akeh rondo ngalairake anak : Banyak Janda yang beranak
m. Akeh jabang bayi nggoleki bapake : Banyak anak kecil mencari siapa bapaknya yang sesungguhnya
n. Wong wadon ngalamar wong lanang : Wanita melamar pria
o. Wong lanang ngasorake, drajate dewe : Lelaki merendahkan derajad/martabatnya sendiri
p. Akeh bocah kowar : Banyak anak terlantar
q. Rondo murah regane : Janda murah harganya
r. Rondo ajine mung sak sen loro : Janda hanya berharga sejuta dapat dua/murah
s. Prawan rong sen loro : Perawan dua juta dapat dua
t. Dudo pincang payu sangang wong : Duda pincang laku terhadap Sembilan wanita

Zamane zaman edan


a. Wong wadon nunggang jaran : Perempuan naik kuda
b. Wong lanang lungguh plengki : Lelaki naik sepeda jengki(=motor bebek)
c. Wong bener tenger-tenger : Orang benar malah terdiam
d. Wong salah bungah-bungah : Orang salah bergembira ria
e. Wong apik ditapik-tampik : Orang baik ditolak-tolak
e. Wong bejat munggah pangkat : Orang bejat naik pangkat
f. Akeh ndandhang diunekake kuntul : Banyak burung manyar tapi dikatakan sebagai burung blekok
g. Wong salah dianggap bener : Orang salah dianggap benar
h. Wong lugu kebelenggu : Orang yang apa adanya malah terbelenggu
i. Wong mulyo dikunjara : Orang terhormat dipenjarakan
j. Sing culika mulya, sing jujur kojur : Yang jahat nikmat, orang jujur hancur
k. Para laku dagang akeh sing keplanggrang : Para bisnisman banyak yang tertipu
l. Wong main akeh sing ndadi : Penjudi menjadi-jadi
m. Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali konco : Lupa anak, lupa isteri, lupa tetangga, lupa kawan
n. Duwit lan kringet mung dadi wolak-walik kertu : Duit & keringat Cuma permainan
o. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak : Kartu besar dibuka, tertawa terbahak-bahak
p. Ning mulih main kantonge kempes, Kalau pulang judi, sakunya kosong
q. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes : Mendengar Anak dan isteri menangis tak digubris


Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku.
(Walau seberat apapun, jangan sampai terbawa jaman kalabendu itu)


Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil
(Karena jaman itu akan musna dan digantikan jaman ratu adil, jaman kemuliaan. Karena itu, kuat dan tabahlah, yang ulet, jangan terbawa riaknya jaman. Tunggulah jaman kemuliaan, jamannya ratu adil)

Selasa, 22 Mei 2012

Tak Akan Ada Makam di 'Piramid' Gunung Padang

Situs megalitik Gunung Padang menjadi kontroversi sejak mencuat kabar adanya piramid yang berada di lapisan bawah punden berundak berteras 5 di Gunung Padang. Namun, seorang arkeolog sekaligus ahli Efigrafi membantah bila di bawah lapisan tanah Gunung Padang terdapat piramid laiknya sebuah makam Firaun di peradaban Mesir Kuno.

"Silakan digali, tidak ada itu namanya piramid seperti di Mesir," kata Arkeolog Dr. Hasan Djafar, saat berkunjung ke Situs Megalitik Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jabar, Selasa (22/5).

Hasan yang pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI) ini juga pernah melakukan penelitian di sejumlah situs kepurbakalaan.

Baginya, walau dirinya belum pernah meneliti secara langsung situs tersebut. Informasi mengenai keberadaan situs yang pertama kali ditemukan NJ Krom, WN Belanda, tahun 1914 itu didapatkan dari pertukaran informasi antar arkeolog Indonesia.

Hasan sendiri pernah menggeluti temuan situs komplek candi Budha di Karawang yang ternyata dibangun 200 tahun terlebih dulu daripada Candi Borobudur, yaitu abad ke 600 SM.

Menurut Hasan, peradaban purbakala di nusantara tidak semaju di Mesir saat piramida berdiri tegak dan telah mengenal teks sebagai medium komunikasi.

"Kalaupun ada piramid, bukan artinya piramid budaya mesir yang mengenal teks. Ini (situs Gunung Padang) adalah punden berundak yang dibangun tinggi, tidak ada ruang kosong atau makam seperti di Mesir," katanya.

Punden berundak jaman megalitik sengaja dibangun tinggi oleh kehidupan purbakala. Karena saat itu peradaban mengenal konsep reliji menyembah alam yang diyakini memiliki kekuatan bernyawa, seperti angin, matahari, gunung, dan lautan.

"Lantas, mengapa harus tinggi?"

"Karena mereka menganggap dewa-dewa berada di tempat tinggi," katanya.

Senada dengan muridnya, Ali Akbar, Hasan tidak menampik bila konsep reliji masyarakat dahulu, khususnya yang hidup di zaman pra sejarah, menggunakan Gunung Padang sebagai medium untuk memuja Gunung Gede.

"Bisa dilihat dari arah beberapa ruangan yang ada dan artefak yang bersisa seperti kursi batu yang menghadap ke Gunung Gede, atau pendaringan (peristirahatan) yang menghadap posisi sama," ujar Doktor yang saat ini mengabdi di Universitas Indraprasta untuk program studi Pendidikan Sejarah.

sumber: detik.com