Rabu, 18 Mei 2011

Kisah centeng pejabat vs arek suroboyo


: “Dancuuuuuukkkkkk! Sampeyan ngerti opo ora peraturan lalulintas hah!?”

Itulah kalimat pertama yang saya dengar ketika sore ini saya masuk kota Jakarta. Sebetulnya tadi malam tujuan saya ke Surabaya. Namun, flight dari Pontianak yang connect ke Surabaya di Cengkareng semuanya full book. Ampun deh!

Kembali dengan omongan yang bernada keras khas Suroboyonan yang diucapkan oleh seorang teman yang menjemput saya cukuplah membuat ketegangan saya tensinya agak sedikit menurun. Betapa tidak sejak dari Cengkareng masuk TOL Ir. Soetami sampai ke Pancoran minta ampuuuunnnnn muaceeeetttttte rek! Nggilani! Prek!

Ketika kendaraan teman yang saya tumpangi hendak melewati traffict light yang sedang berwarna ijo di Perempatan semrawut Tugu Pancoran tiba-tiba saja lampu tersebut berganti menjadi warna merah. Artinya kendaraan yang saya tumpangi harus segera berhenti.

Sial! Ketika kendaraan kami sedang menunggu lampu ijo menyala. Tiba-tiba saja dari arah belakang kendaraan kami terdengar sirine yang meraung-raung. Sekilas saya melihat ke arah belakang dan segera mengingatkan teman yang lagi nyetir bahwa kayaknya ada mobil ambulance yang mau lewat dan minta di berikan fasilitas Very Important Public. Akan tetapi jawaban teman saya sungguh mengejutkan: “Cak rungukno sik…ndelok sikkkk kethoke kuwi pejabat dangdutan coooo dudu mobil ambulans!”

“Blaikkk!”. Benar kata kawan saya. Ternyata yang minta fasilitas didahulukan di jalan raya adalah iring-iringan kendaraan berjumlah 3 buah. Mungkin makhluk yang di dalam mobil mewah itu adalah pejabat salah satu departemen (menteri?). Selain motor bersirine yang berfungsi sebagai pembuka jalan. Pada iringan kendaran bagian depan terlihat sebuah mobil Suzuki Arena Hitam lengkap dengan lampu kelap kelip berwarna biru ala mobil patroli The Police (Highway Patrol? Wakakaka). Mobil kedua Toyota Camry warna hitam dan paling belakang Toyota Alphard juga berwarna hitam. Suara sirine yang dipasang pada motor tersebut raungannya semakin memekakkan telinga. Berhubung kendaraan yang saya tumpangi hanyalah sekelas Suzuki model roti tawar hahaha. Ya tau sendirilah dengan kondisi kendaraan ala rakyat. Tak ada proteksi dari berbagai macam kebisingan. Huh!

Ceritanya tidak cukup sampai di situ. Tiba-tiba saja seseorang berbaju safari warna hitam dan berambut cepak yang berada di mobil Suzuki Arena menurunkan kacanya berteriak dengan keras ke arah mobil yang saya tumpangi agar segera meminggirkan kendaraan kami. Teman saya cuek saja. Dan rupanya dia tak mau kalah gertak. Teman saya pun langsung menurunkan kaca mobilnya dan balas berteriak tak kalah kerasnya:

“Dancuuuuuukkkkkk! Sampeyan ngerti opo ora peraturan lalulintas hah!?”

“Matamu jereng po’o…..ndeloan kuwi lampu traffict light dancuuuukkkkk!” kata teman saya dengan garangnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah lampu merah.

Si rambut cepak (centeng?) langsung memelototi teman saya

Rupanya teman saya belum puas dengan kejengkelannya terhadap centeng pejabat tersebut. Entah pejabat darimana. Mungkin dari departemen tenaga kuda atau jangan-jangan dia menteri muda gila urusan. Atau? Jangan-jangan dia anggota DPR. Ah, saya sedang tidak mereka-reka. Duh!

Kembali keteman saya. Teman saya pun tidak mau kalah gertak. Sambil memelototkan matanya teman saya berteriak dengan lebih keras lagi:

“Yak opo ndelok-ndelok rek?!”

“Matamu! Congorrrrmu kuwi! ……Cangkemmu mbek sirahmu ora tau mangan sekolahan yo?!”

“Rai koyok cempluk arep nggertak-nggertak…..taeekkkk!”

Makian teman saya semakin garang. Kelihatannya pengawal yang berada paling di depan tidak mendengar ‘kekisruhan’ sesaat itu. Huuuuufffttttt!

Sumpah demi iblis jalanan di Jakarta yang semakin semrawut sama dan sebangun dengan kesemrawutannya Surabaya. Saya gak nyangka saja dengan bentakan balasan dari teman saya. Tadinya saya langsung was-was jangan sampai akan terjadi keributan. Syukurlah rupanya tidak. Ternyata sang centeng yang berteriak tersebut mungkin paham dengan gertakan boso jowo ala Suroboyonan atau kalah bulu dengan gertakan teman saya. Maka, dengan muka yang ditekuk seperti kadal si centeng menaikkan kaca gelap mobil tumpangannya.

Apa yang terjadi di dalam mobil kami? Saya dan 3 orang mitra kerja saya plus teman yang menjemput saya langsung tertawa ngakak gak ada habisnya,

Dasar centeng! Lebih galak daripada tuannya! Puih!

Dasar pejabat sialan! Perut sayapun langsung mulas-mulas. Bukan karena masuk angin tapi karena melihat si pejabat minta diberikan fasilitas lebih di jalan raya yang nota bene adalah milik umum.

Wuihhhhh….huhhhhh helaan nafas panjang semakin menyesakkan dada saya yang kerempeng ini. Hm, apalah artinya kami-kami ini sebagai rakyat biasa yang sedang berada dalam mobil butut kelas roti tawar dibandingkan dengan 3 buah mobil mewah berwarna hitam lengkap dengan pengawalnya yang kelihatannya dari Kepolisian beserta centeng-centengnya yang sok berambut cepak.

Oaaaaekkkk! Maka muntah-muntahlah saya

Maafkan saya ya konco-konco Kompasiner terpaksa saya harus mengeluarkan isi perut saya.

Oaaekkkkkkk!!!!!!!

sumber : cerita teman

Sabar tak semudah membalikkan telapak tangan


KETIKA sepi tak bisa diusir, tak mudah melakukan apapun. Telinga bagai jauh dari pendengaran. Mata meski memandang jauh tapi tak melihat sesuatu. Bebunyian di luar adalah suara cangkrik dan serangga liar lain yang lagi riang.

Kadang kala saya jadi sedikit cengeng, Padahal sudah begitu banyak teman dan sahabat yang memberi semangat. “Hidup harus terus dijalani,” begitu motivasi para sahabat bertubi-tubi memberi peringatan. Ya, hidup memang wajib terus dilanjutkan.

Sesungguhnya saya sudah mencoba dan terus berusaha untuk pulih. Ketika dulu ujian itu belum dirasa, sepertinya saya akan mampu menerima cobaan seperti apapun dari-Nya. Saya selalu mengingatkan orang-orang yang berada di depan saya ketika saya memberi nasehat, “Bersabarlah. Hidup- mati, jodoh dan peruntungan datangnya dari Tuhan,” begitu mudah menjelaskan kepada pendengar atau kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Konsep itu memang seperti itu.

Tapi ketika ujian itu benar-benar diberikan-Nya kepada saya, sungguh saya rupanya tidak mudah menerimanya. Saya seperti tak yakin bahwa itu benar-benar terjadi pada diri saya. Saya seperti ingin menyesal mengapa itu terjadi pada saya. Saya serasa ingin terus menangis dan sedih. Serasa setiap yang bersuara adalah menusuk rasa duka saya. Setiap yang diam bagai mengiris rasa pilu saya. Sintimental menjadi naik beribu lipat.

saya harus bisa membuktikan kalau kata sabar bukan hanya untuk diucapkan tapi adalah untuk dipraktekkan. Saya sadar kalau sabar ternyata memang tidak semudah bicara. Enteng mengatakan tapi berat melaksanakan. Namun harus juga dilewati. Semoga rangkaian kata ini menjadi salah satu usaha bahwa sabar yang sesulit apapun tetap harus diwujudkan.

sumber : inspirasi sahabat