Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2012

Laskar Pelangi Siap Dibuat Versi Hollywood



Setelah sukses memukau penonton Indonesia, film Laskar Pelangi kembali menorehkan prestasi. Film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata itu akan diproduksi ulang oleh Brad Pitt's Company milik aktor Hollywood Brad Pitt yang juga memproduksi film Eat Pray Love.

"Saya sangat terkejut ketika mendapatkan kabar ini. Saya tidak menyangka, karya saya dapat memikat Hollywood. Ketika saya menerima email itu dari manajemen internasional saya di Amerika, saya pikir ini adalah berita besar bagi Indonesia, amazing!" tutur Andrea Hirata di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pria yang meraih gelar master di sebuah perguruan tinggi di Inggris ini bahkan tak menyangka bahwa karyanya akan diapresiai sejauh ini. Ia merasa bahwa dirinya hanyalah putra daerah yang tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis yang karyanya akan difilmkan di Hollywood.

“Kadang saya berpikir, saya ini hanya anak kampung yang cuma punya mimpi. Saya cuman modal keyakinan dan kini saya tahu bahwa saya telah membawa nama Indonesia ke Hollywood,” katanya.

Menurut Andrea, rencanan ini telah disetujui oleh poduser dan sutradara yang terdahulu Mira Lesmana dan Riri Riza yang telah memberikan izin pada pihak Hollywood untuk membuat ulang film fenomenal, Laskar Pelangi.

"Mira dan Riri juga sudah menyetujuinya, ini langkah besar, manajemen saya sedang mengurus kontraknya," ujarnya. “Saya berharap Pemerintah mengapresiasi para penulis agar dapat menghasilkan karya yang mampu bersaing,” katanya.

Minggu, 10 Juni 2012

Motor di Film-film Indonesia Dekade 1970-an

Geng motor bukan fenomena baru. Jika ditelisik, akarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. Di dekade itu pula, motor muncul tidak sebagai benda tunggangan, tapi juga ikon pemberontakan. Hal ini terwujud lewat film-film kita masa itu.  

AHLI-TOPAN-copy-1



Tengok adegan ini. Jalanan yang damai itu tiba-tiba dibikin ribut oleh deru suara motor. Beberapa motor melintas. Pengendaranya ugal-ugalan. Ada yang naik motor sambil berdiri. Kamera lalu menyorot rambu lalu lintas dilarang masuk seolah hendak mengatakan mereka telah melanggar hukum.

Geng motor tersebut berhenti di sebuah bar. Menjemput teman yang minum-minum lalu bayar hanya  100 rupiah. Mau latihan band, kata salah seorang dari mereka. Mereka mengusai jalanan lagi seolah milik nenek moyangnya. Ada tukang roti melintas mereka ganggu sampai si tukang roti kabur. Ke tukang rokok pinggir jalan, mereka ambil rokok satu dus tanpa membayar. Sepanjang jalan geng motor ini ugal-ugalan tiada henti. Jalan meliuk-liuk, ciuman di tengah jalan, sampai berhenti di lampu merah bikin jalanan macet.

Itulah bagian awal film Darah Muda (1977) yang dibintangi Rhoma Irama yang sedang menapaki karier menuju tahta sang raja dangdut. Tentu, bukan Rhoma yang bertingkah ugal-ugalan di jalanan itu. Justru Rhoma yang kemudian berhadapan dengan geng motor kelompok musisi rock Apache, tempatnya dulu bernaung sebagai anggota band sebelum akhirnya memilih dangdut.

Filmnya utamanya berkisah soal konflik musisi rock versus penyanyi dangdut. Namun, menarik juga menengok bagaimana motor digambarkan di film ini.

roy-marten-troy

Roy Marten di "Roda-roda Gila" (repro.Kompas)
Rocker Bermotor

Pertama-tama, sineasnya (film ini disutradarai Maman Firmansjah dan skenarionya ditulis Sjuman Djaya) melabelkan motor identik dengan musisi rock. Kayaknya nggak keren kalau anak rock tak pakai motor. Tapi pakai motor saja tak cukup. Rocker kalau pakai motor menguasai jalanan selayaknya raja. Di jalan, rocker bertingkah ugal-ugalan seenaknya dengan motor.
Bagi kebanyakan anak muda hingga tahun 1970-an, motor adalah impian. Hanya segelintir anak muda yang punya motor. Kebanyakan mereka ke sekolah naik sepeda atau naik angkutan umum becak, opelet, atau bus. Tak jarang anak muda zaman itu memajang gambar motor di kamar. Motor telah menjadi citra cowok gagah. Mereka terkesan pada geng motor yang bertingkah ugal-ugalan seperti di film-film Hollywood, seperti dicitrakan geng motor Hells Angels.

Hells Angels menjadi nama yang tenar karena kebrutalannya. Mereka disebut sebagai outlaw motorcycle club, geng motor liar yang pertama dibentuk di California, AS, pada 1948. Catatan buruk mereka terpatri hingga kini ketika Hells Angels disewa menjaga keamanan konser grup rock Rolling Stones di Altamont, California, pada 1969. Bukannya menjaga keamanan, konser itu malah rusuh hingga jatuh korban tewas. Namun, peristiwa itu malah makin membuat nama Hells Angels makin dikenal. Mereka dianggap sebagai counter culture, simbol anti kemapanan, tak takut hukum. Pengaruh anti kemapanan geng motor motor klop dengan citra rocker. Maka, rocker pun bermotor agar citra yang disampaikannya makin kentara.   

Namun, di era Orde Lama Soekarno sikap anti kemapanan ini relatif berhasil dibendung. Soekarrno melarang musik Barat yang disebutnya “ngak ngik ngok” hingga memenjara Koes Plus segala. Saat Soekarno jatuh dan Orde Baru yang lebih pro Barat berkuasa di akhir 1960-an, pengaruh budaya Barat, termasuk counter culture-nya pula ikut terimpor tanpa filter ke sini.   

Namun, karena pada dasarnya kita orang Asia, pasar motor kemudian dikuasai Jepang, bukan Amerika atau Eropa. Produk Jepang yang relatif lebih murah dan ukuran motornya lebih sesuai dengan postur orang Asia, membuatnya jadi pilihan. Produk motor Jepang muncul sejak awal tahun 1960-an. Waktu itu yang punya motor masih sedikit, hanya anak muda dari kalangan menengah atas.

ali-topan-ist12
Adegan film "Ali Topan Anak Jalanan" (repro.Kompas)
Di paruh kedua 1960-an, motor Jepang makin mengusai jalanan menyingkirkan motor-motor Eropa seperti BMW, Harley Davidson, Norton, Ducatti, dan beberapa merek lain. Di akhir 1960-an dan awal 1970-an, saat Orde Baru semakin membuka hubungan baik dengan Jepang, motor-motor Jepang juga semakin banyak di jalanan jadi tunggangan pribadi anak-anak muda.
Roy Marten dan Ali Topan, Simbol Anak Muda ’70-an  
  
 Salah satunya Roy Marten. Aktor gaek ini mengalami masa muda di era 1960-an dan 1970-an di Salatiga, Jawa Tengah. Roy termasuk anak muda yang punya motor di kota itu. “Saya hitung waktu itu anak muda Salatiga yang punya motor hanya 9 orang. Jadi, dengan mendengar suara motornya saja, saya tahu itu motor siapa,” kata Roy seperti dikutip Kompas, 20 November 2005.
Dari kecintaannya pada motor, Roy mereka-reka cerita dengan Masmbez membuat skenario film Roda-roda Gila pada 1978. Dibesut Dasri Yacob, film itu melibatkan Roy dan Yati Octavia sebagai bintang utama. Roy mengisahkan seorang superstar balap motor yang egois bernama Troy yang diperankannya sendiri. Dia tidak saja jago balap motor, tapi juga jago merayu cewek. Salah satu pengagumnya, Inggrid (Yati Octavia) dikencaninya lalu hamil. Tapi, Troy ogah tanggung jawab. Kakak Ingrid, Yopie (Rudy Salam) yang juga pembalap ingin menghancurkan Troy.

Menarik menyimak bagaimana Troy yang sombong dan ogah bertanggung jawab pada cewek yang dihamilinya justru tetap ditempatkan sebagai protagonis di film ini. Penonton diajak berpihak padanya, walau sifatnya tak terpuji. Sineasnya malah tetap mencitrakan Troy dan motornya sebagai sosok keren. Seolah-olah dengan tampang ganteng dan tunggangan motor keren, bertingkah sombong dan tak bertanggung jawab pun tak mengapa.

Roy Marten di era 1970-an memang sosok hero pujaan di layar lebar. Para wanita menginginkannya, sedang para pria mendamba ingin seperti dirinya. Remaja zaman itu melihatnya lagi jadi sosok keren penakluk cewek di film Kampus Biru.

Motor yang digunakan Roy di Roda-roda Gila adalah jenis motor yang saat itu lazim disebut motor trail, jenis motor hyang digunakan di lomba motocross yang mulai ngetren di tahun 1970-an. Jenis motor ini pula yang digunakan Ali Topan si anak jalanan. Di film Ali Topan Anak Jalanan, Ali dan kawan-kawannya mengarungi jalanan dengan motor trail. Filmnya yang rilis 1977 diangkat dari cerita bersambung di majalah Stop pada awal 1970-an karya Teguh Esha.

Baik di novel dan filmnya, Ali Topan digambarkan sebagai anak yang dibesarkan di jalanan. Ibunya sibuk dengan urusannya sendiri, sedang ayahnya keluar masuk hotel dengan perempuan lain. Di jalan, dengan motornya, Ali menemukan jati dirinya.

Kamis, 31 Mei 2012

Film Animasi "Pada Suatu Ketika "

Cuplikan film animasi besutan Lakon Animasi ini memang pantas mendapatkan dua buah acungan jempol. Pasalnya, film animasi pendek buatan anak negeri yang satu ini gak kalah bagus dari pesohornya yaitu beberapa distributor film - film animasi Hollywood seperti Paramount Picture dan FreamWorks Pictures. Film animasi yang kami bicarakan ini berjudul Pada Suatu Ketika, menceritakan tentang datangnya alien ke muka bumi Indonesia dan merubah bajaj - bajaj jadi robot, he2.. Ups, tunggu dulu.. Jangan membayangkan film ini seperti film - film made in Indonesia pada umumnya, karena film ini beda! Penasaran, silahkan lihat cuplikan gambar atau videonya dibawah ini, yang merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya INDONESIA BISA!

silahkan lihat Videonya di bawah ini :

Senin, 28 Mei 2012

Dewi Persik Beraksi di Bundaran HI

Pedangdut dan bintang film Dewi Persik melakukan atraksi mengendarai motor Harley dengan mengenakan pakaian cat women. Tak lupa ia juga berpose seksi diatas motornya di Bundaran Hotel Indonesia, Senin (28/5). Aksi tersebut dalam rangka mempromosikan film terbarunya. Di film terbarunya itu, ia juga beradu peran dengan Mr Bean.






Rabu, 07 Maret 2012

Film Hari Ini Pasti Menang, Indonesia Lolos Piala Dunia 2014


Timnas Indonesia berhasil lolos melaju ke perempat final Piala Dunia 2014? Sesuatu kabar yang sangat diinginkan seluruh rakyat Indonesia. Sayangnya itu hanya cerita yang ada di film berjudul "Hari Ini Pasti Menang".

Memang tak ada yang mustahil di dunia ini, semoga saja film ini bisa membakar semangat dan optimisme seluruh insan sepak bola Indonesia.

Film baru garapan Andibachtiar Yusuf atau yang biasa dikenal dengan nama Ucup ini menceritakan tentang berhasilnya Indonesia menembus Piala Dunia 2014 Brasil sekaligus mencatatkan seorang pemain timnas Indonesia bernama Gabriel Omar Baskoro yang menjadi top skor di ajang perhelatan akbar sepak bola dunia tersebut.

Tak diragukan lagi sineas Indonesia satu ini dalam menggarap film layar lebar yang bertemakan olah raga khususnya sepak bola.

The Jak, The Conductor, dan Romeo Juliet (Romjul) merupakan karya sebelumnya dari sutradara muda, Andibachtiar Yusuf.

"Hari Ini Pasti Menang" tak hanya bertujuan yang bersifat komersil, diharapkan film ini bisa memberikan pesan moral kemajuan sepak bola Indonesia yang saat ini kondisinya sedangkan mengalami masa 'kritis' karena carut marut akibat perselisihan egoisme pribadi atau kelompok dari elit persepakbolaan Indonesia.

Nama-nama seperti Ray Sahetapy, Tika Putri, Desta, Ibnu Jamil dan Mathias MuchusZendhy Zain.


Saksikan trailernya di video berikut ini:
 

Minggu, 05 Februari 2012

Film Indonesia "The Raid" menghentak dunia


Apa lagi yang paling dikenal dunia dari Indonesia? Kopi luwaknya yang terkenal paling mahal sedunia atau pulau Bali yang kesohor ke mana-mana karena demikian eksotisnya, belum lagi Komodo sang naga prasejarah.

Dan kini ada satu lagi yang mengguncang dunia, yaitu film eksyen The Raid (judul dalam Bahasa Indonesia "Serbuan Maut"), yang memukau banyak kalangan, termasuk pada Festival Film Sundance di Amerika Serikat.

Louis Virtel menulis dalam movieline.com bahwa The Raid akan mengguncang jagat perfilman dunia. "Saatnya Indonesia unjuk gigi," katanya seperti dikutip movieline.com.

The Raid adalah film aksi yang mampu membuat dunia membuka matanya untuk Indonesia . Selain di Sundance, film garapan Gareth Evans ini diputar pada Festival Film Internasional Toronto.


 


Para kritikus dan penonton film ini memuji The Raid sebagai salah satu film aksi terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

Virtel sampai mengomentari triler film ini yang disebutnya paling keras, paling kasar, paling berdarah dan paling bertempo cepat yang pernah dia saksikan.

"Begitu cepat, begitu menghentak bagaikan neraka," kata Virtel tentang film yang juga dibintangi aktor senior Ray Sahetapy itu.

Film ini digadang-gadangkan akan menjadi 'hits' pada 2012, bukan hanya karena skoring musik luar biasa yang dibuat Mike Shinoda dari grup musik cadas Linkin Park dan Joe Trapanese.

Aksi dalam film ini memang sungguh sangat luar biasa dan nyata, tidak seperti kebanyakan film aksi lainnya yang dirasa 'kurang mengigit', demikian ulasan Jen Yamato dalam celebrities.com.

Movieline.com dan Celebrities.com menyebut film berlatar pasukan khusus Polri yang memburu mafia terjahat di Jakarta ini menampilkan banyak aksi berdarah, ledakan bahan kimia dan silat, seperti film Evan sebelumnya "Merantau" yang dirilis pada 2009.

Iko Uwais, sang pemain utama film ini, disebut Celebrities.com berperan dengan sangat baik. Mampu memberikan nuansa interaksi antar manusia yang humanis, diantara carut marutnya kehidupan kriminalitas dan korupsi di Jakarta.

Saking mengejutkan dan luar biasanya film ini, distributor film kelas dunia Sony Pictures Worldwide mau memegang hak distribusinya untuk Amerika Serikat.

Hak pendistribusian disusul oleh negara-negara lain seperti Kanada, Inggris, Australia, Perancis, Jepang, Jerman, Cina dan Turki.

sumber : antaranews

Selasa, 31 Januari 2012

10 Film Indonesia Terlaris Tahun 2011

Di atas kertas, 2011 adalah tahun yang buruk bagi sinema Indonesia. Jumlah penonton menurun. Apabila tahun sebelumnya film Indonesia ditonton sekitar 16 juta orang, tahun 2011 sekitar 14 juta orang saja. Fakta yang mengkhawatirkan, apalagi kalau mengingat film Indonesia pernah meraup 30 juta penonton lebih di tahun 2009 dan 2008. Padahal, jumlah film yang beredar tidak berbeda jauh tiap tahunnya: 88 film pada tahun 2008, 80 film pada tahun 2009, 82 film pada tahun 2010, dan 84 pada tahun 2011. Berarti, tahun 2011, rata-rata penonton per film adalah 176 ribu. Bandingkan dengan rata-rata tahun 2010: 195 ribu orang per film. Pertanyaannya: mengapa jumlah penonton menurun terus, dan bagaimana bisa tahun 2011 hanya lima persen penduduk yang menonton film nasional?

Nah berikut ini film Indonesia paling laris sepanjang 2011 berdasarkan jumlah penonton seperti dilansir filmindonesia.or.id;

10. Catatan Harian Si Boy – 450.000 penonton


Sutradara: Putrama Tuta
Pemeran: Ario Bayu, Carissa Puteri, Poppy Sovia, Abimana, Paul Foster, Albert Halim, Tara Basro
Tanggal edar: Sabtu, 25 Juni 2011

9. Tendangan dari Langit – 491.077 penonton


Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Yosie Kristanto, Maudy Ayunda, Giorgino Abraham, Jordi Onsu, Joshua Suherman, Natasha Chairani, Agus Kuncoro, Sujiwo Tejo, Yati Surachman
Tanggal edar: Kamis, 25 Agustus 2011

8. Purple Love – 503.133 penonton


Sutradara: Guntur Soeharjanto
Pemeran: Pasha, Makki, Oncy, Rowman, Enda, Qory Sandioriva, Nirina Zubir, Kirana Larasati
Tanggal edar: Kamis, 12 Mei 2011

7. Di Bawah Lindungan Ka’bah – 520.267 penonton


Sutradara: Hanny R Saputra
Pemeran: Herjunot Ali, Laudya Cynthia Bella, Niken Anjani, Tarra Budiman, Jenny Rachman, Widyawati, Didi Petet, Leroy Osmani, Ajun Perwira, Akhmad Setyadi
Tanggal edar: Kamis, 25 Agustus 2011

6. Tanda Tanya (?) – 552.612 penonton


Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Reza Rahadian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Henky Solaiman, Edmay Solaiman, Glenn Fredly, Baim, David Chalik, Deddy Sutomo
Tanggal edar: Kamis, 07 April 2011

5. Get Married 3 – 563.942 penonton


Sutradara: Monty Tiwa
Pemeran: Nirina Zubir, Fedi Nuril, Amink, Ringgo Agus Rahman, Deddy Mahendra Desta
Tanggal edar: Sabtu, 27 Agustus 2011

4. Poconggg Juga Pocong – 617.482 penonton


Sutradara: Chiska Doppert
Pemeran: Ajun Perwira, Nycta Gina, Saphira Indah, Rizky Mocil, Guntur Triyoga
Tanggal edar: Kamis, 24 November 2011

3. Hafalan Shalat Delisa – 631.997 penonton


Sutradara: Soni Gaokasak
Pemeran: Chantiq Schagerl, Fathir Muchtar, Mike Lewis, Nirina Zubir, Reza Rahadian
Tanggal edar: Kamis, 22 Desember 2011

2. Arwah Goyang Karawang – 727.540 penonton


Sutradara: Helfi Kardit
Pemeran: Julia Perez, Dewi Perssik, Erlando, Ajeng Kraton, Bembi Zaenal
Tanggal edar: Kamis, 10 Pebruari 2011

1. Surat Kecil Untuk Tuhan – 748.842 penonton


Sutradara: Harris Nizam
Pemeran: Alex Komang, Dinda Hauw, Dwi Andhika, Esa Sigit, Ranty Purnamasari, Egi John Foreisythe
Tanggal edar: Kamis, 07 Juli 2011

Senin, 30 Mei 2011

TEBUS, Menagih Dendam Nyawa


Pemain: Tio Pakusadewo, Chintami Atmanegara, Revaldo, Sheila Marcia Joseph, Jajang C Noer, Preddi Prahman.

Bagi Rony Danuatmaja (Tio Pakusadewo) menjaga nama baik dan kebesaran keluarga adalah di atas segalannya. Meski harus berkorban darah dan nyawa Rony rela demi nama baik keluarga. Meskipun mendulang sukses dalam bisnis, Rony tak kuasa menanggung derita atas kematian anaknya Alaric (Revaldo). Anak sulung yang digadang-gadang sebagai penerus satu-satunya kerajaan bisnis Danuatmaja ditemukan tewas di kamarnya karena overdosis. Tak terima dengan kematian anaknya, Rony menyalahkan anak pembatunya Joko (Preddi Prahman) yang selama ini ternyata mencarikan barang haram untuk anaknya.

Joko dilaporkan ke polisi kemudian disidang dan dihukum mati. Sukatmini (Jajang C Noer) meminta belas kasihan Rony supaya anaknya dibebaskan namun tidak dianggap. Usaha pembebasan Joko juga dilakukan adiknya, Sulis (Anneke Jody). Sulis memohon pembebasan pada Rony, namun tidak digubris.

Terpukul karena kejadian itu, Rony, Sisca (Chintami Atmanegara) bersama kedua anaknya yang lain, Ludmilla (Sheila Marcia Joseph) dan Karissa (Luna Sabrina), kemudian pergi ke villa mereka untuk menenangkan diri.

Namun harapan mereka ternyata jauh dari kenyataan. Di villa tersebut, keluarga Danuatmaja justru dihadapkan pada terror yang menanti dan membuat nyawa mereka lalu berada di ujung tanduk.

Karena mendapat teror, Rony mengambil senapan untuk berburunya sebagai pertahanan diri. Kejadian-kejadian yang tidak diinginkan datang satu per satu tanpa bisa dikendalikan. Puncak dari peristiwa mencekam tersebut Rony digelandang ke air terjun bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Untuk menyelamatkan istri dan anaknya, Rony menawarkan sejumlah uang kepada penculik dan minta izin anak dan istri dilepasin. Namun permintaan itu tidak digubris. Saat ada kesempatan istrinya dorong ke air terjun. Anaknya disuruh naik ke bukit. Mendapati buronnannya lari, Rony disiksa digantung di pohon.

Nasib baik berpihak padanya, perlawanan Rony berhasil, pemuda bertopeng mati. Tak sangka Karissa datang bersama dengan Jiman, anak ragil dari pembantunya Sukatmini. Namun harapan untuk segera bebas dan berkumpul bersama keluarga masih terlalu jauh. Jiman yang selama ini terlupakan membawa cerita yang sama sekali tidak Rony duga. Dari cerita Jiman, barulah Rony tahu kesalahan besarnya. Sisca yang berhasil selamat, kembali ke Rony untuk menyelamatkannya. Kebebasan menjelang di depan mata. Rony ternyata belum juga lega. Karena Rony harus menutup aib untuk menjaga nama baik keluarganya.

Kuatnya skenario film ini didukung juga oleh kuatnya acting Tio Pakusadewo dan Jajang C Noer. Aroma mencekam sepanjang film terasa sekali. Dengan alur campuran, penonton akan dibawa bersama mencari misteri yang sesungguhnya. Dari segi cerita dan penokohan film ini berhasil. Namun, karena lebih mengandalkan aspek cerita, beberapa adegan darah tidak tergarap baik. Karena memasang genre thiller, efek darah memegang peran peran penting. Penyiksaan sedemikian rupa tanpa kucuran darah rasanya kurang mantap.

Genre:Thriller
Jadwal Tayang:31 Maret 2011
Sutradara:Muhammad Yusuf
Produser:Sarjono Sutrisno
Produksi:Skylar Pictures
Durasi:100 Meni

SI ANAK KAMPOENG


Pemain: Radhit Syam, Pong Harjatmo, Virda Anggraini, Ayu Azhari, Lucky Moniaga, Maya Ayu Permata Sari, Ingrid Widjanarko, Elmendy, Mohammad Firman, Ayu Gumay.

Mengangkat kisah hidup Syafii Maarif yang pernah menjabat sebagai ketua PP Muhammadiyah, film ini menjadi biografi otentik. Digambarkan dengan jelas melalui setting tahun 1930-1950, film ini diawali dengan kelahiran Syafii Maarif. Pemuda yang dipanggil Pi'i adalah anak seorang yang terpandang di nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Sang ayah menginginkan Pi'i menjadi seperti dirinya dan mendorong masyarakatnya untuk maju.

