Senin, 30 Mei 2011

Ketidakberdayaan Warga Korban Lumpur Lapindo

Memperingati 5 Tahun Luapan Lumpur Lapindo

Pemandangan berbeda terlihat dalam peringatan kelima semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, kemarin (29/5). Ritual tahunan yang dihelat di Siring Barat itu diikuti korban lumpur, warga calon peta terdampak, dan warga yang terancam masuk peta terdampak. Peringatan tersebut dilakukan dengan karnaval hingga istighotsah.

Ada ratusan korban lumpur dari berbagai desa yang berkumpul di bekas pasar buah Desa Jatirejo. Mereka berasal dari Desa Siring, Jatirejo, Renokenongo, dan Kedungbendo. Ada juga warga dari 45 RT yang kini berjuang agar bisa masuk peta terdampak. Namun, usaha mereka belum membuahkan hasil. Selain itu, ada warga dari Desa Kalidawir dan sekitarnya yang ikut meramaikan acara tersebut.

Di desa itu, Lapindo Brantas Inc akan melakukan pendalaman sumur lama dan pengeboran lagi. Warga menyatakan menolak rencana aktivitas tersebut karena khawatir terjadi hal yang sama dengan sebelumnya. Acara peringatan itu dimulai dengan long march dari bekas pasar buah Desa Jatirejo menuju tanggul Desa Siring, Kecamatan Porong. Dalam long march tersebut, mereka mengusung beragam gambar dan poster yang bernada protes dan tuntutan terhadap penyelesaian masalah sosial dari semburan lumpur.

Selain itu, ada teatrikal yang menggambarkan derita warga akibat luapan lumpur. Abdul Fattah, warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, mengatakan bahwa peringatan kelima tersebut diikuti peserta yang lebih banyak. Warga yang pada peringatan sebelumnya tidak ikut kini bergabung. ”Kali ini kami warga korban lumpur bersatu. Kami menuntut agar kewajiban terhadap semua warga korban lumpur diselesaikan,” ucapnya.




Kegiatan istighotsah yang juga dipimpin Abdul Fattah diharapkan mampu menggugah pemerintah dan Lapindo Brantas Inc untuk segera melaksanakan kewajibannya. Meski sudah lima tahun berjalan, aneka permasalahan tidak kunjung selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar