Tampilkan postingan dengan label stadion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stadion. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Maret 2014

Barcelona dan Pemberontakan yang Tak Pernah (Dibuat) Selesai





“Barcelona adalah senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara,” Manuel Vazquez Montalban.

El Clasico bukan sekadar pertarungan 90 menit di lapangan antara Real Madrid melawan Barcelona. Ini adalah pertarungan dua bangsa dalam sebuah negara bernama Spanyol.

Memang, bayangan kudeta, perlawanan, atau pemberontakan akan selalu membayangi El Clasico. Karena itu pula gaungnya akan selalu lebih tinggi, dinanti, dan diikuti ketimbang laga besar lain, atau derbi sekalipun. Sebab yang klasik sudah tentu punya nilai lebih tinggi.

Kedua klub memang selalu (dan akan senantiasa) berseberangan karena paham-paham klasik. Real klub ibu kota, Barca pinggiran dan lepas pantai. Real asli Spanyol, Barca kebanyakan imigran. Fans Real menganut paham kanan yang nasionalis, fans Barca memilih kiri dengan etno nasionalis. Dan, tentu saja, Los Blancos jadi wakil kerajaan, sementara Blaugrana sang pemberontak.

Bangsa Imigran yang Ingin Merdeka

Biasanya, kisah pemberontakan biasanya lahir dari tanah kesengsaraan. Tapi tidak dengan cerita dari Katalunya. Daerah yang berada di pesisir pantai ini sebenarnya lebih maju dan kaya.

Bahkan ketika belum bersatu dalam Kerajaan Spanyol, Katalunya adalah pusat perdagangan, kebudayaan, dan jalur utama masuk ke Spanyol, dengan banyak saudagar dan kapitalis yang berkuasa di Spanyol berasal dari Barcelona. Tak heran jika mereka merasa lebih dulu tahu tentang dunia luar, ketimbang Madrid yang pusat pemerintahannya di tengah-tengah Spanyol.

Di pantai Katalunya, imigran-imigran yang tersisih dari negaranya masing-masing diterima dengan baik. Mereka dianggap saudara senasib. Dan pembauran inilah yang menjadikan Katalunya merasa berbeda. Mereka berpikir sebagai bangsa yang harus bebas. Apalagi para awak kapal yang bersandar di pelabuhan kerap membawa cerita indah tentang kemerdekaan negara-negara luar.

Menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan juga membuat Katalunya berpikir bahwa mereka lebih besar dari Spanyol. Apalagi Katalunya selalu berada di bawah pendudukan politik tuan tanah Kastilia yang tinggal di Madrid, meski lebih maju secara ekonomi. Katalunya hanya sapi perah bagi kumpulan orang udik tak berdaya yang duduk-duduk manis di Madrid.

Keresahan itu lalu dimanfaatkan oleh pengusaha Swiss dan eks kapten FC Basel, Joan Gamper, dengan beberapa ekspatriat Inggris yang doyan sepakbola. Mereka mendoktrin Katalunya bahwa perjuangan mereka bisa disuarakan melalui sepakbola.

Gamper, yang kemudian meminta dirinya dipanggil “Hans Gamper” agar lebih Spanyol, mendirikan Football Club Barcelona pada 1899. Sang presiden pertama, yang belum move on dari FC Basel itu, lalu memilih warna merah biru klub lamanya untuk dipasang di Barcelona. Berikut pula terkait logo. Gamper menyelipkan logo FC Basel dan logo bendera negara Swiss di dalam logo Barcelona.

Klub itu kemudian dibalut slogan, “Mes que un club”, atau lebih dari sebuah klub. Tagline itu untuk selalu mengingatkan bahwa Barca bukanlah klub sepak bola biasa dan bahwa Katalunya bukan sekadar daerah biasa. Ada yang diperjuangkan dengan didirikannya klub ini.



Seorang penulis kontemporer besar di Spanyol, Manuel Vazquez Montalban, dalam novelnya berjudul "Offside", menggambarkan Barca dan Katalunya dengan kalimat, "senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara".

