Rabu, 30 Maret 2011

Masjid Cheng Hoo di Pandaan


KALAU Surabaya punya Masjid Cheng Hoo, kenapa Pasuruan tidak? Sejak awal Ramadan 1427 Hijriah, Masjid Cheng Hoo Pasuruan yang terletak di Jl Raya Pandaan sudah digunakan kaum muslim setempat untuk salat Jumat dan tarawih.

Nama Cheng Hoo mengacu pada laksamana terkenal asal Tiongkok yang melakukan ekspedisi bersejarah pada 1404-1443. Cheng Hoo alias Zheng He alias Sam Pok Kong waktu itu memimpin sedikitnya 300 kapal dengan 27 ribu pelaut ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Di sela-sela ekspedisi, Muhammad Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Cheng Hoo sangat dihormati, bukan saja oleh muslim Tionghoa, tapi warga Tionghoa umumnya. Ini saya kutip dari brosur wisata Singapore Tourism Board.

Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya, yang dikelola para pengusaha-pengusaha anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Masjid Cheng Hoo Pandaan langsung ditangani Pemkab Pasuruan. Adalah Jusbakir Aldjufri, bupati Pasuruan, yang menggagas sekaligus memungkinkan masjid berarsitektur Tiongkok ini berdiri di lokasi strategis jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes.

Bupati ingin menempatkan sebuah tetenger (landmark) yang religius kepada pengguna jalan atau wisatawan yang hendak menikmati keindahan alam Kabupaten Pasuruan.

Maka, pilihannya jatuh pada masjid berarsitektur Tiongkok. "Tentu saja, masjid yang di Surabaya itu jadi inspirasi bagi Pasuruan," jelas Buang Abu Hasan lalu tersenyum.

Dibangun sejak tiga tahun lalu, proses pengerjaannya praktis tak mendapat kesulitan apa-apa. Lahan milik pemkab, tepatnya dinas pertanian. Setelah dikosongkan, lantas dibangun masjid dua lantai berukuran sekitar 50 x 50 meter itu. Menurut Buang, kendala utama hanyalah dana dan pengadaan material yang sempat kurang lancar karena pemkab harus mengurus begitu banyak hal.

Bagi Bupati Jusbakir Aldjufri, Masjid Cheng Hoo ini hendak menunjukkan kepada masyarakat tentang universalitas Islam. Islam itu rahmat bagi semesta (rahmatin lil alamin), tak mengenal sekat-sekat bangsa, etnis, negara, dan seterusnya.

"Jadi, walaupun bentuknya Tiongkok, masjid ini dipakai oleh umat Islam dari mana saja. Hanya arsitekturnya saja yang Tionghoa. Ini amanat dari Pak Bupati," tutur Buang Abu Hasan. Bupati Jusbakir dijadwalkan tampil sebagai khotib salat tarawih di Masjid Cheng Hoo pada 18 Oktober 2006.

Berdasarkan pantauan saya, proses pembangunan sudah mencapai 90 persen. Kemarin, lima pekerja sibuk melengkapi atap di bagian samping, juga beberapa aksesoris bernuansa Tiongkok. Kapan diresmikan?

"Wah, kalau itu saya belum dapat informasi. Tapi, yang jelas, sudah tiga Jumat ini dipakai untuk salat berjemaah," ujar Buang, bangga. Dia memperkirakan, paling lambat awal tahun depan semua pekerjaan kelar.

Setelah bangunan utama rampung, Pemkab Pasuruan berencana melengkapi Masjid Cheng Hoo dengan stan-stan kerajinan atau suvenir wisata di bagian belakang dan samping masjid. Lahan sudah siap, tinggal membangun saja. Tidak jauh dari situ sudah beroperasi pusat buah-buahan dan tanaman hias.

Nah, warga bisa berbelanja oleh-oleh khas Pasuruan di stan suvenir sambil makan-makan di pujasera yang masih akan dibangun. (*)

Pemulung di teras TPA Sidoarjo


Kabupaten Sidoarjo, yang punya 18 kecamatan dan 353 desa, punya tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Kalisogo, Kecamatan Jabon. Lokasinya hanya sekitar 20 meter dari bibir tanggul Sungai Porong.

Saya beberapa kali menengok TPA Kalisogo. Ada 50-an pemulung mengais-ngais rezeki dari sampah. Karena saban hari bergaul dengan sampah, indra penciuman mereka kebal.
Para pemulung ini bersiul, bersenandung, nyanyi, guyon, di sela-sela aktivitas rutin mereka.

Capek, haus, atau lapar? Jangan khawatir. Ada pedagang keliling siap menawarkan makanan dan minuman. Mereka makan dan minum di tengah-tengah sampah busuk. Lahap sekali! "Dawetnya wuenaaaak,” kata seorang wanita pemulung yang pakai caping.

Dikoordinasi oleh sebuah koperasi, 50-an pemulung ini berasal dari desa-desa di sekitar TPA. Paling banyak dari Tambak Kalisogo dan Balongtani, khususnya Dusun Ngingas.

Sejak beroperasi tahun 2002, praktis jumlah pemulungnya sama. Sebab, ada mekanisme untuk mencegah masuknya pemain-pemain baru. Ada semacam 'fit and proper test' dari petinggi-petinggi pemulung. Dikaji benar apakah si pelamar serius atau hanya bikin onar. Hanya mereka yang dikenallah yang boleh kerja.

Karena itu, jangan harap pemulung-pemulung TPA di Surabaya pindah ke Kalisogo. "Yah, supaya orang sini bisa cari makan," kata Suparno, pemulung senior.

Di TPA Kalisogo para pemulung punya spesialisasi. Sesama pemulung dilarang menyabot lahan temannya! Supaat khusus mengumpulkan sampah bekas (serbuk) pabrik paku. Pakai
tongkat magnet, Supaat sangat telaten menjaring sisa-sisa kepala (topi) paku.

Harganya Rp 700 per kg. Serbuk itu dijual ke 'koperasi'.


Ada lagi pemulung spesialis botol plastik, botol gelas, kardus, kain, hingga sisa-sisa industri. Suparno, yang spesialis kardus, tentu tak akan makan lahan Supaat si
spesialis paku. Truk sampah pabrik paku pun selalu membuang muatannya di timur.

Yang repot, kata Supaat, sampah domestik alias sampah rumah tangga. Kita memang belum punya tradisi memilah sampah basah dan sampah kering. Semua sampah, apa pun jenisnya, dicampur begitu saja. Ini menyulitkan kerja pemulung.

"Kalau nggak kerja begini, terus mau makan apa?" ujar Suparno.

Suparno mengaku penghasilannya tak tentu. Kadang Rp 10 ribu sehari, Rp 15 ribu, atau di bawah Rp 7.500. Bagi yang mujur, macam pemulung botol minuman, penghasilan bisa lebih banyak.

Yang jelas, meski hidup di tengah sampah busuk, serba kotor, Suparno, Sugeng, Supaat, dan kawan-kawan pemulung tidak pernah sakit. Rupanya, Tuhan memberikan kekebalan tubuh yang luar biasa kepada mereka.

Wanita perkasa itu seorang pelacur


Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.

Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.

Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.

Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.

Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.

”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”

”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.

Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.

Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.

Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.

Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.

Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.

Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verk√§uferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.

Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.

Setidaknya ini kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.

@Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008

Mengapa Keroncong (Hampir) Mati?


Konser keroncong mengenang almarhum Gesang. (Foto: Ninok Leksono/Kompas)

Berikut saya sarikan pandangan Puji Sasongko mengenai hilangnya pamor musik keroncong di kalangan orang muda Indonesia.

1. LEBIH COCOK SEBAGAI MUSIK KAMAR

Irama keroncong yang mendayu-dayu, legato, nyantai... lebih pas disajikan di dalam ruangan. Orkes kamar. Musik keroncong menggunakan instrumen akustik murni. Beda dengan band-band pop atau rock yang menghentak, beat-beat kuat, volume keras, sehingga cocok dibawakan di lapangan atau luar ruangan. Keroncong tidak bisa dipakai untuk jingkrak-jingkrak sampai mandi keringat.

