Minggu, 10 Juni 2012

Suster Ngesot vs Satpam, Berawal Iseng, Berlanjut ke Meja Hijau

suster-satpam
Rekaman video stapam tendang "suster ngesot." (dok.ist.)
SUSTER Ngesot adalah salah satu legenda urban terkenal di Tanah Air.
 
Pada Sabtu (10/12) dini hari Suster Ngesot muncul di apartemen Galeri Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat. Namun suster ini bukan sahabat hantu pocong, kuntilanak, jelangkung, genderuwo, dan sundel bolong yang beberapa tahun ini mendominasi bioskop Tanah Air.

Mega Tri Pratiwi (20) menjelma jadi Suster Ngesot untuk memberi kejutan kepada temannya, Fitra Mahaly, yang sedang berulang tahun ke-18. Skenarionya, Mega berpenampilan bak Suster Ngesot di depan pintu lift lantai 17.

Sesuai skenario, Fitra digiring beberapa temannya naik lift. Sebelum “tampil”, Mega lebih dulu memencet tombol lift agar berhenti di lantai 17. Skenario meleset, karena di dalam lift, tidak hanya ada beberapa teman Mega, tapi juga Sunarya, Satpam (petugas keamanan) dan karyawan apartemen.

Akting Mega yang natural sukses membuat temannya takut. Tapi Sunarya tidak. Ia malah menendang sosok yang mirip Suster Ngesot tersebut. Prakkk, sepatu lars Sunarya mengenai wajah Suster Ngesot alias Mega. Hal itu menyebabkan pelipis Mega memar dan gigi bawahnya copot. Seketika penyamaran Mega terbongkar. Kejadian ini rupanya berbuntut panjang dan masuk ke ranah hukum.

suster-ngersot-ist
Mega menunjukkan memar di keningnya. (dok.ist.)
Berniat Memberi Kejutan, Malah Terkena Tendangan

Orangtua Mega tidak terima dengan perlakuan yang diterima anaknya dan melaporkan  kejadian itu ke Polrestabes Bandung pada Sabtu (10/12), dengan delik pengaduan penganiyaan bernomor LP/3340/XII/2011/Polrestabes.
 
Sejak itu pro dan kontra menghiasi insiden yang berawal iseng ini. Ada yang menilai keluarga Mega terlalu arogan, tak sedikit juga yang menyalahkan tindakan Sunarya. Peristiwa ini telah mengundang simpati masyarakat yang memberi dukungan pada Sunarya lewat jejaring sosial Facebook. Kamis (15/12), dukungan masyarakat pada Sunarya menembus angka 12 ribu. “Saya bisa menerima maaf Pak Satpam, tetapi proses hukum harus terus berlanjut,” ucap Mega yang menggelar jumpa pers pada Rabu (14/12) malam di sebuah restoran di Bandung. Mahasiswi Raffles Design Institute Jakarta ini menulis kronologis kejadian yang menimpanya di blog, www.megavandjabir.blogspot.com.

Versi lain diajukan pihak apartemen Galeri Ciumbuleuit. “Tugas Satpam itu melindungi. Tiba-tiba ada Suster Ngesot pada pukul 2 pagi, dia refleks. Maksudnya untuk melindungi orang-orang yang ketakutan di dalam lift,” ujar Ossie Himawan, Director of Public Relations and Communications Bird Management, pengelola  apartemen Galeri Ciumbuleuit.
Jika Mega sudah memberi penjelasan, tidak begitu dengan Sunarya. Satpam yang baru beberapa minggu lalu dianugerahi anak kedua itu masih menghindar dari media. “Tidak disembunyikan. Pak Sunarya sejak Selasa (13/12) sudah bekerja seperti biasa. Hanya dia tidak terbiasa diliput. Sesungguhnya, dia syok dengan peristiwa ini,” jelas Ossie ramah.

Sunarya adalah satpam outsourcing yang bekerja di perusahaan penyedia sekuriti, Wira Garda. Setiap hari ia bolak-balik Malangbong (Garut)-Bandung untuk menafkahi keluarganya. Perjalanan ditempuh selama 2 jam dengan sepeda motor. “Kasihan Kang Sunarya, dia orang kecil yang harus menghadapi  orang yang memiliki kekuasaan dan uang banyak,” ucap salah seorang satpam yang tidak mau disebut namanya.

Sunarya boleh lega karena manajemen apartemen Galeri Ciumbuleuit memberi bantuan hukum kepadanya. “Kami memberi bantuan hukum kepada Pak Sunarya. Insiden ini terjadi saat dia bertugas,” lanjut Ossie ramah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar