Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

Makam Gandrung di Kabupaten Banyuwangi

SEBUAH kompleks makam tua ter dapat di tepi pantai Semenanjung Sembulungan. Bangunan tersebut terlihat cukup menonjol di antara gubuk-gubuk lain di pantai berpasir putih tersebut. Kom pleks makam itu juga dikelilingi pagar tembok. Gerbangnya juga lumayan ko koh dengan tulisan “Selamat Datang” di bagian atasnya. Tepat pada sisi utara kompleks tersebut ada makam.

Bangunan inti makam itu dikelilingi tembok dan ditutup atap genting. Lantai bangunan dilapisi keramik warna putih Namun, lantaran tidak ada juru kunci yang merawat makam tersebut, kawasan tersebut terkesan kurang bersih. ‘’Memang tidak ada juru kuncinya. Hanya sesekali saja kalau ke betulan ke sini, kami yang menyapu dan membersihkan,’’ ujar Sunamin, seorang nelayan asal pesisir Tratas, Kecamatan Muncar.
Tepat di tengah bangunan itu ter dapat tirai putih, semacam kain kafan, yang mengelilingi se kaligus menutup makam. Jarak kain pembatas dengan makam sekitar 1,5 meter. Kain itu dipasang mirip seperti penutup dipan (tempat tidur) kuno yang berfungsi sebagai pelindung nyamuk. Ketika tirai tersebut dibuka, ter lihat dua makam yang posisinya berdampingan. Dilihat dari bentuk dan jenis nisannya, makam tersebut diperkirakan su dah berumur puluhan hingga ratusan tahun.

Namun, sejarah asal-muasal makam tersebut masih belum begitu jelas. Itu lantaran banyak versi yang berkembang di masyarakat terkait sosok tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut. Salah satu versi yang beredar di masyarakat Muncar, makam ter sebut merupakan makam se pasang penari gandrung di masa lalu. Konon, saat itu tengah digelar upacara tradisi petik laut di Perairan Muncar. Lantaran sesaji yang di berikan dalam tradisi itu kurang lengkap, muncullah petaka di tengah laut.

Sepasang penari gandrung itu meninggal dunia saat upacara petik laut itu. Selanjutnya, jenazahnya di makamkan di Tanjung Sembulungan tak jauh dari lokasi pem buangan sesaji Petik Laut. Karena itu, ada warga yang menyebut makam tersebut merupakan makam Mbah Gandrung. Sementara itu, versi lain menyebutkan, makam tersebut merupakan makam Sayid Yusuf.

Sayid Yusuf dikenal sebagai tetua nelayan Muncar. Pada se tiap kegiatan petik laut Muncar selalu diadakan ziarah ke ma kam tersebut. Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf sangat menyukai Gandrung, sehingga ku burannya disebut dengan makam gandrung. Bahkan, setiap pe tik laut, kesenian Gandrung dipentaskan di sekitar makam. Itu untuk menghormati sang tetua.

Versi lain menyebutkan, kompleks tersebut adalah makam Mbah Kalong. Namun, referensi yang menyebutkan tentang figur Mbah Kalong itu sangat minim. Biasanya, warga Banyuwangi, Situbondo, dan sekitarnya, yang berziarah kelokasi itu menyebut makam itu se bagai tempat peristirahatan yang terakhir Mbah Kalong. Ada pula yang menyebut makam ini sebagai makam keramat Mbah Agung Kalong. sumber : radar Banyuwangi

Minggu, 23 September 2012

Jangan Panggil Aku Dukun Part 1 (kisahku)

Tak terasa waktu sudah semakin lama berlalu, di mana aku akhirnya menerjuni dunia supranatural yang benar - benar jauh dari apa yang selama ini aku khayalkan dan yang selalu ada dalam benakku. 

Awalnya aku hanya coba - coba ketika aku duduk di bangku kuliah untuk meneruskan program magisterku di salah satu kampus swasta di kota Surabaya. Dari sinilah akhirnya dunia baru terbentang di depanku, di hindari ataupun tidak inilah dunia baruku.

Selang berapa bulan karena aksi coba - coba ku ini akhirnya keterusan, yha supranatural atau bentuk kasarnya dukun .....hahhahaha ....ohh tidak aku tidak mau jadi dukun itu yang selalu terlintas dalam fikiranku sampai saat ini. 

Di terima ataupun tidak tidak sedikit orang yang meminta pertolonganku, akhirnya aki tasbihkan diriku menjadi parapsikolog bukan seorang dukun.

Kini aku baru sadar bahwa mungkin dengan jalan ini aku mengabdikan diriku untuk sesama, tak sedikit orang yang mencibirku atau menertawakanku. huffff .....kerikil kecil itu ternyata lebih sakit bila ku injak dari pada sebongkah batu.

Saya masih ingat ketika salah seorang yang menyebutku "dukun palsu", saya hanya tersenyum mendengarnya. Karena memang sedari awal saya tidak mau di sebut dukun. 

Sampai tiba masanya ternyata ini juga membantu diriku agar tak tersesat di gelapnya dunia, ini sebagai penuntunku untuk menemukan dunia yang hakiki. 

Banyak kepalsuan manusia yang akhirnya kutemui, inilah dasar inspirasiku untuk memulainya dan bukan coba-coba lagi. Meskipun saya menekuni dunia supranatural tapi cita-cita tetap tersemat di dada hingga akhirnya ku putuskan kembali untuk menyelesaikan program magisterku. semoga bisa selesai. amien !!!

Rabu, 13 Juni 2012

Mister Pura Giri Selaka Alas Purwo Banyuwangi


Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi

Ingin Jadi Sumbu Kebangkitan Majapahit

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, ”Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit.

” Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi, sehingga kini ada kebanggaan bagi mereka untuk kembali ke agama Hindu. Semangat itulah yang menyertai pelaksanaan piodalan di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, pada hari Pagerwesi, Rabu (11/9) lalu. Bagaimana kondisi umat Hindu di sekitar Ala Purwo saat ini? Masalah apa yang dihadapi umat Hindu di sana untuk kembali kepada jati diri sebagai Hindu?

Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi orang pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Lantas apa hubungannya antara Pura Giri Selaka dan Alas Purwo itu?

Itulah fenomena yang tampaknya mengiringi keberadaan hampir semua pura bersejarah, tidak saja di Bali namun juga di Jawa. Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pemedek mesti memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju Pura Giri Selaka dengan kondisi jalan yang belum beraspal.

Di kanan-kiri kita hanya berjejer hutan jati, dan jumlah masyarakat yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Bagi pemedek yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat sekitar menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 2.500 per sekali angkut.

Untuk menemukan Pura Giri Selaka, memang harus siap banyak bertanya kepada masyarakat di sepanjang perjalanan. Jika tidak, jangan harap perjalanan bisa lancar, apalagi baru sekali-dua kali ke tempat tujuan. Pasalnya, banyak cabang jalan yang tanpa pelang nama Alas Purwo, sehingga perjalanan dari Bali menuju Alas Purwo bisa kita tempuh 9-10 jam dengan kondisi seperti itu.

Pura Giri Selaka berada di tengah hutan dan sekitar tiga kilometernya adalah kawasan wisata pantai Plengkung, bibir Alas Purwo itu sendiri. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Kalau mau bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. Meski tersedia sejumlah penginapan, tampaknya para pemedek yang ingin tangkil ke Pura Giri Selaka lebih memilih makemit di areal pura. Apalagi, areal pura saat ini telah mencapai luas dua hektar hasil pemberian Menteri Kehutanan sebagai penanggung jawab Taman Nasional bersangkutan.

Menurut sesepuh umat Hindu Tegaldlimo, Pemangku Ali Wahono, sebetulnya Pura Giri Selaka ditemukan secara tidak sengaja oleh umat di sekitarnya pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di sekitar pura pun tampak cukup makmur dengan hasil palawijanya. Suatu ketika, di tempat berdirinya Pura Alas Purwo yang oleh masyarakat disebut Situs Alas Purwo, ada sebuah gundukan tanah.

Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tanpa diduga, ada bungkahan-bungkahan bata besar yang masih tertumpuk. Persis seperti gapura kecil. Lantas masyarakat sekitarnya membawa bungkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah. Rupanya, keluguan masyarakat itu telah menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut.

Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semuanya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula. Bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapakan maharesi suci Hindu zaman dulu. Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali. Selanjutnya, masyarakat setempat sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut. Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan.

Kemudian ada upaya dari pihak Dinas Purbakala untuk menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang mayoritas bertempat tinggal di sekitar Mariyan — nama kawasan yang telah dibabat hutannya itu — tetap meyakini kalau situs itu adalah milik nenek moyang Hindu zaman dulu. Untuk menghindari adanya kejadian yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Sementara situs itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan bagi semua umat manusia, tak terbatas hanya umat Hindu.

Bicara soal kesucian dan keajaiban situs Alas Purwo ini, memang berderet peristiwa menjadi pengalaman masyarakat penyungsung-nya. Itulah sebabnya, sejumlah pejabat maupun mantan pejabat terkenal pernah melakukan pemujaan di situs Alas Purwo ini. Tujuannya pun bermacam-macam. ”Hampir semua yang di-tunas, kesuecan Ida Batara yang malinggih di sini. Hanya, semua kembali kepada swakarma-nya,” ujar Mangku Adi, salah seorang pemangku setempat. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1972 ada kebijakan Departemen Kehutanan dan Perkebunan untuk menagih kembali lahan hasil rabasan penduduk di kawasan Mariyan tersebut. Secara bertahap lahan dikembalikan menjadi hutan jati seperti sekarang ini, dan semua penduduk yang melakukan perabasan hutan itu kembali ke kampung masing-masing. Proses pengembaliannya ini selesai pada tahun 1975. Setelah itulah, situs Alas Purwo tinggal pada kesendiriannya, jauh dari rumah penduduk.

Meski demikian, Departemen Kehutanan memberikan kebebasan kepada mayarakat yang ingin melakukan persembahyangan atau pun meditasi di situs tersebut. Apalagi, umat Hindu yang kini telah kembali ”pulang” ke kawitan-nya setelah peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 lalu. Mereka beranggapan sekaranglah kebangkitan Hindu itu akan terbukti, setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit pada abad ke-14. Dan, itu salah satunya dimulai dari kerinduan umat Hindu Banyuwangi untuk menelesuri jejak nenek moyangnya. Diharapkan, dari situs Alas Purwo inilah bisa jadi sumbu penghubung Hindu tanah Jawa kelak. * Agus Astapa

Sabtu, 05 Mei 2012

Rumah Adat Banyuwangi


Rumah asli daerah Banyuwangi (Rumah tradisional Orang Osing / sebutan akrab bagi warga asli Banyuwangi) sampai saat ini masih banyak ditempati di berbagai tempat di wilayah kabupaten Banyuwangi, Jawa timur, kususnya di Desa Kemiren yang merupakan warga osing yang masih menjujung tinggi adat-istiadat osing semenjak jaman dulu masa dimana Kerajaan Majapahit masih bertahtah / berdiri.

Ada 4 macam bentuk rumah adat Osing meliputi crocogan, tikel/baresan, tikelbalung, dan serangan.



Bentuk bangunan rumah itu sendiri dibagi dalam tiga ruang, yakni biale (serambi), jerumah (ruang tengah + kamar), dan pawon (dapur).

Di halaman atau sekitar rumah sering dipasang kiling(kitiran bentuknya seperti baling-baling di tancapkan di bambu yang tinggi dan ada berbagai macam bentuk manusia, hewan menyertainya ada yang berbunyi dan ada yang tidak jika baling-baling terhembus angin) sebagai media hiasan atau hiburan.

Jumat, 10 Februari 2012

Sang Kamaratih


semilir angin wayah wengi nggawa rasa jroning ati

rasa kang ora bisa diwedhar kanthi weninging nalar

saben-saben mung tansah kelingan

pengin tansah sesandhingan

hanut runtung reruntungan

kadya mimi lan mintuna

gandeng renteng rerentengan

pindha kamanjaya lan kamaratih

dewa dewining asmara

bebarengan sesandhingan

mecaki endahing dina-dina swarga donya

cah ayu..........

marang sliramu arah pangarasaning atiku tumuju

wanodya kang pindha dewi supraba

sekaring para dewa widhara

Rabu, 08 Februari 2012

Papua Sudah Tertulis di Kitab Nagara Kertagama




Wacana kemerdekaan Papua meruncing menyusul adanya perdebatan bahwa secara historis Papua bukan merupakan bagian dari Nusantara.

Sebagaimana diketahui, pada masa kolonial Belanda kawasan ini dikenal sebagai bagian dari Nugini Belanda dan sejak tahun 1969 dikenal sebagai Irian Barat hingga 1973 berganti nama menjadi Irian Jaya.

Hal ini adalah nama resmi sampai nama Papua diadopsi pada tahun 2002. Hingga saat ini, penduduk asli provinsi ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Papua.

Ihwal perdebatan ini, pemerintah berkeras bahwa Papua adalah bagian dari Negara Kesatun Republik Indonesia (NKRI) dan akan terus mempertahankan pulau kaya sumber daya alam ini sebagai wilayah Nusantara.

Mantan Menteri Sekretaris Negara pada era Presiden Abdurahmad Wahid Bondan Gunawan mengamini bahwa Papua merupakan bagian wilayah paling timur Indonesia.

Hal ini, menurut Bondan, bahkan sudah tertulis dalam buku-buku klasik. Dalam manuskrip massa lalu itu sudah ditulis misalnya di Nagara Kertagama karangan empu prapnaca tertulis wilayah Wanin, ini adalah Papua sekarang,” ujarnya dalam diskusi Polemik SINDO Radio, Sabtu (29/10/2011).

Wanin, dalam Nagara Kertagama disebutkan sebagai bagian dari Nusantara. Buku klasik lain yang menyebut Papua sebagai bagian dari Nuswantara—demikian para budayawan menyebut—adalah manukripnya Empu Walniki pada 1150.

“Dia (Empu Walniki) juga pernah menulis bahwa ada sebuah pulau dengan ciri tertentu yang sama dengan Papua,” imbuhnya.

Minggu, 05 Februari 2012

Sekaten dan Grebeg Maulud, Warisan Abadi dari Solo


 
Slogan Solo, 'The Spirit Of Java' membuat kota ini penuh nuansa tradisi. Salah satunya adalah Sekaten dan Grebeg Maulud yang diadakan tiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini acara yang dinanti masyarakat Solo tiap tahun.



Maulid adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Islam. Banyak tiap daerah di Indonesia yang merayakan perayaan ini. Solo juga menggelar perayaan Maulid Nabi dengan meriah dan khidmat. Ada dua acara penting dan besar, yaitu Sekaten dan Grebeg Maulud. Dua acara besar yang mengundang banyak wisataan untuk melihatnya dari dekat.

Sekaten adalah upacara perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini berlangsung selama 7 hari, yang di tahun ini jatuh pada tanggal 30 Januari-5 Februari 2012. Sekaten merupakan tradisi peninggalan dari Kerajaan Demak. Konon, nama Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain. Ternyata, upacara Sekaten sangat erat dengan sejarah penyebaran agama Islam di Solo.



Selain itu, terdapat pasar malam dalam perayaan Sekaten. Pasar malam berlangsung selama perayaan Sekaten, bahkan berminggu-minggu sebelumnya. Pasar malam tersebut berada di alun-alun utara Solo. Di dalam pasar malam, ada banyak jenis permainan seperti, komedi putar, odong-odong, dan masih banyak lagi. Serta banyak penjual makanan yang menjajakan kuliner-kuliner khas Solo.

Puncak acara sekaten adalah saat Grebeg Maulud. Grebeg Maulud bertepatan pada tanggal 5 Februari besok atau tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam. Dalam Grebeg Maulud terdapat gunungan, yaitu acara puncak dari rangkaian upacara perayaan Maulid Nabi. Gunungan berisi hasil-hasil bumi berupa kacang-kacangan, buah, berbagai macam sayuran dan masih banyak lagi yang disusun melingkar. Hasil-hasil bumi di gununggan adalah hasil-hasil bumi yang terbaik di Solo.



Grebeg Maulud ditandai dengan dikeluarkannya gunungan makanan dari dalam kompleks kraton dan dibawa menuju Masjid Agung Kraton. Gunungan tersebut akan direbutkan oleh masyarakat Solo. Setiap orang akan bersaing sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang berada di dalam gunungan. Bukan hanyak karena kualitas hasil buminya, namun gunungan dipercaya juga menyimpan banyak rezeki dan berkah. Sebelum diperebutkan, gunungan di doakan dulu di dalam keraton agar menjadi berkah bagi masyarakat Solo.

Sebagai warisan dan adat turun menurun, tradisi seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan.

Candi Cetho - Jawa Tengah


Jalanan aspal sempit yang berkelok dan menanjak dengan tebing-tebing curam adalah akses menuju Candi Cetho. Rasa was-was terus membayangi karena takut akan terperosok ke jurang. Tetapi semua perasaan itu akan terbayar ketika tiba di kompleks candi nan eksotis itu. Pemandangan alam yang indah begitu memanjakan mata, sejuknya udara pegunungan menemani penjelajahan saya di Candi Cetho.

Begitu menginjakkan kaki di tangga masuk candi, Anda langsung disambut dengan gapura yang menjulang tinggi. Indahnya tak kalah dengan pura-pura di pulau dewata. Dinginya angin yang berhembus membawa pengunjung seolah-olah berada di kayangan. Patung-patung membisu yang berdiri kokoh merupakan bukti sejarah masa lampau.




Kompleks Candi Cetho yang luas ini berada di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Candi ini memiliki ukuran panjang 190 m dan lebar 30 m, dan berada di ketinggian 1496 mdpl.

Candi Cetho berlatar belakang Agama Hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti ini mirip punden berundak pada masa pra sejarah.


Di sini terdapat Arca Phallus sebagai symbol tempat pemujaan Dewa Siwa. Terdapat pula susunan batu yang berbentuk Lingga-Yoni yang menyatu dengan lambang garuda. Bangunan utamanya berbentuk trapesium, berada di undakan paling atas. Sampai saat ini, Candi Cetho masih digunakan untuk ibadah. Wangi sesajen yang berupa kemenyan dan bunga yang tertiup angin, ditambah dengan pekatnya kabut memberikan kesan misterius.

Jumat, 27 Mei 2011

Siter, alat musik khas Jawa Tengah


Siter adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Siter masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan.

Siter dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Siter dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat).

Nama "siter" berasal dari Bahasa Belanda "citer", yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris "zither".

Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar.

Siter dengan berbagai ukuran adalah instrumen khas gamelan siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis gamelan lain.

sumber: wikipedia

Rabu, 27 April 2011

Serat Darmogandul


Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah, Serat Darmagandul (baca: Darmogandul) bukan lagi nama kitab yang asing di telinga mereka. Apalagi saat ini marak upaya untuk mempublikasikan kembali buku-buku semacam ini. Masyarakat sering menganggap karya sastra ini merupakan buku pegangan bagi kaum Kebatinan. Juga terdapat sejumlah akademisi yang memperbincangkan buku ini dalam wilayah diskursus kebatinan dan kajian sejarah. Sayangnya, watak islamophobia dalam isi Darmagandul nampak begitu kuat. Sejumlah terminologi Islam ditampilkan dengan makna yang jauh dari arti sebenarnya. Dimaknai secara otak-atik sehingga menghasilkan istilah yang berbau “mesum”
Selain itu, Darmogandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, banyak ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.

Anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Lantas, apa missi Darmagandul sesungguhnya? Tulisan ini merupakan ringkasan thesis Susiyanto, mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Solo, yang dimuat di Majalah Suara Hidayatullah bulan Desember 2010.
Menghina Islam
Darmagandul menempati posisi penting dalam kajian sejarah. Padahal banyak terminologi Islam yang digunakan tidak semestinya, bahkan cenderung berbau mesum

Serat Darmagandul menempati posisi strategis dalam kancah referensi kajian sejarah. Di antara yang merujuk kepada serat ini adalah buku “Sejarah Nasional Indonesia II,” karya Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (mantan Menteri P & K), yang menjadi rujukan standar kajian sejarah Indonesia.

Penggunaan Darmagandul sebagai referensi sejarah juga dipraktikan oleh Hasan Djafar dalam buku “Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana dan Masalahnya.”

Cerita semacam Darmagandul ini, dalam kajian sejarah, sering dianggap sebagai sumber tradisi. Sekalipun, secara umum sumber tradisi berupa babad jarang digunakan sebagai sumber sejarah yang terpercaya. Para perujuk, biasanya berpandangan bahwa sumber babad tidak menutup kemungkinan masih menyimpan kesan peristiwa sejarah dari masa lalu, meski bersifat kabur.

Munculnya stigma bahwa “Majapahit runtuh akibat serangan Demak” dalam buku pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, boleh jadi bersumber dari sifat kajian sejarah yang demikian.

Sejumlah karya sastra di Jawa juga terbukti memanfaatkan Darmagandul sebagai rujukan. Ini adalah bukti kesekian kalinya bahwa karya sastra anonim ini diperhitungkan keberadaannya. Sebut misalnya “Sunan Kalidjaga: Andaran Riwajat Gesange lan Donegengan Gegayutan lan Riwajate” karya Sunarno Sisworahardjo dan Wirorahardjo mengambil sebagian sumbernya dari Serat Darmagandul.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa sebagian orang nampaknya dalam posisi menyakini bahwa isi Darmagandul tersebut mengandung nilai kebenaran. Lebih lanjut, maraknya publikasi tentang Darmagandul belakangan ini, seolah hendak menguatkan kecenderungan ini.

Padahal, kebenaran yang ada di dalam Darmagandul sesungguhnya amat lemah.
Salah satu kelemahan Darmagandul adalah penggunaan terminologi Islam dengan makna yang jauh dari arti sebenarnya, bahkan berbau “mesum.” Istilah syariat yang dalam lidah Jawa dilafalkan sebagai sarengat, diplesetkan sebagai ekspresi seksual lelaki yang sedang ereksi.

Kutipan lengkapnya: “Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”

Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui syarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”

Contoh lain penggunaan al-Qur’an. Kitab Suci umat Islam ini ditafsirkan secara serampangan dengan kecenderungan yang sama, mesum. Misalnya, dalam penafsiran Surat al-Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapkan sebagai berikut:

“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”

Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina ...artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri); kitabu la: kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi: perempuan yang pakai kain; hudan: telanjang (bahasa Jawa: wuda); lil muttaqien: sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita ... “

Utak-atik kata dan istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:

“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”

Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”

Masih ada contoh lain. Wali Songo yang diakui berjasa besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, oleh penulis Darmagandul digambarkan sebagai tokoh tidak bermoral, serakah, dan haus kekuasaan.

Diceritakan bahwa Prabu Brawijaya telah berbaik hati memberi kebebasan untuk berdakwah di wilayah Majapahit kepada Wali Songo. Namun setelah dakwah berhasil memperoleh banyak pengikut, para Wali berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja.

Pencitran yang dilakukan pengarang kitab ini terhadap reputasi para Wali, diekspresikan dengan mengartikan wali sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Wali Songo yang diberi kebaikan kemudian membalas dengan keburukan.

Padahal pengislaman di Pulau Jawa merupakan hasil usaha tanpa henti dan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Keberhasilannya pun ditopang oleh sebuah gerakan yang terencana. Pandangan bahwa keberhasilan Islam mengembangkan ajarannya adalah karena ’kebaikan’ hati Prabu Brawijaya V, harus dilihat sebagai bentuk upaya marjinalisasi belaka.

Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan,” yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, karya semacam ini seharusnya sulit menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran