Minggu, 20 Juni 2010

Pro-NKRI bias Tak Berarti ( kesaksian eks pengungsi Tmtim)

Kembali dari tugas dalam keadaan tidak bernyawa. Puluhan peluru bersarang di dada dan punggung. Tangan kiri dan kanan pun dalam kondisi terpotong.

Kenangan pahit 14 tahun silam itu tidak pernah terlupakan oleh Mama Olandina da Silva (52). Dia sama sekali tidak menyangka, suaminya, Sersan Kepala Manuel da Silva, bakal pulang dengan kondisi yang sungguh mengenaskan itu.

”Anak paling kecil sebelum ayahnya pergi tugas sempat peluk kaki, minta jangan pergi. Tetapi dijawab ini perintah, tugas,” kenang Olandina.

Cobaan berat tidak berhenti. Setahun kemudian, pascajajak pendapat tahun 1999, Olandina yang sudah menjanda dan membawa lima anak itu harus mengungsi ke Kabupaten Kupang. Dalam pengungsian itu, ia pun harus terpisah dengan sebagian besar anaknya. Tiga anaknya yang paling besar, yaitu Merlinda da Silva, Adelina Maria, dan Jean da Silva terpaksa ditinggal di Timtim, sedangkan dua yang paling kecil, Ester da Silva dan Monica da Silva dibawa bersamanya.

Dua tahun kemudian, dia dapat kabar bahwa anaknya yang nomor dua, Adelina, meninggal dunia karena sakit. Dalam kesedihan itu, Olandina tak bisa melayat anaknya itu karena tidak memiliki paspor.

Segudang cobaan berat itu ternyata belum juga berakhir. Meski sudah hampir 11 tahun mengungsi, negara ini pun ternyata tidak juga memberi perlindungan berupa kehidupan layak. Ditemani putri bungsunya, Monica (18), dia masih tinggal di gubuk penampungan pengungsi di Tuapukan, Kupang, yang kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya dari daun pohon lontar. Dindingnya tersusun dari pelepah pohon Gewang. Sekat-sekat rumah terbuat dari tempelan kardus bekas.

”Maaf ya, kita punya rumah seperti kandang babi saja,” kata Olandina spontan, saat Kompas ke rumahnya, pekan lalu.

Menurut Olandina, tahun 2009, pemerintah sudah menawarkan tempat bermukim baru di Desa Oebeolo. Namun, dia dan juga pengungsi lainnya tidak mau buru-buru pindah karena rumah yang disediakan pemerintah itu ternyata tidak jauh lebih baik, bahkan lebih buruk.

Dinding rumah itu terbuat dari batako atap pun terbuat dari seng. Namun, sepertinya rumah itu dibangun asal jadi. Belum ditempati saja sudah banyak rumah yang roboh. Perumahan itu juga tidak memiliki sumber air bersih. Jika hujan turun lebat, air langsung menggenangi rumah.

Dikejar pemilik tanah

Kekhawatiran Olandina dirasakan pula Anteru Sarmento (52). Selain kondisinya buruk, kini, dia terus dikejar-kejar tuan tanah untuk membayar tanah. Penyebabnya, pemerintah belum membayar tanah untuk permukiman pengungsi itu.

Tahun 2007, menurut Anteru, pemerintah sempat menjanjikan akan memberi dana bantuan jaminan hidup Rp 2,5 juta dan dana transisi Rp 5 juta per keluarga. Namun, dana-dana itu tak pernah mereka terima.

”Setiap bulan pemilik tanah datang minta bayar. Kita orang miskin mau bayar pakai apa?” keluhnya.

Anteru menegaskan bahwa mereka ini bukan selalu menggantungkan hidup kepada pemerintah. Mereka datang ke Kabupaten Kupang ini bukan karena kemauan sendiri, tetapi dipaksa keadaan. Saat tinggal di Vikeke, Timor Timur (sekarang Timor Leste), mereka memiliki tanah berhektar-hektar. Mereka juga berkebun dengan leluasa. Namun, itu semua harus mereka tinggalkan karena kondisi politik. Dia pun merasa sedih karena negara yang dia cintai dan perjuangkan selama ini tidak menunjukkan kepedulian.

”Kami kan datang ke sini karena korban politik dan PBB,” tegas Anteru dengan mata memerah dan berkaca.

Banyak yang dikorbankan Anteru untuk memperjuangkan negeri ini. Pria yang kini rambutnya memutih, tetapi masih menyisakan badan tegap itu, pernah menjadi Komandan Partisan yang membantu TNI melawan pemberontak di Timtim. Luka tembak di paha kirinya bukti pengabdian itu. Akibat luka tembak itu, dia juga bahkan cacat seumur hidup. Dia tidak bisa lagi berjalan normal. Dua tongkat selalu menemaninya ke mana pun hendak berjalan.

Banyak cerita sedih yang diutarakan para eks pengungsi Timor Timur. Cerita-cerita itu seakan menunjukkan bahwa negeri ini tidak memberi penghargaan berarti bagi warganya yang pro-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal, banyak pejabat di negeri ini selalu mendengung-dengungkan untuk selalu menjaga dan mempertahankan NKRI.

Ketoprak Tobong satu opini matinya Identitas bangsa

Di samping panggung yang berdiri di tengah Alun-alun Selatan, Yogyakarta, diletakkan dua karangan bunga dukacita. Pada karangan bunga itu tertulis: ”Turut Berduka Cita atas Bergugurannya Budaya Tradisional Bangsa Indonesia”.

Perkembangan teknologi terutama dalam bidang komunikasi dan informasi kemudian mempercepat proses tersebut, tidak hanya dari unsur jarak, waktu dan biaya, tetapi juga pola dan gaya hidup, trend. Informasi sebuah trend di satu tempat akan menyebar dengan sedemikian cepat ke tempat lain dalam waktu yang sangat singkat apalagi ketika trend tersebut kemudian dibarengi dengan motif-motif lain, biasanya ekonomi.
Di tengah semakin “menyatunya” dunia, lantas, apa yang kemudian membedakan seorang satu dengan lainnya? Apakah hanya dari nama? Apakah sebuah nama kemudian menunjukan identitas seseorang, atau sebuah bangsa secara utuh? Dari warna kulit? Dari status? Atau keyakinan? Sementara batasan-batasan tadi sudah menjadi semakin luntur, meski tidak habis sama sekali, lantas apa yang kemudian bisa menjadi identitas seorang individu? Atau sebuah bangsa? Ketika dunia sama sekali tidak memiliki batas-batas nyata, apa yang membuat kita dapat “pulang ke rumah” dan merasa di “rumah”? Jawabannya sederhana ; Sejarah dan Budaya!
Ketika batas-batas Negara kemudian hanya menjadi sebuah syarat administratif belaka, ketika ras dan warna kulit kemudian hanya sekedar sebuah keragaman, maka sejarah dan budaya sebuah bangsa atau seorang individu akan menjadi sebuah petunjuk bagi identitas diri dan bangsanya. Pertanyaan yang kemudian muncul, apabila ketika semua perbedaan sudah “dihilangkan” sama sekali, semua manusia hidup dalam sebuah payung yang sama, lantas apa perlunya kemudian kita menggali sejarah dan budaya? Sejujurnya sejarah menyatakan bahwa mimpi penyatuan hingga saat ini tidak pernah ada yang benar-benar berhasil, karena manusia adalah mahluk yang sangat unik masing-masingnya, pun ketika kita berbicara tentang kembar identik, lagi pula sejarah menyatakan; ide kita “dikontrol dan dikendalikan” untuk umat manusia tidak pernah menemui keberhasilan, setidaknya sampai dengan saat ini.
Karena setiap individu unik, maka manusia sangat memerlukan eksistensi-keberadaan, pengakuan, aktualisasi terhadap hidup dan kehidupannya, dirinya dan lingkungannya sesederhana apapun itu, sehingga kemudian munculah apa yang disebut sebagai kebudayaan. Saya tidak dapat membayangkan seorang manusia/individu atau sebuah bangsa yang tidak memiliki budaya, kalau itu yang terjadi, apa bedanya manusia dengan sebuah mesin cuci di rumah kita?
Kematian sebuah bangsa! Itulah yang akan terjadi ketika sebuah bangsa tidak lagi memiliki budaya, dan itu sedang terjadi di Negara yang kita cintai ini, Indonesia, sebuah negara warisan konsep Nusantara yang dibangun berabad silam ini sedang menemui titik nadirnya, dan itu terjadi di pusat warisan bangsa Nusantara yang dititipkan oleh para leluhur kita untuk Indonesia, Yogyakarta!
Sebagai sebuah benteng terakhir budaya bangsa, ketika legitimasi kekuasaannya “dirampas”, maka fungsi Yogyakarta, dalam hal ini Sultan sebagai pewaris Matahari Nusantara nampaknya tidak cukup ngeuh ketika legitimasinya perlahan-lahan tercerabut satu persatu, sisa legitimasi terakhirnya, yaitu budaya-pun nampaknya perlahan-lahan mulai hilang satu-persatu, entah itu karena digerogoti dengan sebuah teori konspirasi multinasional yang tidak mau bangsa ini bangkit, atau hanya karena sekedar Sultan sudah tidak “sadar” lagi, Sultan sudah meninggalkan rakyatnya sendiri, karena salah satu budaya yang “seharusnya” hidup di bawah naungan payung sang Sultan, kini sedang sekarat, dan memutuskan, daripada menunggu mati, lebih baik pamit mati untuk bertempur untuk yang terakhir kalinya. Ironisnya, “medan pertempuran” itu ada di halaman istana Sultan itu sendiri.
Budaya yang pamit mati itu adalah Ketoprak Tobong , minimnya perhatian, ditutupnya kesempatan-membuat ketoprak tobong Kelana Bakti Budaya, yang tinggal satu-satunya itu tidak dapat bernafas lagi, mirip cerita-cerita yang beredar di masyarakat tentang dinding dalam keputren di keraton, ketika sudah tidak cantik lagi, jangan harap berkah akan menghampiri. Ketika fungsi ketoprak tobong sudah tergantikan oleh kemajuan teknologi, maka ketoprak tobong pun tidak lagi didekati.
Ketoprak tobong, apapun itu, tidak hanya berfungsi sebagai sebuah pentas kesenian belaka, tidak hanya berfungsi sebagai alat propaganda semata, atau panggung boneka dengan kostum warna-warni. Ketoprak tobong sesungguhnya menyimpan dan menjadi bagian dari pembentuk DNA bangsa ini, layaknya jenis-jenis kebudayaan lain yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, karena dari kebudayaan-kebudayaan tersebut kita dapat menggali banyak hal tentang karakter masyarakat pembentuknya, menelaah jaman pengembangannya, fungsinya, sampai kepada hal-hal kecil yang menjadi hiasannya, sehingga kita dapat merekonstruksi dan menerjemahkan unsur-unsur pembentuk jatidiri bangsa ini.


Kehilangan penonton

Ketoprak tobong masa kini memang tak bisa lagi hidup mandiri. Mereka sudah kehilangan penonton. Setiap kali pentas, jumlah penonton hanya puluhan, bahkan pernah hanya empat orang. Dengan tiket Rp 5.000 per orang, pendapatan dari tiket tidak pernah bisa menutup biaya operasional. Padahal, mereka harus menjamin hidup para pemain setiap harinya.

Risang mengatakan, Kelana Bhakti Budaya telah mencoba bertahan karena melihat semangat para pemain yang masih ingin menghidupi ketoprak. Namun, kini mereka sudah tak lagi sanggup terus bertahan. Mereka sudah sekarat sejak lama dan memutuskan pamit mati.

Para pemain pun sudah pasrah. Mereka mulai menyadari, era ketoprak tobong sudah lewat. Andai bisa memilih, antara bertahan atau mati, mereka sesungguhnya memilih bertahan. Apa pun kondisinya.

”Saya lahir di sini. Selama ini masih bisa hidup, saya akan tetap main ketoprak. Namun, kalau akhirnya harus mati, saya akan pulang ke Tulungagung. Mungkin saya hanya bisa melamun dalam waktu lama,” tutur Bandung Bondowoso (23), pemain yang lahir dalam ”ziarah” kelompok ini di Magetan.

Dalam dunia ketoprak tobong, nasib tragis Kelana Bhakti Budaya sesungguhnya bukan cerita baru. Di Yogyakarta, kelompok ketoprak tobong terakhir, yakni Sapta Mandala, bahkan sudah punah tahun 1994.

Bondan Nusantara, seniman Yogyakarta yang pernah jadi sutradara ketoprak tobong Sapta Mandala, menuturkan, era ketoprak tobong memang sudah lewat. ”Ketoprak tobong tidak mungkin lagi hidup di Yogya karena ongkos produksi dibanding pendapatan tak sepadan. Penonton sudah pergi,” ungkapnya.

Sajian ketoprak tobong sudah tak lagi sesuai selera masyarakat yang kian industrialistik. Pilihan jenis hiburan kian beragam. Jika mau bertahan, ketoprak tobong mesti berinovasi agar bisa menangkap selera masyarakat. Namun, diakui, itu tidaklah mudah.

Meski begitu, jeritan putus asa Kelana Bhakti Budaya tetap perlu didengarkan. Menurut Bondan, seni tradisi apa pun bentuknya tidak bisa dibiarkan bertempur sendirian melawan industrialisasi. Pemerintah harus turun tangan. Bukan untuk menyelamatkan seniman, melainkan menyelamatkan kesenian dan kebudayaan.

Bagi Kelana Bhakti Budaya, pentas pamit mati yang disusul dengan topo pepe itu dipersembahkan kepada raja dan warga Yogyakarta. Di depan mereka, satu lagi kelompok seni tradisi meregang nyawa. Tidak terdengar satu tangis pun untuknya.


Peninggalan Kebudayaan pada Zaman Purba


Dan zaman yang lampau telah diketahui berbagai hasil kebudayaan yang berupa benda-benda buatan manusia. sedangkan alam pikirannya masih tersembunyi atau tersimpul dalam benda-benda tersebut. Hanya apabila benda-benda itu bisa berbicara atau mempunyai keterangan tertulis. barulah dapat diketahui alam pikiran pendukung kebudayaan termaksud serta latar belakangnya

Adalah suatu kenyataan bahwa semakin dekat ke masa kini. semakin banyak jenis ragam dan jumlah benda-benda yang tinggal dan sampai kepada kita. Oleh sebab itu uraian di bawah ini akan ditekankan kepada benda peninggalan yang bercorak khusus untuk suatu masa. serta yang dianggap memiliki kekhususan apabila dibandingkan dengan benda-benda budaya di masa yang lain. Dengan demikian uraian tentang kebudayaan yang dihasilkan pada zaman purba ini lebih ditekankan sebagai sejarah kesenian.

Menurut ERR. Soekmono. zaman purba di Indonesia ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa khususnya di Sumatera dan Kalimantan Timur. Diawali dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur yang diperkirakan berdiri tahun 400 Masehi. selanjutnya kerajaan- kerajaan lain di Pulau Jawa misalnya Purnawarman di Jawa Barat yang diperkirakan berdiri antara tahun 400-500 Masehi, berturut-turut tumbuh dan berkembang kerajaan lainnya dengan bebagai peradaban yang ditinggalkannnya kemudian.

Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai tempat. diperoleh keterangan bahwa hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai warna dan corak yang berbeda. oleh karena masing-masing kerajaan menganut sistem kepercayaan yang berlainan. Meskipun demikian, menurut pakar arkeologi tersebut, religi yang umum dianut oleh sebagian besar masyarakat masa itu adalah Hindu dan Budha.

Dan sekian banyaknya peninggalan zaman purba, dan yang hingga kini dapat disaksikan keberadaannya antara lain candi. Bangunan yang merupakan peninggalan paling monumental tersebut terbuat dan batu dan sangat erat hubungannya dengan unsur keagamaan, sehingga bangunan ini bersifat suci. Perkataan candi itu sendiri, sebenarnya berawal dan salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Maut, yaitu Candika. Memang candi dimaksudkan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya para raja dan orang-orang terkemuka. Adapun yang dikuburkan di situ bukan hanya jasad si mati, melainkan juga benda-benda seperti potongan berbagai jenis logam, batu-batu berharga, disertai saji-sajian. Benda-benda tersebut dinamakan pripih dan dipandang sebagai lambang zat-zat jasmaniah dan sang raja yang telah bersatu kembali dengan penitisnya.

Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, peninggalan Raja Punawarman
Setelah seorang raja meninggal dunia jenasah raja tersebut dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kegiatan ini dilakukan dengan serangkaian upacara. Maksudnya adalah untuk menyempurnakan roh agar dapat bersatu kembali dengan dewa yang dahulu menitis dan menjelma di dalam diri sang raja tersebut. Selain mendirikan candi, biasanya dibuat pula patung raja sebagai bentuk perwujudan sang raja sebagai dewa.

Candi yang dipergunakan sebagai pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu, sedangkan candi-candi agama Budha di-maksudkan sebagai tempat pemujaan kepada dewa belaka. Bagi masyarakat penganut agama Budha, candi bukanlah tempat penyimpangan pripih. Raja yang telah wafatpun tidak dibuatkan patung dirinya. Abu jenasah para raja atau biksu yang wafat akan ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Menurut kepercayaan dan alam pikiran masyarakat pada masa itu, candi merupakan tempat scmentara dan merupakan tiruan dan tempat dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahamcru. Qich karena itulah candi dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan yang terdiri atas pola-pola yang disesuaikan dengan alam gunung tersebut; seperti bunga-bunga teratai, binatang--binatang ajaib, bidadari-bidadari, dewa-dewi dan sebagainya. Selain itu ditemukan juga ukiran daun-daunan dan sulur-sulur yang melingkar memenuhi bidang di antara hiasan-hiasan lainnya.

Berdasarkan tata letaknya, candi ada yang berdiri sendiri namun ada pula yang mengelompok dan terdiri atas sebuah candi induk. Susunan letak candi yang demikian rupanya sangat berkaitan dengan alam pikiran serta susunan masyarakatnya. Seperti halnya kelompok candi di bagian Selatan Jawa Tengah selalu disusun dengan candi induk berdiri di tengah dan candi-candi kecil lain di sekelilingnya. Di bagian Utara jawa Tengah, candi -candi itu berkelompok tak beraturan dan lebih merupakan gugusan candi yang masing-masing berdiri sendiri. Hal seperti ini mencerminkan adanya pemerintahan pusat yang kuat di Jawa Tengah Selatan dan pemerintah federalnya yang terdiri atas daerah-daerah swatara yang sederajat di Jawa Tengah Utara. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa pemerintahan keluarga Qailendra sifatnya feodal dengan raja sebagai pusatnya, sedangkan keluarga Sanjaya bersifat lebih demokratis.
Di Jawa Timur, sejak zaman Singhasari, susunan candinya berlainan pula. Candi induk terletak di bagian belakang halaman candi, sedangkan candi-candi perwaranya serta bangunan- bangunan yang lain ada di bagian depan. Candi induk adalah tersuci dan di dalam kelompok menduduki tempat yang tertinggi. Susunan yang demikian menggambarkan pemerintahan feodal yang terdiri atas negara-negara bagian yang memiliki otonomi penuh, sedangkan pemerintah pusat sebagai penguasa tertinggi berdiri di bagian belakang mempersatukan pemerintahan-pemerintahan daerah dalam rangka kesatuan.

Melihat aspek pengelompokkan candi di Indonesia, kiranya dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa Tengah Utara, jenis Jawa Tengah Selatan, dan jenis Jawa Timur termasuk di dalamnya candi-candi yang terdapat di Bali, dan di Sumatera Tengah (Muara Takus) serta utara (Padanglawas). Pembagian ini sangat sesuai dengan pembagian sistem keagamaan yang mereka anut, yaitu agama Hindu (terutama Siwa), agama Budha (Mahayana) dan aliran Tantrayana (baik yang bersifat Siwa maupun Budha).

Dan berbagai candi yang ada, candi Loro Jonggrang merupakan pengecualian. Susunan candi ini sesuai dengan apa yang ada di Jawa Tcngah Sciatan akan tetapi sistcm keagamaan yang diwakilinya adalah agama Hindu. Penyebabnya adalah candi-candi tersebut bcrasal dan zaman setelah bersatunya keluarga Sanjaya dengan keluarga Cailendra.

Pada dasarnya yang membedakan antara jenis candi di Jawa Tcngah Utara dan Jawa Tengah Selatan adalah candi-candi Jawa Tengah litara bentuk dan hiasannya sangat sederhana, sedangkan candi-candi di Jawa Tengah Selatan lcbih mewah dan megah. Perbedaan kedua tipe candi tersebut juga sesuai dengan batas waktu dalam sejarah. Termasuk langgam Jawa Tengah ialah candi-candi yang berasal dan pra tahun 1000 masehi. Beberapa candi dan Jawa Timur yang digolongkan langgam/tipe Jawa Timur ialah candi-candi yang dibangun sejak abad ke-li (termasuk di dalamnya candi di Muara Takus dan Gunung Tua).
Bangunan lain yang dihasilkan pada zaman pra sejarah ialah gapura Meskipun letaknya tidak terpisah dan candi, akan tetapi gapura hanya berfungsi sebagai pintu untuk keluar masuk. Qich sebab itu. pada bagian tubuh gapura terdapat lubang pintu. Gapura demikian dapat dilihat pada Candi Jedong. Candi Plumbangan dan Candi Bajang Ratu.

Jcnis gapura kcdua ialah, yang bentuknya seperti bangunan candi yang dibclah dua. Maksudnya untuk memp~rmudah jalan keluar dan masuk. Contoh gapura semacam ini muncul dalam scni banguan Indonesia pada zaman Majapait. sebagaimana yang ditemukan pada relief-relief. Di bekas kota majapahit sendiri masih tegak berdiri Candi Wringin Lawang, yaitu sebuah candi bentar yang sangat besar. Demikian pula di kelompok candi Panataran terdapat candi bentar. Sayangnya kini telah roboh.

Seperti telah dijelaskan bahwa untuk raja yang wafat dan dipandang telah bersatu kembali dengan dewa panitisnya. akan dibuatkan sebuah patung. Patung tersebutlah yang akan menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya pula, candi itu memuat/ menyimpan banyak patung dewa-dewa lainnya.

Oleh karena patung itu menggambarkan dewa-dewi, maka dapatlah dikatakan bahwa seni pahat patung pada zarnan itu sangat erat berkaitan dengan aspek keagamaan. Untuk membedakan kedudukan masing-masing dewa, dibuatlah tanda-tanda khusus yang disebut laksana atau ciri.

Bunga bangkai, Rafflesia arnoldii

Bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatra, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m.

Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan Tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosontesis. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, jambi dan sumatra selatan). Taman nasional kerinci seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.

Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma. Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai “tanaman” adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Presentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Bunga bangkai juga sering digunakan sebagai julukan bagi patma raksasa Rafflesia arnoldii. Di alam tumbuhan ini hidup di daerah hutan hujan basah. Bunga bangkai adalah bunga resmi bagi Provinsi Bengkulu.

Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan ombinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74m pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91m di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, stuttgart, juga di Jerman. Namun demikian, kebon raya cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17m pada dini hari tanggal 11 Maret 2004. Bunga mekar untuk waktu sekitar seminggu, kemudian layu. Apabila pembuahan terjadi, akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji di pada bagian bekas pangkal bunga. biji-biji ini dapat ditanam. Setelah bunga masak, seluruh bagian generatif layu. Pada saat itu umbi mengempis dan dorman. Apabila mendapat cukup air, akan tumbuh tunas daun dan dimulailah fase vegetatif kembali.karena keunikan bunga ini, bunga ini sering diperjual belikan oleh manusia, itulah faktor utama bunga ini langka.

Mengapa bau busuk

DENGAN tinggi hingga 3 meter dan memancarkan bau busuk yang menyengat, bunga bangkai cukup menarik perhatian makhluk lain tertutama serangga yang akan membantu penyerbukannya. Namun, apa yang membuat bunga tertinggi di dunia itu melakukan taktik tersebut menjadi rahasia alam yang mengesankan.”Kami penasaran mengapa sesekali bunga tersebut berbau busuk seperti keledai busuk dan di waktu lainnya lebih busuk,” ujar Wilhelm Barthlott dari Universitas Bonn, Jerman. Ia yakin ada ritme produksi bau busuk yang dilepas bunga bangkai.

Untuk membuktikan dugaan siklus bau tersebut, Barthlott dan timnya merekam masa pertumbuhan bunga tersebut menggunakan kamera inframerah. Dengan merekam perubahan suhunya dari waktu ke waktu, mereka terkejut karena bagian phallus atau batang yang tegak di tengah memancarkan panas yang sangat tinggi.

Dalam investigasi tersebut, mereka telah merekam tiga kali pertumbuhan bunga bangkai. Seluruhnya mempewrlihatkan aliran panas dari batang ke ujung paling atas hingga 36 derajat Celcius dan mengepulkan uap.”Kami melihat uap mengepul di sekitar kolom bunga di tengah. Kami pikir tumbuhan tersebut menyala,” ujar Barthlott. Radiasi panas yang dikeluarkannya naik turun seiring perubahan baunya. Aliran panas dimanfaatkan untuk memompa bau busuk ke udara.

Panas dan bau busuk mungkin cara alami bunga bangkai meniru bangkai binatang untuk menarik perhatian kumbang dan lalat. Namun, siklus bau tentu memiliki fungsi alami yang lebih dari sekadar menarik perhatian.

Bunga bangkai yang biasa disebut titan arum atau dalam bahas ilmiah Amorpophallus titanum yang berarti ‘penis raksasa yang bentuknya tak karuan’ banyak tumbuh di ruang terbuka lantai hutan di Sumatera. Dengan habitat seperti itu, bunga bangkai kesulitan menyebarkan baunya terutama pada malam hari saat terbentuk lapisan udara dingin di dekat permukaan tanah.

Dengan tumbuh begitu tinggi dan memancarkan uap, bunga tersebut dapat mengatasi hambatan tersebut. Uap hangat akan naik ke atas dan dapat menyebar lebih luas dan lebih jauh.”Ini menjelaskan mengapa bunga tersebut sangat besar. Ibaratnya sebuah obor di hutan belantara yang memancarkan bau ke atas,” jelas Barthlott. Kebutuhan energi yang besar untuk tumbuh raksasa dan menghasilkan panas ini pula yang menjelaskan mengapa bunga bangkai hanya bertahan selama dua malam.

Bunga bangkai sekarang telah tersebar di berbagai tempat di penjuru dunia, terutama dimiliki oleh kebun botani atau penangkar-penangkar spesialis. Di Amerika, bunga yang muncul seringkali diberi julukan atau nama tertentu dan selalu menarik perhatian banyak pengunjung. Uniknya banyak pengunjung datang untuk “menikmati bau”nya.

Penyakit Spiritual yang Menular

Yang umum diketahui orang penyakit
menular adalah yang disebabkan infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya. Tapi tanpa disadari ada juga penyakit spiritual yang bisa menular satu sama lain. Ini dia 3 penyakit spiritual yang bisa menular.

Seperti dikutip dari HuffingtonPost, Minggu (20/6/2010) terdapat penyakit yang bisa disadari sebagai penyakit spiritual menular yang umum, yaitu:

Spiritual imitasi
Kondisi ini adalah kecenderungan untuk berbicara, berpakaian dan berindak seperti yang dibayangkan orang tersebut terhadap spiritual seseorang. Jadi orang dengan kondisi ini hanya berusaha mengikuti orang lain saja.

Karena pengalaman spiritual
Pada penyakit ini, ego seseorang diidentifikasi berdasarkan pengalaman rohani yang dialaminya. Kondisi ini terkadang bisa mempengaruhi pemikiran orang lain. Dalam kebanyakan kasus kondisi ini tidak berlangsung selamanya, tapi terkadang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Ego spiritual
Penyakit ini terjadi ketika struktur dan ego kepribadian seseorang menjadi sangat tertanam dengan konsep spiritual mendalam. Ketika ego menjadi spiritual, maka seseorang menjadi tidak bisa dipahami dan semua ini atas nama spiritualitas.

Penyakit spiritual menular ini berasal dari ego seseorang dan merupakan suatu kondisi yang menipu dirinya sendiri. Karena sebagian besar kondisi ini tidak berasal dari dirinya tapi akibat pengaruh dari orang atau lingkungan di sekitarnya.

Air Rasa Asin, Manis & Bersoda Sumber Air Tiga Rasa Diyakini Mampu Sembuhkan Penyakit

Keberadaan sumber air tiga rasa asin, manis dan bersoda ini muncul 3 bulan lalu. Saat itu sekelompok tani yakni Tani Jaya Desa Lembah mendapatkan bantuan proyek sumur P2T dari Pemkab Madiun.

Saat pengeboran sekitar 125 meter dengan ukuran pipa 3 dim air, tiba-tiba langsung menyembur air yang mengalir tanpa menggunakan mesin penyedot.

"Saat sumurnya dibor sekitar 125 meter, tiba-tiba langsung menyembur air tanpa ada mesin pompa penyedot. Airnya juga hangat buat mandi. Bahkan air ini tak hanya menyembuhkan penyakit kulit, warga yang mengalami stroke juga sembuh," ungkap Kepala Desa Lembah

Tasir mengaku setelah menyembur air tiga rasa, sekelompok tani itu akhirnya menyalurkan air ke sawah untuk irigasi. Namun setelah dibuatkan rumah pompa dan mengalir, diketahui air tersebut hangat. Ternyata hangatnya air ini membuat warga penasaran dan akhirnya dibuat mandi.

Rupanya, kata Tasir, saat warga mencoba mandi ada khasiat sendiri bagi orang yang memiliki penyakit kulit. Mengetahui hal tersebut, pihak kelompok tani membuatkan kolam renang mini ukuran 24 x 14 meter terdiri 2 skat dengan kedalaman 1 meter. Tempat itu dibangun dengan biaya warga yang memberi sumbangan seikhlasnya dari kotak yang disediakan.

Kini sumber air tiga rasa tersebut didatangi sekitar 400 hingga 500 pengunjung setiap hari. Sedangkan saat hari libur Sabtu dan Minggu pengunjung mencapai lebih dari 1.000 orang.

"Kalau hari biasa ada 500-an pengunjung dan bila hari libur bisa mencapai 1.000 lebih sehari," tuturnya.
Mereka yang datang ke lokasi ada yang dari Jawa Timur atau Jawa Tengah. Salah satu warga yang mengaku mengalami gatal-gatal yakni Agus (40) asal Ponorogo. Dia mengaku gatal-gatal di kulitnya agak membaik setelah 2 kali mandi.

"Saya sudah 2 kali ke sini untuk mandi. Sejak pertama kali mandi 2 minggu lalu sudah ada reaksi dari air hangat 3 rasa ini," jelas Agus.

Agus menambahkan, dirinya sudah berobat kemana-mana namun gatal-gatal di kulitnya tak kunjung. Namun setelah mandi, ada perkembangan baik di kulitnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sri (40) warga Ponorogo. Dirinya datang bersama rombongan menggunakan pick up. Menurut Sri, suaminya sedang maag dan gatal-gatal. Menurut Sri, suaminya cukup berkumur dan mandi dengan air yang dibawanya.

"Ini nanti buat suami saya yang sering kambuh sakit maagnya. Semoga sembuh kalau berkumur atau mandi di sini," jelas Sri sambil memasukkan air melalui botol dan dan jerigen.