Minggu, 20 Juni 2010

Peninggalan Kebudayaan pada Zaman Purba


Dan zaman yang lampau telah diketahui berbagai hasil kebudayaan yang berupa benda-benda buatan manusia. sedangkan alam pikirannya masih tersembunyi atau tersimpul dalam benda-benda tersebut. Hanya apabila benda-benda itu bisa berbicara atau mempunyai keterangan tertulis. barulah dapat diketahui alam pikiran pendukung kebudayaan termaksud serta latar belakangnya

Adalah suatu kenyataan bahwa semakin dekat ke masa kini. semakin banyak jenis ragam dan jumlah benda-benda yang tinggal dan sampai kepada kita. Oleh sebab itu uraian di bawah ini akan ditekankan kepada benda peninggalan yang bercorak khusus untuk suatu masa. serta yang dianggap memiliki kekhususan apabila dibandingkan dengan benda-benda budaya di masa yang lain. Dengan demikian uraian tentang kebudayaan yang dihasilkan pada zaman purba ini lebih ditekankan sebagai sejarah kesenian.

Menurut ERR. Soekmono. zaman purba di Indonesia ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa khususnya di Sumatera dan Kalimantan Timur. Diawali dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur yang diperkirakan berdiri tahun 400 Masehi. selanjutnya kerajaan- kerajaan lain di Pulau Jawa misalnya Purnawarman di Jawa Barat yang diperkirakan berdiri antara tahun 400-500 Masehi, berturut-turut tumbuh dan berkembang kerajaan lainnya dengan bebagai peradaban yang ditinggalkannnya kemudian.

Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai tempat. diperoleh keterangan bahwa hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai warna dan corak yang berbeda. oleh karena masing-masing kerajaan menganut sistem kepercayaan yang berlainan. Meskipun demikian, menurut pakar arkeologi tersebut, religi yang umum dianut oleh sebagian besar masyarakat masa itu adalah Hindu dan Budha.

Dan sekian banyaknya peninggalan zaman purba, dan yang hingga kini dapat disaksikan keberadaannya antara lain candi. Bangunan yang merupakan peninggalan paling monumental tersebut terbuat dan batu dan sangat erat hubungannya dengan unsur keagamaan, sehingga bangunan ini bersifat suci. Perkataan candi itu sendiri, sebenarnya berawal dan salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Maut, yaitu Candika. Memang candi dimaksudkan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya para raja dan orang-orang terkemuka. Adapun yang dikuburkan di situ bukan hanya jasad si mati, melainkan juga benda-benda seperti potongan berbagai jenis logam, batu-batu berharga, disertai saji-sajian. Benda-benda tersebut dinamakan pripih dan dipandang sebagai lambang zat-zat jasmaniah dan sang raja yang telah bersatu kembali dengan penitisnya.

Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, peninggalan Raja Punawarman
Setelah seorang raja meninggal dunia jenasah raja tersebut dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kegiatan ini dilakukan dengan serangkaian upacara. Maksudnya adalah untuk menyempurnakan roh agar dapat bersatu kembali dengan dewa yang dahulu menitis dan menjelma di dalam diri sang raja tersebut. Selain mendirikan candi, biasanya dibuat pula patung raja sebagai bentuk perwujudan sang raja sebagai dewa.

Candi yang dipergunakan sebagai pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu, sedangkan candi-candi agama Budha di-maksudkan sebagai tempat pemujaan kepada dewa belaka. Bagi masyarakat penganut agama Budha, candi bukanlah tempat penyimpangan pripih. Raja yang telah wafatpun tidak dibuatkan patung dirinya. Abu jenasah para raja atau biksu yang wafat akan ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Menurut kepercayaan dan alam pikiran masyarakat pada masa itu, candi merupakan tempat scmentara dan merupakan tiruan dan tempat dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahamcru. Qich karena itulah candi dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan yang terdiri atas pola-pola yang disesuaikan dengan alam gunung tersebut; seperti bunga-bunga teratai, binatang--binatang ajaib, bidadari-bidadari, dewa-dewi dan sebagainya. Selain itu ditemukan juga ukiran daun-daunan dan sulur-sulur yang melingkar memenuhi bidang di antara hiasan-hiasan lainnya.