Sementara Onga Sanusi, seorang tokoh dan pengajar Muhammadiyah yang menjadi idola Pi'i berpikiran berbeda. Ia yakin Syafii dapat menjadi lebih daripada ayahnya dan pergi merantau untuk menimba ilmu. Masa kemerdekaan dan pemberontakan, merupakan masa sulit bagi Pi'i untuk melanjutkan pendidikannya. Selain harus merantau untuk melanjutkan sekolah, kondisi keuangan ayahnya juga bangkrut akibat perekomian anjlok paska pemberontakan. Di tengah kerinduan akan bundanya yang telah pergi selamanya, Syafii harus berhadapan dengan banyak kendala yang terlalu besar untuk dirinya, sehingga sebuah pertanyaan pun timbul. Terlalu mahalkah harga untuk mengejar mimpinya? Dan apakah akhirnya kehidupan bermurah hati pada mereka yang terus berusaha menggapai mimpi?

Dengan soundtrack lagu terbatas, pengulangan lagu di film ini akan membuat penonton cenderung bosan. Apalagi ditambah dengan alur yang lambat. Keindahan alam bisa menjadi poin plus.

Genre:Drama
Jadwal Tayang:21 April 2011
Sutradara:Damien Dematra
Produser:Fajar Riza Ul Haq, Damien Dematra
Penulis:Damien Dematra
Produksi:Maarif Production, Damien Dematra Production
Durasi:105 Menit

Minggu, 29 Mei 2011

'BATAS', Dilema di Batas Negara


Pemain: Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Ardina Rasti, Otig Pakis.

Jaleswari (Marcella Zalianty), dengan ambisi dan kepercayaan diri yang penuh, mengajukan diri untuk megambil tanggung jawab memperbaiki kinerja program CSR bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan. Dia menyanggupi masuk ke daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan dan menjanjikan dalam dua minggu ketidakjelasan itu dapat diatasi.

Ternyata suatu kehendak belum tentu sejalan dengan dengan kenyataan. Daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri. Mereka memiliki titik pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Mereka tidak terlalu perduli tentang kawasan batas negara. Mereka hidup dengan kesadaran wawasan budaya Dayak yang tidak terpisahkan oleh demarkasi batas politik. Peristiwa kehidupan yang unik membawa Jaleswari dalam situasi yang pelik. Konflik batin terjadi ketika dia terperangkap pada masalah kemanusiaan yang jauh lebih menarik dan menyentuh dibanding data perusahaan yang sangat teoritis dan teras kering karena pada hakekatnya masalah rasa sangat relatif dan memiliki kebenaran yang berbeda.

Jaleswari berada dalam tapal batas pilihan. Karisma hutan dan pola hidup masyarakat telah menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat istiadat setempat. Peristiwa kehidupan manusia yang melanggar adat dan mampu menyengsarakan sesamanya tergelar jelas di depan mata. Jaleswari sangat memahami Adeus, seorang guru yang dipercayakan menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam dan apatis, karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Masyarakat lebih memilih untuk menjadi tenaga kerja yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama Otik. Salah satu korbanya adalah Ubuh (Ardina Rasti), pekerja TKI yang melarikan diri dari negara tetangga. Oleh masyarakat Dayak di sana, Ubuh tak hanya memperoleh perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih dari trauma.

Tragedi kemanusiaan ini, merubah pemikiran Jaleswari. Semua peristiwa terjadi di depan matanya. Jiwanya goncang dan Panglima Dayak (Piet Pagau), kepala suku menuntunnya memahami 'bahasa hutan' yang mengetengahkan rasa hormat dan cinta untuk tidak merusak, dan malah sebaliknya menjaga dan meningkatkan harkat manusia dan lingkungan kehidupannya. Langkah Jaleswari sangat membantu Arif (Arifin Putra) sebagai instrumen negara yang dalam penyamaran dan ditugaskan di wilayah perbatasan.

Cerita ini menarik dengan mengajak kita ke lokasi terluar Negara Republik Indonesia. Kecantikan alam dan kearifan lokal memberi penonton suguhan berbeda. Hanya sayang, cerita yang panjang dan bertele-tele justru terkesan membosankan. (kpl/uji/nat)

Genre:Drama
Jadwal Tayang:19 Mei 2011
Sutradara:Rudi Soedjarwo
Produser:Marcella Zalianty
Produksi:Keana Production & Communication
Durasi:-