Dengan identitas itulah Barca dan Katalunya terus menunjukkan identitas mereka yang istimewa dan perlahan mengeluarkan hawa memberontak.

Tapi pemberontakan ini boleh dikatakan setengah-setengah. Sedari dulu Katalunya memang bergaya ingin merdeka dan mengklaim lebih besar ketimbang Spanyol. Namun tak pernah ada usaha serius untuk memberontak, atau katakanlah melakukan perang demi mewujudkan kemerdekaannya sendiri.

Patut diingat bahwa sebagai kota perdagangan dan industri, selain memiliki buruh, Katalunya juga jadi gudangnya orang kaya yang borjuis. Meski ideologi sosialisme dan anarkisme tumbuh subur disana, Katalunya-pun adalah rumah bersahabat bagi kapitalis yang mengenggam Spanyol.

Pilihan Raja

Meski hanya setengah-setengah, aura permusuhan dari publik Katalunya tetap sampai pada Kastillia yang menguasai Spanyol. Ditambah lagi saat itu mulai muncul gelagat pemberontakan dari anti monarki. Di bawah kekuasaan Raja Alfonso XIII, para Kastillia juga mencari cara untuk mengatasi para kelompok anti monarki, terutama Katalunya dengan Barcelonanya.

Mereka mencoba membentuk klub tandingan di Barcelona pada 1900. Klub ini dinamakan Espanyol dengan nama yang diambil dari kata Espana dan Spanyol, demi alasan nasionalisme. Belakangan klub ini malah terlihat jadi blunder. Espanyol yang mewakili Spanyol malah lebih kecil ketimbang Barca yang hanya mewakili Katalunya. 

Tak hanya di Barcelona, kerajaan Kastillia juga membentuk klub-klub nasionalis pada beberapa kota. Penggunaan kata Real (Royal, kerajaan), adalah ciri dari klub-klub bentukan mereka.

Di Madrid yang merupakan kota pusat pemerintahan, kerajaan juga berupaya membuat klub besar untuk menandingi Barcelona. Namun di sana sudah terlanjur berdiri Madrid Football Club yang didirikan Juan Padros pada 1902. Klub ini adalah hasil usaha Padros dalam menyatukan kembali New Foot-Ball de Madrid dan Club Espanol de Madrid yang terpecah dari induknya, Football Club Sky (berdiri 1897).

Tak perlu berepot-repot lagi mendirikan klub lagi, kerajaan kemudian memilih Madrid FC untuk jadi wakilnya. Tim ini pun diberi subsidi dari kerajaan.

Selain letaknya di Madrid, Raja Alfonso, memilih klub ini juga karena prestasinya. Salah satunya dengan menjuarai Piala Spanyol 1905. Lebih-lebih mayoritas pemainnya bermain untuk tim nasional kerajaan yang menggunakan nama Royal Spanish Football Federation.

Raja Alfonso pun lalu memberikan tambahan kata Real (Royal) pada Madrid FC, sehingga namanya berubah menjadi Real Madrid club de Futball pada 1920.

Sempat Di Atas Angin

Liga pertama di Spanyol pada 1929 kian melecut semangat Katalunya. Saat itu, dari 10 klub peserta, Barcelona dikepung lima klub milik kerajaan. Mereka adalah Real Club Deportivo Espanol, Real Racing Club de Santander, Real Madrid Foot-ball Club Madrid, Real Sociedad de Foot-ball, dan Real Union Club.

Karena semangat yang tinggi, Barcelona kemudian lolos ujian pertamanya ini. Mereka jadi juara dengan keunggulan dua angka dari Madrid pada akhir musim. Publik Katalunya senang dan bangga, sementara Kastillia gigit jari.

Setelah merebut dua gelar juara di kompetisi berikutnya, Madrid sempat terpuruk karena berdirinya negara republik demokratis, Segunda Republica Espanola. Kekuasaan King Alfonso pun jatuh, menyusul anti monarki yang memenangkan pemilihan secara mayoritas.

Sang raja lalu kabur ke luar negeri saat Republik Kedua Spanyol diproklamirkan pada 14 April 1931.

 Pada masa pendudukan Segunda Republica Espanola yang berlangsung hampir delapan tahun ini, Barcelona berada di atas angin. Mereka punya banyak teman senasib untuk benar-benar mewujudkan pemberontakan dan kemerdekaan. Tapi mereka tetap tidak berani menyuarakan kemerdekaan Katalunya sendiri.

Dengan restu raja, Generalissimo Francisco Franco akhirnya mampu mengembalikan kekuasaan kerajaan pada 1939. Kali ini giliran para pemberontak dibumi-hanguskan. Tak terkecuali Barcelona yang selalu mendengungkan superiotas kebangsaan Katalunya.

Perang saudara di Spanyol pun pecah.

Sebagai pendukung Real Madrid, Franco juga mengikuti perkembangan sepakbola secara obsesif. Ia juga tahu bahwa Barcelona adalah alat Katalunya. Menurutnya, kesebelasan Barca adalah deretan keempat yang harus disapu bersih dari Spanyol setelah kelompok komunis, anarkis, dan separatis.

Sebenarnya, Franco bisa saja membunuh semua orang yang berkaitan dengan Barca untuk menyapu bersih segala hal yang berkaitan dengan Katalunya. Namun ia mengurungkan niatnya.

Alih-alih membumi-hanguskan, Franco lebih berkonsentrasi untuk membunuh semangat perlawanan Barca dan sejarahnya. Seperti saat pengeboman Katalunya pada 16-18 Maret 1938. Yang dihancurkan Franco adalah kantor Barcelona tempat menyimpan piala-piala kesebelasan, bukan Nou Camp.

Ia tentu saja bisa meratakan Nou Camp, sebagaimana ia bisa melarang publik Katalunya menggunakan bahasa ibunya sendiri. Tapi opsi ini tidak dilakukannya. Franco malah sengaja membuat Nou Camp sebagai tempat publik Katalunya meneriakkan perlawanan. Prinsipnya sederhana. Daripada Katalunya bergerilya di luar, Franco membuat suara-suara pemberontakan itu hanya bergema di dalam stadion.

Tujuannya jelas, rakyat Katalunya dipaksa hanya menyalurkan kemarahan mereka saat pertandingan berlangsung. Pada tempat yang ditentukan Franco, pada waktu yang disediakan Franco. Perlawanan melalui chant dan bendera khas senyera di dalam stadion, yang merupakan alat pelampiasan amarah penduduk Katalunya, sebenarnya justru alat peredam perlawanan yang paling efektif.

Dengan dibuat puas bersuara di dalam stadion, penduduk Katalunya justru dibungkam perlawanannya.

Franco juga tak membubarkan Barcelona. Ia masih bermurah hati dengan hanya meminta klub tersebut mengganti nama dengan menggunakan bahasa Kastillia, Club de Futbal Barcelona.

Ia juga mengerdilkan sejarah Barca. Pada 1943, dalam semifinal Piala Generalissimo (sekarang Copa Del Rey), ia menebar ancaman hukuman mati kepada Blaugrana. Hasilnya, Real yang menjadi lawan Barca menang fantastis 11-1. Kemenangan yang selalu dijadikan didengungkan Real tentang sejarah.

Pada akhirnya Franco sukses memadamkan pemberontakan di Spanyol. Segunda Republica Espanola, yang mengungsi ke Meksiko, membubarkan diri pada 1976.

Namun Franco tak pernah bisa memadamkan semangat perlawanan pendukung Barcelona pada pemerintah dan alatnya, Real Madrid. Sakit hati kepada Real dan Kastillia tetap abadi hingga kini. Tapi, tetap sebatas pertandingan sepakbola dan di dalam Nou Camp.

Karena sikap yang tak pernah benar-benar mau memberontak itulah, Katalunya paling banter hanya mendapatkan otonomi atau daerah istimewa di Spanyol. Mereka tak pernah benar-benar bebas dan tak pernah benar-benar menuntut. Kemerdekaan dan kebesaran Katalunya hanya ada di dalam stadion.

Persis seperti yang diinginkan Franco.
 

Kamis, 06 September 2012

11 Stadion Termahal di Dunia

Apa nama stadion termahal di dunia? Santiago Bernabeu? Allianz Arena? Emirates Stadium? Bukan. Jawabannya adalah MetLife Stadium, kandang dua klub American Football, New York Jets dan New York Giants.

Berapa harga total pembangunan MetLife Stadium? 1,6 miliar dolar atau sekitar Rp 16 triliun. Jumlah tersebut sama dengan keuntungan yang diraih UEFA dalam penyelenggaraan Euro 2012 lalu.

Untuk urusan termahal, stadion-stadion klub sepakbola strata teratas di Eropa ternyata masih kalah dari beberapa klub American Football. Berikut adalah stadion-stadion termahal sejagat raya:


11. Lucas Oil Stadium


Lucas Oil Stadium adalah markas klub American Football, Indianapollis Colts. Total pembangunan stadion ini menelan biaya 735 juta dolar AS atau sekitar Rp 7 triliun.

Biaya yang tentu saja sepadan jika mengingat bahwa stadion ini juga memiliki lapangan basket yang bisa digeser, atap yang bisa dibuka-tutup secara otomatis, dan sebuah jendela berukuran raksasa di ujung utara stadion yang secara otomatis juga bisa dibuka untuk pencahayaan.

10. Emirates Stadium


Markas Arsenal ini sejatinya telah selesai sejak 2006 lalu dengan biaya "hanya" mencapai 350 juta dolar AS (Rp 3,15 triliun). Akan tetapi, dengan nilai inflasi sekarang, dan renovasi yang terus dilakukan, biaya tersebut kini membengkak menjadi 750 juta dolar (Rp 7,5 triliun), atau setara dengan jumlah yang dikeluarkan Mikail Prokhorov, seorang biliuner Rusia dan pemlik klub basket Brooklyn Nets, kala membeli sebuah vila peninggalan raja Leopold Belgia pada tahun 1902 yang terletak di Prancis.

Sebagai catatan, pembangunan Emirates Stadium, yang memiliki kapasitas 60.400 kursi itu merupakan sebuah kelangkaan dalam sepakbola Inggris karena mencantumkan nama sponsor sebagai nama stadion.

9. Soldier Field


Klub American Football kembali menyodorkan nama stadionnya sebagai salah satu yang termahal di dunia. Kali ini adalaj stadion milik klub Chicago Bears, Soldier Field. Pembuatan stadion yang dulu dinamakan Municipal Grant Park Stadium itu ditaksir hingga mencapai nominal  755 juta dolar AS atau sekarangkira-kira Rp 7,2 triliun.

Meski megah dan mewah, tetapi stadion berkapasitas 61.500 tempat duduk ini tak lepas dari kritik. Blair Kamin, salah seorang kritikus arsitektus ternama di Chicago menyebut stadion itu telah "merusak pemandangan indah di danau Shore". Kendati demikian, stadion ini juga sempat mendapat penghargaan dari American Institute of Architects di tahun 2004 karena desainnya yang menawan.

8. London Olympic Stadium


Stadion ini dibangun sebagai salah satu sarana Olimpiade 2012 yang diselenggarakan di London. Pembuatan awal stadion berkapasitas 80.000 tempat duduk ini "hanya" menghabiskan dana 486 juta dolar AS (Rp 4,6 triliun), tetapi kini angka tersebut mencapai total hingga 775 juta dolar atau sama dengan 7,4 triliun rupiah.

Biaya super besar tersebut tampak konyol, sebab pasca Olimpiade 2012 selesai, stadion tersebut tak lagi memiliki fungsi apapun. Kini pihak Komite Olimpiade London tengah berusaha menjual stadion itu berbagai pihak. Kabarnya, Tottenham Hotspur dan West Ham menjadi dua klub yang berminat untuk membelinya.

7. Rogers Centre


Ada dua tim yang menempati stadion bernilai 914 juta dolar AS atau Rp 8,7 triliun ini: Toronto Blue Jays dari Major League Baseball dan Toronto Argonauts dari Canadian Football League.

Stadion dengan biaya yang diperkirakan dapat untuk membuat lintasan monorel kurang lebih sepanjang 30 kilometer di Jakarta itu ternyata juga multifungsi, lantaran juga terdapat sebuah hotel dengan 348 kamar, di mana 70 di antaranya menghadap langsung ke lapangan.

Fakta lain, ternyata stadion yang kini bernama SkyDome itu adalah stadion pertama di dunia yang menggunakan atap otomatis pertama.

6. Citi Field


New York Mets adalah juragan di stadion berbiaya sebesar 922 juta dolar ini atau setara dengan 8,8 trilun rupiah. Dana yang nyaris sama dengan total anggaran Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia untuk tahun 2013.

Apa yang membuat stadion berkapasitas  41.922 bangku ini menjadi mahal? Salah satunya adalah, di dalamnya terdapat The Delta Sky360 Club, sebuah bangunan yang memiliki konsep restoran, kafe, dan bar, dengan 1.600 bangku dan dibuat dengan standar yang eksklusif.

5. Madison Square Garden


Salah satu ikon kota New York City. Stadion ini terdiri dari beberapa bangunan, antara lain adalah lapangan basket, lapangan hoki es, hall concert, ring tinju -- yang juga bisa dimodifikasi menjadi arena gulat --, dan 82 ruangan super mewah untuk menonton pertandingan.

Dibuka sejak 1968, stadion yang disebut sebagai arena tertua untuk National Hockey League dan National Basketball Association ini memiliki total harga--termasuk renovasi dan sebagainya -- hingga 1,1 miliar dolar atau nyaris sama dengan 10 triliun rupiah.

4. Wembley Stadium


Inilah salah satu stadion kebanggaan warga Inggris. Selain dapat digunakan untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola, "The New Wembley" yang letaknya di London ini juga bisa mengakomodir pertandingan rugby, American Football, konser musik, dan lomba atletik.

Kapasitas tempat duduk untuk tiap event pun berbeda-beda. Untuk sepakbola dan rugby, Wembley Stadium menyediakan 90.000 kursi, untuk American Football 86.000, untuk konser bervariasi, dari 75.000 hingga 90.000 tempat duduk dan juga tersedia area berdiri yang dapat menampung sekitar 15.000 orang, lalu untuk atletik tersedia 60.000 hingga 72.000 tempat duduk.

Berapa dana yang diperlukan untuk membangun markas tim nasional Inggris ini? 1,25 miliar dolar AS atau sekitar lebih dari 11 triliun rupiah.

3. Cowboys Stadium


Stadion yang memiliki daya tampung 80.000 tempat duduk ini -- yang dapat ditingkatkan menjadi 111.000 jika ditambahkan area untuk berdiri -- adalah markas dari klub American Football, Dallas Cowboys.

Selain sebagai arena American Football, stadion ini juga bisa disulap menjadi lapangan basket dan tinju. Rekor penonton di stadion seharga 1,33 dolar atau nyaris lebih dari Rp 12 triliun ini adalah ketika pertandingan antara Dallas Cowboys vs. New York Giant, yang menyedot hingga 105.121 penonton.

2. Yankee Stadium


Klub bisbol New York Yankees adalah tuan rumah stadion yang terletak di Bronx, New York ini. Berdiri sejak 1923, Yankee Stadium sempat direnovasi oleh negara pada tahun 1976, lalu renovasi paling mutakhir dilakukan pada 2009.

Berdiri di area seluas 46.000 m2, di dalam Yankee Stadium juga terdapat sebuah museum yang menyediakan video-video memorabilia New York Yankees, beberapa restoran dan kafe -- di antaranya Hard Rock Cafe --, serta ruangan untuk terapi pemain dengan sebuah kolam renang di dalamnya.

Stadion ini menelan biaya total pembangunan sebesar 1,5 miliar dolar atau kira-kira Rp 14 triliun.

1. MetLife Stadium


New York Giants dan New York Jets pantas berbesar hati karena menjadi si empunya stadion termahal di dunia ini. Awalnya kedua tim tersebut berbagi markas di Giants Stadium. Dan sejak 2010 lalu, kedua tim kini pindah ke MetLife Stadium, yang letaknya hanya bersebelahan dengan rumah tua mereka.

Sebagai catatan, Juventus dan AC Milan sempat bertanding di Giants Stadium dalam laga Super Coppa 2003 lalu. Kini MetLife Stadium -- sebagaimana Giants Stadium -- masih tercatat sebagai satu-satunya stadion di NFL yang menjadi markas dua tim sekaligus.

Lalu berapa harga stadion termahal dunia ini? 1,6 miliar dollar (sekarang kira-kira Rp 15 triliun) atau "hanya" terpaut satu triliun rupiah dari Yankee Stadium.

Minggu, 22 Juli 2012

Melihat Stadion Olimpiade Pertama di Dunia



Kota London di Inggris menjadi tuan rumah Olimpiade tahun ini. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Olimpiade pertama digelar di dekat Pegunungan Elis, Yunani.

Olimpiade pertama digelar pada 776 SM. Semenjak itu, hingga 395 SM, masyarakat Yunani Kuno berbondong-bondong mendatangi Olympia, nama tempat berlangsungnya ajang tersebut. Tidak seperti Olimpiade versi modern, Olimpiade zaman itu mengkombinasikan agenda kompetisi olahraga sekaligus pemujaan Dewa.

Hal itu dilakukan sebagai penghormatan terhadap Zeus, Dewa paling berkuasa di masa Yunani Kuno. Oleh karena itu, berkunjung ke Olimpia juga merupakan wisata ziarah karena terdapat makam suci bernama Altis, juga Temple of Zeus.

Olympia terletak di Peloponnese, di sebuah dataran subur di utara Sungai Alpheios, dekat Pegunungan Elis. Wilayah itu terletak di barat Yunani, dekat dengan Kota Pyrgos. Berkendara melewati lanskap pegunungan tandus yang mengelilingi wilayah Olympia akan mengingatkan wisatawan, betapa sulitnya mencapai wilayah ini di masa dulu.

Selain lapangan Olympia yang sudah rata oleh tanah, tempat yang jadi tujuan wisatawan adalah makam suci Altis. Mengutip buku "1001 Historic Sites You Must See Before You Die" yang dikutip detikTravel, Senin (23/7/2012), di dalam kompleksnya terdapat Temple of Hera dan Temple of Zeus.

Situs Olympia baru ditemukan pada 1829, saat French Expedition Scientifique de Moree menemukan dan membuat penelitian di sana. Walaupun tak banyak bangunan yang tersisa, namun kompleks Olympia masih punya atmosfer yang sangat kuat.

Pertandingan Olimpiade ala barat seperti yang akan digelar di London nanti, berawal dari sini. Berkunjung ke Olimpia akan membuat khayalan Anda terbang tinggi, pertandingan seperti apa yang digelar di tengah lapangan luas ini. Bayangkan juga, dulu hanya seorang lelaki yang boleh mengikuti pertandingan ini. Ia bertarung seorang diri dalam 20 pertandingan berbeda. Ketika menang, ia akan dianugerahi mahkota daun Olive yang tersohor hingga sekarang.

Rabu, 04 Juli 2012

Spanyol Berpesta

Peluit akhir berbunyi, papan skor menunjuk angka 4-0. Spanyol pun berhasil mempertahankan titel Piala Eropa mereka. Kini waktunya berpesta. Usai memenangi turnamne Piala Eropa, Spanyol berpesta dengan mengarak tropi piala tersebut keliling Madrid, Spanyol, Selasa (3/7/2012). Ribuan warga Madrid berpesta mengerumuni pemain Spanyol yang sukses mengalahkan Italia 4-0. 












Aremania Beraksi Lagi