Berdasarkan tata letaknya, candi ada yang berdiri sendiri namun ada pula yang mengelompok dan terdiri atas sebuah candi induk. Susunan letak candi yang demikian rupanya sangat berkaitan dengan alam pikiran serta susunan masyarakatnya. Seperti halnya kelompok candi di bagian Selatan Jawa Tengah selalu disusun dengan candi induk berdiri di tengah dan candi-candi kecil lain di sekelilingnya. Di bagian Utara jawa Tengah, candi -candi itu berkelompok tak beraturan dan lebih merupakan gugusan candi yang masing-masing berdiri sendiri. Hal seperti ini mencerminkan adanya pemerintahan pusat yang kuat di Jawa Tengah Selatan dan pemerintah federalnya yang terdiri atas daerah-daerah swatara yang sederajat di Jawa Tengah Utara. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa pemerintahan keluarga Qailendra sifatnya feodal dengan raja sebagai pusatnya, sedangkan keluarga Sanjaya bersifat lebih demokratis.
Di Jawa Timur, sejak zaman Singhasari, susunan candinya berlainan pula. Candi induk terletak di bagian belakang halaman candi, sedangkan candi-candi perwaranya serta bangunan- bangunan yang lain ada di bagian depan. Candi induk adalah tersuci dan di dalam kelompok menduduki tempat yang tertinggi. Susunan yang demikian menggambarkan pemerintahan feodal yang terdiri atas negara-negara bagian yang memiliki otonomi penuh, sedangkan pemerintah pusat sebagai penguasa tertinggi berdiri di bagian belakang mempersatukan pemerintahan-pemerintahan daerah dalam rangka kesatuan.

Melihat aspek pengelompokkan candi di Indonesia, kiranya dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa Tengah Utara, jenis Jawa Tengah Selatan, dan jenis Jawa Timur termasuk di dalamnya candi-candi yang terdapat di Bali, dan di Sumatera Tengah (Muara Takus) serta utara (Padanglawas). Pembagian ini sangat sesuai dengan pembagian sistem keagamaan yang mereka anut, yaitu agama Hindu (terutama Siwa), agama Budha (Mahayana) dan aliran Tantrayana (baik yang bersifat Siwa maupun Budha).

Dan berbagai candi yang ada, candi Loro Jonggrang merupakan pengecualian. Susunan candi ini sesuai dengan apa yang ada di Jawa Tcngah Sciatan akan tetapi sistcm keagamaan yang diwakilinya adalah agama Hindu. Penyebabnya adalah candi-candi tersebut bcrasal dan zaman setelah bersatunya keluarga Sanjaya dengan keluarga Cailendra.

Pada dasarnya yang membedakan antara jenis candi di Jawa Tcngah Utara dan Jawa Tengah Selatan adalah candi-candi Jawa Tengah litara bentuk dan hiasannya sangat sederhana, sedangkan candi-candi di Jawa Tengah Selatan lcbih mewah dan megah. Perbedaan kedua tipe candi tersebut juga sesuai dengan batas waktu dalam sejarah. Termasuk langgam Jawa Tengah ialah candi-candi yang berasal dan pra tahun 1000 masehi. Beberapa candi dan Jawa Timur yang digolongkan langgam/tipe Jawa Timur ialah candi-candi yang dibangun sejak abad ke-li (termasuk di dalamnya candi di Muara Takus dan Gunung Tua).
Bangunan lain yang dihasilkan pada zaman pra sejarah ialah gapura Meskipun letaknya tidak terpisah dan candi, akan tetapi gapura hanya berfungsi sebagai pintu untuk keluar masuk. Qich sebab itu. pada bagian tubuh gapura terdapat lubang pintu. Gapura demikian dapat dilihat pada Candi Jedong. Candi Plumbangan dan Candi Bajang Ratu.

Jcnis gapura kcdua ialah, yang bentuknya seperti bangunan candi yang dibclah dua. Maksudnya untuk memp~rmudah jalan keluar dan masuk. Contoh gapura semacam ini muncul dalam scni banguan Indonesia pada zaman Majapait. sebagaimana yang ditemukan pada relief-relief. Di bekas kota majapahit sendiri masih tegak berdiri Candi Wringin Lawang, yaitu sebuah candi bentar yang sangat besar. Demikian pula di kelompok candi Panataran terdapat candi bentar. Sayangnya kini telah roboh.

Seperti telah dijelaskan bahwa untuk raja yang wafat dan dipandang telah bersatu kembali dengan dewa panitisnya. akan dibuatkan sebuah patung. Patung tersebutlah yang akan menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya pula, candi itu memuat/ menyimpan banyak patung dewa-dewa lainnya.

Oleh karena patung itu menggambarkan dewa-dewi, maka dapatlah dikatakan bahwa seni pahat patung pada zarnan itu sangat erat berkaitan dengan aspek keagamaan. Untuk membedakan kedudukan masing-masing dewa, dibuatlah tanda-tanda khusus yang disebut laksana atau ciri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar