Tampilkan postingan dengan label rumah adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah adat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Flores, Surga yang di anugrahkan Tuhan untuk Indonesia

Flores adalah salah satu dari 566 pulau yang tersebar di Nusa Tenggara Timur. Flores punya sejuta eksotisme alam mulai dari pantai, gunung, danau, hingga kekayaan budaya yang lestari.

Flores memanjang 350 Km dengan lebar sekitar 20-60 Km. Pulau ini punya beragam lanskap mulai dari gunung, danau, dan pantai berpasir putih. Penduduk Flores berasal dari aneka suku dengan aneka bahasa, tersebar dari bagian barat sampai timur pulau.

Di bagian barat Flores terdapat suku Manggarai. Ada pula Ngada di Bajawa, dan Lio di Ende. Suku yang berbeda juga terdapat di Sikka dan bagian paling timur Flores yakni Lamaholot. Tiap suku punya budaya dan bahasa yang berbeda. Perjalanan ke Flores bisa dilakukan menggunakan pesawat dari Bali ke Maumere di Flores Timur, atau Labuan Bajo di Flores Barat.











Rabu, 11 Juli 2012

Rumah Adat Unik Yang Ada di Indonesia



Berikut adalah 4 rumah adat unik yang ada di Indonesia:

1. Mbaru Niang, NTT

 


Mbaru Niang adalah rumah adat yang terdiri dari 5 tingkat yang ada di Desa Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, NTT. Rumah ini disebut unik karena bentuknya yang tak biasa, yaitu mengerucut di bagian atap hingga hampir menyentuh tanah. Biasanya, atap Mbaru Niang terbuat dari daun lontar yang sudah kering.

Masuk ke dalam rumah, Anda langsung berada di tingkat 1 atau biasa disebut dengan nama lutur atau tenda. Tingkat satu biasa digunakan sebagai tempat tinggal. Naik ke lantai dua, Anda dihadapkan dengan ruangan untuk menyimpan bahan makanan dan barang. Lantai ini biasa disebut dengan nama lobo.

Naik lagi ke lantai 3 atau ruang lentar, pelancong bisa melihat banyak benih tanaman untuk bercocok tanam. Sama seperti tingkat 1, 2 dan 3, tingkat 4 juga memiliki namanya sendiri, yaitu lempa rae. Lempa rae adalah tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna saat hasil panen kurang berhasil.

Nah, jika masuk di lantai paling akhir atau yang disebut hekang kode, Anda bisa melihat aneka sesajian yang disimpan pemilik rumah untuk para leluhur.

2. Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara, NTT

Masih di daratan Nusa Tenggara Timur, Anda bisa menemukan rumah adat lain yang tak kalah unik dengan Mbaru Niang di Manggarai. Tepatnya ada di Desa Koanara, Kelimutu, NTT. Bisa dibilang, Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara adalah rumah adat dengan nama terpanjang yang ada di Indonesia.

Tidak hanya itu, bentuknya yang unik juga menarik untuk diamati, terutama atapnya yang sampai menyentuh tanah. Kalau Mbaru Niang memiliki atap dari daun lontar, Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara memiliki atap dari ilalang.

Kalau melihat lebih detil, Anda bisa menemukan tiga jenis rumah yang berbeda, yaitu rumah baku, rumah tinggal, dan lumbung padi. Rumah baku adalah rumah yang digunakan untuk menyimpan tulang belulang milik leluhur. Sudah ada 13 keturunan yang tulangnya di simpan di rumah ini.

Menengok ke sebelah rumah baku, Anda bisa melihat rumah dengan atap yang seluruhnya menyentuh tanah. Inilah rumah penyimpanan hasil panen sawah. Nah, kalau mau tahu rumah tinggal, cari saja rumah dengan kepala kerbau yang terpampang di depan pintu rumah. Itulah rumah tinggal.

3. Rumah Suku Sasak, NTB

 

Dari Nusa Tenggara Timur, kini beralih ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi ini juga memiliki rumah adat yang tak kalah unik dengan yang ada di NTT, sebut saja rumah adat suku Sasak.

Sama seperti Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara, rumah adat suku Sasak juga terbuat dari dedaunan, biasanya jerami. Bagian dinding terbuat dari anyaman bambu atau bisa disebut bedek.

Lihat ke bawah, Anda akan menemukan lantai yang keras seperti terbuat dari semen. Eits ternyata lantai rumah sama sekali bukan terbuat dari semen, melainkan tanah liat yang dicampur kotoran kerbau, juga abu vulkanik. Hasilnya, jadilah lantai yang keras seperti terbuat dari semen.

Melihat ke atas, atap rumah suku Sasak cukup unik karena berbentuk seperti gunung. Jarak antara atap dengan tanah pun cukup dekat yaitu hanya 1,5 sampai 2 meter.

Masuk ke dalam rumah, Anda bisa melihat 3 ruangan. Ruang pertama adalah ruangan induk yang bisa digunakan untuk tempat tidur. Ruang dua digunakan untuk menyimpan benda, sedangkan ruang ketiga digunakan untuk melahirkan sekaligus tempat bersemayamnya jenazah sebelum dimakamkan.

4. Honai, Papua


Berada di paling timur Indonesia, Papua tidak hanya memiliki alam yang cantik, tetapi juga rumah adat yang unik yaitu Honai. Rumah Honai adalah rumah adat Papua yang terbuat dari kayu. Sama seperti rumah adat unik lainnya, yang menarik perhatian dari rumah ini adalah bagian atapnya.

Atap Honai berbentuk setengah bola atau kubah yang terbuat dari jerami, seperti rumah suku Sasak.Rumah Honai begitu kecil, sempit, dan tidak berjendela. Sengaja dibangun demikian untuk menahan hawa dingin dari pegunungan sekitar Papua.

Rumah adat ini tidak bisa ditemukan di seluruh Papua, hanya ada di Lembah Baliem, tempat suku Dani berada. Di sini, Anda bisa melihat secara langsung rumah adat setinggi 2,5 meter ini. Meskipun hanya setinggi 2,5 meter, rumah Honai terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur.

Naik ke lantai dua, Anda bisa melihat ruangan yang digunakan sebagai tempat istirahat, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Antar lantai dihubungkan dengan tangga dari bambu. Rumah Honai biasanya ditempati 5-10 orang.

Minggu, 17 Juni 2012

Kok bisa Malaysia main klaim Tor-tor dan Gordang Sambilan?


Kok bisa Malaysia main klaim Tor-tor?
Tarian tor-tor. merdeka.com/tanobatak.files.wordpress.com

Pemerintah Malaysia menyatakan tarian Tor-tor dan Gordang Sambilan (sembilan gendang) akan diiktiraf sebagai satu cabang warisan negara jiran itu. Apakah benar dua kesenian yang selama ini dikenal berasal dari Batak itu punya keterkaitan dengan Malaysia?

Tari Tor-tor terkait dengan berbagai kegiatan ritual maupun upacara keagamaan, dan sering dipertunjukkan dalam konteks adat di masyarakat Batak. Penari Tor-tor (panortor) menari sesuai dengan kedudukan masing-masing warga masyarakat di dalam kehidupan adat masyarakat Toba, yaitu sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Tarian, musik dan adat istiadat di dalamnya adalah satu kesatuan.

"Telah banyak kajian ilmiah mengenai hal ini, seperti penelitian Lumban Tobing tahun 1968," kata Koordinator Humas Gerakan Sejuta Data Budaya, Vande Leonardo, kepada merdeka.com, Senin (18/6)

Sementara itu, alat musik Gordang Sambilan berkembang di masyarakat Batak Mandailing, yang dominan berada di kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal.

"Dua Kabupaten ini berada di pesisir barat daya Sumatera Utara, dan relatif tidak begitu berinteraksi dengan Malaysia, dibandingkan dengan daerah di pesisir Timur," ujar Vande.

Alat musik Gordang Sambilan telah berkembang sejak lama di masyarakat Mandailing. Hal ini telah dikaji lebih jauh dalam tesis Mauly Purba tahun 1988 di Wesleyan University. Melihat dua kesenian yang khas nusantara itu, kok bisa Malaysia main klaim budaya kita?

Sabtu, 05 Mei 2012

Rumah Adat Banyuwangi


Rumah asli daerah Banyuwangi (Rumah tradisional Orang Osing / sebutan akrab bagi warga asli Banyuwangi) sampai saat ini masih banyak ditempati di berbagai tempat di wilayah kabupaten Banyuwangi, Jawa timur, kususnya di Desa Kemiren yang merupakan warga osing yang masih menjujung tinggi adat-istiadat osing semenjak jaman dulu masa dimana Kerajaan Majapahit masih bertahtah / berdiri.

Ada 4 macam bentuk rumah adat Osing meliputi crocogan, tikel/baresan, tikelbalung, dan serangan.



Bentuk bangunan rumah itu sendiri dibagi dalam tiga ruang, yakni biale (serambi), jerumah (ruang tengah + kamar), dan pawon (dapur).

Di halaman atau sekitar rumah sering dipasang kiling(kitiran bentuknya seperti baling-baling di tancapkan di bambu yang tinggi dan ada berbagai macam bentuk manusia, hewan menyertainya ada yang berbunyi dan ada yang tidak jika baling-baling terhembus angin) sebagai media hiasan atau hiburan.