2. TEMPO ANDANTE HINGGA MODERATO

Musik keroncong memang tidak bisa dibawakan secara cepat, kecuali dimodifikasi seperti dilakukan Klantink, juara Indonesia Mencari Bakat asal Surabaya. Hampir semua lagu keroncong (asli) bertempo andante alias tenang. Tempo ini juga untuk memudahkan penyanyi dan pemusik bisa merasakan ketukan.

Tempo andante pun memungkinkan penyanyi dan pemusik melakukan improvisasi pada frase-frase tertentu. Dan ini memang menjadi ciri khas keroncong. Tempo yang tenang bisa lebih menampilkan pesan dari lagu atau musik. Suasana yang tercipta pun tenang, tentram, ayem, ngelangut. Ini membuat anak-anak muda menyebut keroncong sebagai musik yang bikin ngantuk. Mengajak orang untuk bermalas-malasan atau tidur saja.

3. SULIT DAN RUMIT

Benarkah keroncong itu musik yang sukar? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Beberapa pemusik pop-rock senior pernah mengatakan kepada saya bahwa musik keroncong itu memang sulit. Pemain-pemainnya harus punya skill di atas rata-rata. Kunci-kunci atau akor yang dipakai lebih banyak ketimbang lagu-lagu pop sederhana.

4. MONOTON, KURANG VARIASI

Lagu-lagu keroncong yang muncul di televisi sejak dulu, ya, itu-itu saja. Gampang ditebak. Hampir tidak ada komposisi baru. Beda dengan lagu-lagu pop yang hampir tiap hari selalu ada yang baru. Saking banyaknya lagu pop dan band pop, sehingga kita sulit mengingat nama-nama penyanyi dan band-band hari ini. Beda banget dengan era sebelum tahun 2000.

Kemonotonan ini juga tak lepas dari struktur musik keroncong yang rupanya sudah lama dibakukan. Ada keroncong asli, langgam, stambul satu, stambul dua. Ini semacam rumus atau pakem standar yang tak bisa diotak-atik. Kalau ingin mendapatkan rasa keroncong beneran, seorang penulis lagu harus paham formula keroncong. Jumlah birama, penggunaan akor, pemilihan kata, teknik instrumentasi.

Ada juga 'lagu ekstra' yang disebutkan Harmunah. Maksudnya lagu-lagu pop yang dikeroncongkan seperti dulu sering dibuat Hetty Koes Endang dan Mus Mulyadi. Meskipun melenceng dari pakem keroncong, lagu ekstra sedikit banyak membantu memperluas penggemar musik keroncong ke kalangan muda. Tapi kendalanya tetap saja di tempo dan bentuk iringan yang tanpa beat dan santai itu.

5. TAK SESUAI DENGAN JIWA KAUM MUDA

Psikologi orang muda itu dinamis, tegas, meledak-ledak, energetik. Kawula muda juga suka hal-hal yang glamor, gebyar, wah, seksi. Dan itu hanya bisa diperoleh di konser pop, disco, rock, atau jazz. Penyanyi keroncong dari dulu memakai kebaya atau busana ala ibu-ibu yang datang ke resepsi pernikahan. Beda dengan kostum panggung Inul Daratista, Dewi Persik, atau Julia Perez.

6. TAK DAPAT TEMPAT DI TELEVISI

Setelah Reformasi 1998, televisi-televisi tumbuh bak jamur di musim hujan. Kita sudah sulit menghitung televisi di Indonesia hari ini. Terlalu banyak dan selalu bertambah. Beda dengan zaman Orde Baru, stasiun televisi kita hanya satu: TVRI. Ironisnya, televisi-televisi yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan kalau ditambah stasiun luar, itu tak ada yang mau menayangkan musik keroncong. Sekarang ini televisi-televisi kita hanya mau menyiarkan program yang bisa mendatangkan uang, uang, uang, uang.

Keroncong jelas bukanlah musik komersial yang bisa menyedot iklan. Dan keroncong tidak sendirian. Musik-musik budaya yang berkualitas macam orkes tradisional, orkes atau musik klasik Barat, bahkan jazz dan blues... sudah lama tidak muncul di televisi swasta. Mana ada program jazz di RCTI, Indosiar, Trans TV, ANTV, SCTV, atau Global TV.

Karena itu, wahai keroncong, jangan terlalu bersedih karena engkau tidak merana seorang diri. Masih banyak genre musik lain di Indonesia, yang justru punya kualitas, ternyata sudah ditendang keluar dari televisi. Kita patut berterima kasih kepada TVRI baik nasional maupun Jawa Timur yang masih mau menyediakan ruang kepada keroncong secara konsisten.

7. KURANG APRESIASI MUSIK DI SEKOLAH

Sebagian besar sekolah di Indonesia tidak punya guru musik yang baik. Asal comot untuk mengajar seni suara atau apresiasi musik. Guru-guru sekolah dasar, yang berada di garis depan, ternyata banyak yang tak punya pemahaman tentang musik. Bagaimana bisa mengajak anak-anak mencintai musik klasik, tradisional, atau keroncong? Maka, jangan heran, anak-anak justru mendapat 'apresiasi musik' dari acara-acara pop di televisi yang sejatinya dibuat untuk menjadikan anak-anak muda sebagai target pasar.

8. ORKES KERONCONG MAKIN LANGKA

Coba sebutkan orkes-orkes keroncong di kota anda! Saya pastikan anda kesulitan menyebut lima nama. Bahkan, satu orkes saja sudah sulit. Sebab, sudah lama orkes-orkes keroncong bubar karena sepi tanggapan. Selain itu, pemain-pemain senior sudah terlalu tua dan gagal melakukan regenerasi. Jangankan di kota-kota kecil, di Surabaya saja, yang disebut-sebut kota terbesar kedua di Indonesia, kita sangat sulit mendapatkan orkes keroncong yang solid dan rutin pentas.

9. MINIM PERHATIAN PEMERINTAH

Di Indonesia makin jarang ada pejabat yang punya apresiasi seni musik macam Presiden Soekarno. Visi kebudayaan para pemimpin Indonesia sejak 20 tahun terakhir sangat buruk. Bukannya membina dan mengembangkan kesenian tradisional, para bupati atau wali kota malah rame-rame ke Jakarta untuk mendukung peserta KDI, AFI, atau Indonesian Idol asal daerahnya. Jelas sekali bahwa si pejabat itu sudah masuk jebakan perangkap industri pop yang luar biasa canggih.

Sangat ironis, pejabat-pejabat kita dijadikan mainan industri musik pop dan televisi. Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang punya visi seni budaya seperti Bung Karno. Oh ya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata asyik menciptakan lagu-lagu pop manis, tapi kurang sadar bahwa kesenian tradisional kita sudah di mulut jurang kepunahan. SBY ikut arus pop & mass culture.

10. MASA DEPAN SURAM

Suramnya perkembangan musik keroncong, gagalnya regenerasi, hilangnya penggemar membuat praktisi keroncong merana. Tak ada masa depan. Banyak pemusik dan penyanyi keroncong di Jawa Timur yang hidup terlunta-lunta. Untuk sekadar makan sehari-hari saja susah. Sebaliknya, industri musik pop (termasuk rock dan sejenisnya) menawarkan karir yang gemerlap, nama besar, uang banyak.

Jangan heran, begitu banyak orang tua di Indonesia yang mendorong anak-anaknya untuk ikut kontes menyanyi di televisi ala KDI, AFI, atau Indonesia Idol. Siapa tahu jadi artis terkenal yang bergelimang uang dan kemewahan. Ada perubahan orientasi para orang tua dan anak-anaknya saat ini. Pelajaran di sekolah atau kampus tak lagi dipentingkan. Bahkan, banyak orang tua yang mengorbankan pendidikan formal anak-anaknya demi mengejar ambisi menjadi artis pop.

Mana ada orang tua di Indonesia yang ingin anak-anaknya jadi penyanyi keroncong?

Copyright © 2011 puji sasongko penulis musik Indonesia

Kisah Tiga Kiai Pelacur [ No SARA ]


Kyai Pertama

Kyai Khoiron, sudah populer sebagai kiainya para pelacur di Surabaya. Sehari-hari ia menjadi guru ngaji, konsultan psikologi dan bapak, kakak, sahabat yang sangat akrab dengan gemuruh jiwa para pelacur yang bergolak. Dua puluh tahun silam, diam-diam ia dirikan sebuah pesantren di komplek pelacuran terbesar di Surabaya. Dan saat ini ada tujuh ratus anak-anak pelacur itu nyantri di pesantrennya.

Jika senja mulai tiba, gincu-gincu mengoles bibir para pelacur itu, dengan segala sapaan manja pada hidung belang, sementara suara musik keras mendentang memenuhi komplek pelacuran itu, di sudut komplek pelacuran itu terdengar suara bocah-bocah mengaji, meneriakkan shalawat Nabi dan berzanji. Keduanya berjalan damai.

“Saya tidak pernah melarang mereka melacur. Saya juga tidak memarahi mereka. Saya hanya menyiapkan ruang jiwa mereka. Sebab mereka melacur paling lama sepuluh tahun. Setelah itu? Mereka pasti berhenti. Mereka perlu kesiapan mental, keimanan dan sikap optimis kepada Tuhan,” katanya.

“Pesantren anda ini?”

“Memang, pesantren ini saya konsentrasikan untuk membina anak-anak mereka yang tak berdosa. Mereka harus tumbuh dengan jiwa yang merdeka, tanpa konflik, tanpa masa lalu dan trauma-trauma.”

************************************************

Kyai Kedua

Lain lagi dengan seorang Kiai di dekat kota Madiun. Kiai Madun, sudah dikenal sebagai seorang kiai Thariqat dengan jama’ah ribuan. Suatu hari ia tertimpa gejala psikologi yang begitu aneh: Rasa takut mati yang berlebihan. Selama enam bulan ia terus menerus menangis, seakan-akan Malaikat Maut membuntutinya. Ia juga heran kenapa harus takut mati?

Saking takutnya, Kiai Madun mendatangi guru Mursyidnya. Dengan serta merta gurunya menyambut dengan sambutan yang cukup kontroversial. “Soal penyakitmu itu gampang obatnya. Mulai besok kamu pergi saja setiap hari ke komplek pelacuran!”

“Bagaimana pak Kiai ini, kok saya malah harus main-main dengan pelacur. Apakah ini tidak bertentangan dengan syari’at?” kata Kiai Madun dalam hatinya. Belum sempat ia meneruskan fantasinya, gurunya sudah memotong:

“Dun!, Lihatlah mulutku ini!”

Begitu melihat mulut gurunya, yang tampak adalah lautan luas tak bertepi. Kyai Madun hanya terperangah. Diam-diam ia menyesal. Kenapa soal-soal hakikat kehidupan harus ia pertanyakan lewat syariat kepada gurunya? Diam-diam pula hatinya menangis. Tapi juga muncul rasa ngeri, kenapa harus main-main dengan pelacur?

Tapi Kyai Madun tidak mau membantah perintah gurunya. Pagi-pagi Kiai ini sudah menghilang dari rumahnya. Ia cari komplek pelacuran yang jauh dari daerahnya. “Jalan penyembuhan” ini ia lakukan hampir setiap hari, sampai pelacur seluruh komplek itu kenal benar dengan Kyai Madun. Bahkan kadang, seharian penuh ia berada di tengah para perempuan penghibur itu, sambil mengingat-ingat, apakah rahasia dibalik perintah gurunya itu.

Suatu pagi, ketika ia datang ke komplek langganannya, tiba-tiba ada kakek-kakek tua, baru saja keluar dari sebuah kamar pelacur. Ia sangat kaget, melihat kakek yang sudah uzur, dan mendekati ajal itu, masih sempat ke komplek pelacuran. Bahkan dengan wajah berseri, riang gembira, layaknya anak muda, sang kakek penuh percaya diri layaknya anak muda.

“Iya, ya. Kakek ini sudah tua renta, kok tidak takut mati. Bahkan ia jalani kehidupan tanpa beban. Saya yang masih muda kok takut mati. Kualitas iman macam apa yang saya miliki ini?” katanya Kiai Madun dalam hati.

Dengan wajah terangguk-angguk, Kiai Madun merasa mendapat pelajaran dari Kakek tua renta itu. Dan seketika pula rasa takut matinya hilang begitu saja. Sembuh!

************************************************

Kyai Ketiga

Lain lagi dengan Kyai Marwan, dari Nganjuk. Kiai ini sudah hampir mendekati lima puluh tahun usianya, tetapi masih membujang. Keinginan untuk konsentrasi sebagai Kyai tanpa menghiraukan urusan dunia termasuk wanita, membuatnya menjadi bujang lapuk. Tapi soal kebutuhan penyaluran syahwat, tetap saja mengusik setiap hari. Apalagi kalau ia berfikir, siapa nanti yang mneneruskan pesantrennya kalau ia tidak punya putra?

Dengan segala kejengkelan pada diri sendiri dan gemuruh jiwanya, akhirnya Kiai Marwan istikhoroh, mohon petunjuk kepada Allah, siapa sesungguhnya wanita yang menjadi jodohnya? Petunjuk yang muncul dalam istikhoroh, adalah agar Kyai Marwan mendatangi sebuah komplek pelacuran terkenal di daerahnya. “Disanalah jodoh anda nanti…” kata suara dalam istikhoroh itu.

Tentu saja Kyai Marwan menangis tak habis-habisnya, setengah memprotes Tuhannya. Kenapa ia harus berjodoh dengan seorang pelacur? Bagaimana kata para santri dan masyarakat sekitar nanti, kalau Ibu Nyainya justru seorang pelacur? “Ya Allah…! Apakah tidak ada perempuan lain di dunia ini?”

Dengan tubuh yang gontai, layaknya seorang yang sedang mambuk, Kyai Marwan nekad pergi ke komplek pelacuran itu. Peluhnya membasahi eluruh tubuhnya, dan jantungnya berdetak keras, ketika memasuki sebuah warung dari salah satu komplek itu. Dengan kecemasan luar biasa, ia memandang seluruh wajah pelacur di sana, sembari menduga-duga, siapa diantara mereka yang menjadi jodohnya.

Dalam keadaan tak menentu, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang cantik, berjilbab, menenteng kopor besar, memasuki warung yang sama, dan duduk di dekat Kyai Marwan.

“Masya Allah, apa tidak salah perempuan cantik ini masuk ke warung ini?” kata benaknya.

“Mbak, maaf, Mbak. Mbak dari mana, kok datang kemari? Apa Mbak tidak salah alamat?” tanya Kyai Marwan pada perempuan itu.

Perempuan itu hanya menundukkan mukanya. Lama-lama butiran airmatanya mulai mengembang dan menggores pipinya. Sambil menatap dengan mata kosong, perempuan itu mulai mengisahkan perjalanannya, hingga ke tempat pelacuran ini. Singkat cerita, perempuan itu minggat dari rumah orang tuanya, memang sengaja ingin menjadi pelacur, gara-gara ia dijodohkan paksa dengan pria yang tidak dicintainya.

“Masya Allah….Masya Allah…Mbak.. Begini saja Mbak, Mbak ikut saya saja. …” kata Kiai Marwan, sambil mengisahkan dirinya sendiri, kenapa ia pun juga sampai ke tempat pelacuran itu. Dan tanpa mereka sadari, kedua makhluk itu sepakat untuk berjodoh.

************************************************

Tiga Kiai tersebut, sesungguhnya merupakan refleksi dari rahasia Allah yang hanya bisa difahami lebih terbuka dari dunia Sufi. Kiai Khoiron yang menjadi kiai para pelacur, sesungguhnya wujud dari kemerdekaan Sufistik pada kepribadian seseorang yang berani menerobos dinding-dinding verbalisme kultur agama, sebagaimana misteri Kyai Madun, yang harus sembuh di komplek pelacuran. Juga nasib bidadari yang ditemukan Kiai Marwan di komplek pelacuran itu. Semuanya menggambarkan bagaimana dunia jiwa, dunia moral, dunia keindahan dan kebesaran Ilahi, harus direspon tanpa harus ditimbang oleh fakta-fakta normatif sosial yang terkadang malah menjebak moral seorang hamba Allah.

Sebab tidak jarang, seorang Kiai, sering mempertaruhkan harga dirinya di depan pendukungnya, ketimbang mempertaruhkan harga dirinya di depan Allah. Dan begitulah cara Allah menyindir para Kiai, dengan menampilkan tiga Kiai Pelacur itu.

(Diambil dari email seorang sahabat)