Minggu, 07 Juni 2015

Nama Dan Jenis Pelacuran Dalam Sejarah Dunia

Ada berbagai macam tipe pelacur sepanjang sejarah yang telah memainkan berbagai peran dalam peradaban, mulai dari yang tersisihkan hingga yang memiliki posisi penting dalam masyarakat.inilah tipe pelacuran yang ada sepanjang sejarah.
Tawaif
http://www.anehdidunia.com
Tawaif (Pic Courtesy: chandrakantha.com)
para tawaifs dikenal sebagai seniman pertunjukan di India Utara antara abad 18 sampai awal abad 20. Sama halnya dengan geisha, mereka adalah penari dan musisi, mereka bukanlah sekedar pelacur dalam arti biasa. Banyak dari mereka yang kaya, terutama yang memilih pelanggan mereka dengan bijak. Mereka yang memiliki anak perempuan seringkali meneruskan profesi dari ibunya. Bahkan, jika mereka berasal dari garis keturunan yang panjang sebagai seorang tawaifs dapat meningkatkan status sosialnya.
Mereka dilarang menikah, namun bisa masuk ke dalam jenis hubungan resmi tertentu dengan pelanggan mereka, sehingga seolah-olah mereka memiliki hak dan kewajiban sebagai seorang istri, kecuali nama suami melekat pada mereka. Menariknya, keberadaan mereka diakui bersama dengan istri yang resmi. Dimana istri resmi ini adalah cara terhormat untuk melanjutkan garis keturunan, sementara tawaif adalah makhluk sensual yang indah dimana hanya seorang pria yang kuat dan berkuasa dapat menariknya.
Jugun Ianfu
http://www.anehdidunia.com
Jugun Ianfu (Pic Courtesy: uniqpost.com)
Jugun Ianfu atau Budak Seks pertama adalah orang Korea dari pulau Kyushu Utara di Jepang atas permintaan salah seorang penguasa militer yang dikirimkan oleh Gubernur Prefektur Nagasaki. Dasar pemikiran dibalik pembentukan sistem formal Ianjo (rumah bordil) adalah pengembangan palayanan seksual. Oleh karena itu perlu diawasi dan dikontrol untuk mengurangi jumlah terjadinya pemerkosaan yang dilaporkan dari tempat-tempat yang menjadi basis militer Jepang. Dalam proses perekrutan tersebut tidak hanya melibatkan militer tetapi juga Departemen Dalam Negeri yang membawahi para Gubernur dan polisi yang kemudian memainkan peranan dalam kerjasama dengan pihak militer untuk merekrut. Cabang khusus Shanghai menggunakan penghubung-penghubung di kalangan pedagang .

Untuk memperoleh perempuan sebanyak-banyaknya untuk melayani kebutuhan seksual miter pada akhir 1937 para perempuan yang dipaksa bekerja di Ianjo-Ianjo yang terletak diantara wilayah Shanghai dan Nanking dikelola langsung oleh militer Jepang. Ianjo ini menjadi model bagi Ianjo-Ianjo selanjutnya. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 1500 perempuan eks jugun ianfu yang sebagian besar dari mereka sudah berusia lanjut bahkan telah meninggal dunia. Perjuangan yang mereka lakukan untuk menuntut keadilan serta pengakuan tidak saja melelahkan dan lama, tapi mereka juga nyaris berjuang sendirian karena sampai saat ini tidak nampak adanya dukungan dari pemerintah terlebih pengakuan terhadap mereka.
Ying-chi
http://www.anehdidunia.com
Ying-chi (Pic Courtesy: listverse.com)
Ying-chi adalah PSK independen dan resmi dalam sejarah Cina, meskipun ini masih bisa diperdebatkan. Keberadaan mereka diakui dan diberi kredit oleh Kaisar Wu, yang telah meminta khusus untuk merekrut kaum wanita untuk tujuan tunggal mengawal pasukannya dan menghibur mereka sepanjang perjalanan panjang ke medan pertempuran. Ying-chi secara harfiah berarti “kamp pelacur,” istilah yang tidak diragukan lagi sebagai salah satu yang menyenangkan pada tahun 100 SM.
Beberapa sumber mempertanyakan klaim dari gadis-gadis ini yang menyatakan mereka sebagai pelacur Cina pertama. Dikatakan bahwa Raja Yue mendirikan kamp pelacuran pertama, terdiri dari para janda tentara yang tewas. Para wanita ini memiliki kesan yang sangat berbeda di kemudian hari, dimana mereka merupakan pelacur terhormat yang begitu populer, yang perannya adalah memberikan kaum pria “persahabatan. Ying-chi juga berbeda dari wanita-wanita yang bekerja di rumah bordir milik negara.
Auletrides
 
http://www.anehdidunia.com
Auletrides (Pic Courtesy: wondersmith.com)
Auletrides adalah kelas pelacur Yunani yang menikmati posisi yang unik dalam masyarakat. Para wanita ini memiliki keterampilan lebih dari sekedar berhubungan seksual. Mereka adalah pemain flute dan penari yang terlatih. Beberapa dari mereka juga memiliki bakat lain yang memikat publik, seperti sulap dan akrobatik. Banyak dari mereka turun ke jalan dalam pertunjukan publik yang disertakan dalam upacara keagamaan dan festival.
Beberapa sumber mengatakan bahwa mereka juga hiburan yang populer untuk anak-anak. Auletrides dapat disediakan untuk pesta pribadi juga, ketika keterampilan seksual mereka diperlukan. Lainnya, penghibur yang mirip dengan mereka adalah saltriai, atau pemain harpa, dan kitharistriai, atau pemain kecapi. Para gadis ini melapor pada seorang poroboskos, bertindak sebagai Madam, yang mengorganisasi mereka keluar untuk keperluan pesta-pesta pribadi.
Pelacur Kuil
http://www.anehdidunia.com
Pelacur kuil (Pic Courtesy: listverse.com)
Peran pelacur kuil di masyarakat Yunani-Romawi kuno adalah salah satu subyek dari banyak perdebatan. Ini bukan perdebatan apakah praktek ini populer atau tidak, namun rincian dari praktek tersebut yang masih memiliki banyak interpretasi. Pelacur kuil adalah mereka yang menjual diri di tengah-tengah kesucian kuil, dengan seijin pendeta kuil dan secara lebih luas, mereka tengah bekerja untuk Tuhan mereka. Hanya bagaimana detail pelayanan yang ditawarkan oleh pelacur kuil tersebut tidak diketahui. Beberapa kaum terpelanjar berpendapat bahwa mereka hanyalah budak yang menjual jasanya sebagai cara untuk mendapatkan uang untuk kuil tersebut.
Yang lain percaya bahwa mereka memiliki peran yang jauh lebih dihormati di dalam kuil dan dalam pemujaan pada dewa mereka, serta percaya bahwa mengunjungi pelacur kuil dan menyewa jasanya adalah bentuk ibadah. Teori ini sangat populer dalam hubungannya dengan kultus dan dewi kesuburan seperti Aphrodite. Ide dari pelacur kuil adalah umum dan ada tingkatan yang berbeda dalam hirarki kuil. Para wanita dari berbagai jenis yang masih perawan dibawa ke dalam kuil untuk mendedikasikan hidup dan tubuh mereka untuk menyembah dewa atau dewi mereka. Beberapa sumber menyatakan bahwa mereka adalah gadis-gadis muda berusia kurang dari 14 tahun yang menjadi pelacur kuil dalam masa Yunani kuno. Ada sejumlah besar bukti yang bertentangan untuk peran dari pelacur kuil ini, tetapi tanpa diragukan lagi mereka adalah bagian penting dari kehidupan kuil.
Devadasi
http://www.anehdidunia.com
Devadasi (Pic Courtesy: wikipedia.org)
Devadasi adalah wanita yang telah dipaksa masuk ke dalam kehidupan prostitusi demi pelayanan pada dewi kesuburan, Yellamma. Ketika gadis-gadis mencapai usia pubertas, orang tua mereka melelang keperawanan mereka kepada penawar tertinggi. Setelah keperawanannya diambil, mereka kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai pelacur dalam nama Yellamma. Setiap malam, nasib mereka selalu sama dijual kepada siapa pun yang membayar paling tinggi. Bagi orang tua mereka, itu bukanlah kesepakatan yang buruk. Bukan hanya mereka tidak perlu menaikkan mahar untuk diberikan kepada seseorang yang menikahi putri mereka, tetapi mereka juga banyak menyimpan uang yang dihasilkan oleh gadis-gadis tersebut.
Praktek ini telah menjadi bagian rutin dari agama Yellamma selama berabad-abad. Meskipun dilarang di India pada tahun 1988, praktek masih berlanjut sampai dengan hari ini. Stigma yang melekat pada devadasi adalah berat bahkan jika perempuan memutuskan untuk melepaskan gaya hidupnya tersebut, mereka tidak akan pernah menikah. Setelah mereka didedikasikan untuk dewi mereka, tidak ada jalan untuk kembali. Kebanyakan devadasis diusir dari kuil ketika menginjak pertengahan usia 40-an, ketika mereka tidak lagi dianggap muda dan cukup menarik untuk membawa kehormatan untuk dewi mereka, dan sebagian berubah menjadi pengemis demi menyambung hidupnya selama sisa hidup mereka.
Ganika
http://www.anehdidunia.com
Ganika (Pic Courtesy:economylead.com)
Ganika adalah versi India dari geisha Jepang. Para wanita ini menikmati kelas sosial yang tinggi di masyarakat yang berarti keberuntungan dan kemakmuran yang selalu mengikuti. Seorang Ganika tidak akan pernah menikah dan tidak pernah menjanda, sehingga mereka lolos dari stigma sosial janda. Janda dianggap pertanda yang sangat buruk dan, pada satu titik, dilarang tampil di depan publik. Masyarakat India mengakui sembilan jenis pelacur dan Ganika adalah tingkat elit dalam hirarki ini. Selain bakat seksual, Ganika diharapkan mempelajari berbagai keterampilan lain di bidang seni pertunjukan. Setelah berbagai keahlian yang disyaratkan dikuasai, wanita tersebut diangkat ke posisi Ganika.
Sementara jenis pelacur lain biasanya adalah ibu rumah tangga yang mencari uang tambahan untuk suami yang mengendalikan mereka atau pelayan yang melayani tuan mereka dengan layanan seksual, Ganika akan diberi tempat terhormat di istana kerajaan serta memiliki lagu dan puisi yang ditulis tentang kecantikan dan keterampilan mereka. Karena mereka biasanya melayani kaum bangsawan, mereka dilindungi oleh undang-undang negara. Mereka juga harus tunduk pada undang-undang juga, dan bisa dipukuli atau didenda jika menolak kaum bangsawan.
Hetaira
http://www.anehdidunia.com
Hetaira (Pic Courtesy: listverse.com)
Hetaira adalah pelacur kelas tinggi di Athena. Karena prostitusi dilegalkan disana dan para pelacur tidak bisa menjadi warga negara Athena, hetaira seringkali adalah seorang budak. Kadang-kadang, dia adalah seseorang yang tinggal di kota yang lahir dari orang tua non-Athena. Tidak seperti porne, wanita yang melakukan profesinya di balik pintu yang tertutup, hetaira seringkali terlihat di simposium.
Mereka dilarang menikah dengan penduduk asli, tapi bisa dibeli dan dibebaskan oleh seseorang, meskipun praktek seperti itu tidak disukai. Status mereka sebagai hetaira tidak akan pernah hilang, dan jika mereka tertangkap berpura-pura menjadi warga negara penuh, mereka bisa dibawa ke pengadilan. Jika terbukti bersalah mereka bisa dikembalikan ke kehidupan perbudakan. Hetaira seringkali menjadi gundik dari orang-orang yang berpengaruh dan telah dikenal sebagai model untuk patung Aphrodite, karena keanggunan dan kecantikan mereka.
Mut’ah
 
http://www.anehdidunia.com
Mut'ah (Pic Courtesy: nahimunka.com)
Mut’ah adalah salah satu subjek yang rumit. Ini adalah pernikahan sementara secara agama, di mana dua pihak masuk ke dalam perjanjian pernikahan untuk waktu tertentu. Kontrak dapat tertulis atau lisan, meliputi semua bagian dari pernikahan yang disepakati sebelumnya, termasuk berapa banyak “mahar” yang pihak wanita akan terima, jenis hubungan fisik apa saja yang akan terlibat, dan berapa lama pernikahan akan berlangsung. Di satu sisi, para pendukung metode ini mengatakan bahwa itu adalah cara untuk dua orang hidup bersama sebelum mendapatkan pernikahan secara penuh untuk melihat apakah mereka cocok satu sama lain tanpa melanggar hukum-hukum dalam agama.
Beberapa kontrak dapat menetapkan bahwa tidak akan ada kontak fisik, dan ada pula yang dilakukan di bawah pengawasan orang tua kedua belah pihak. Kontrak lainnya dapat menetapkan bahwa pernikahan hanya akan bertahan beberapa jam dan pihak wanita akan mendapatkan bayaran untuk itu. Jadi cara ini sebenarnya dapat menjadi sebuah jalan untuk mengakali prostitusi yang ditentang oleh agama. Karena adanya pilihan batas waktu dan pembayaran, mereka mengatakan bahwa itu adalah celah bagi kaum pria dan wanita muda untuk memiliki pasangan tanpa rasa bersalah dalam agama.
Semoga dengan Berita ini menambah wawasan anda. Tetap gunakan kebijaksanaan anda dalam membaca postingan kali ini.
 
sumber : http://www.anehdidunia.com/2015/05/nama-jenis-pelacuran-dalam-sejarah-dunia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar